Waspada! IHSG Diramal Melemah, Namun 4 Saham “Tahan Banting” Ini Justru Jadi Rekomendasi Analis

Setelah menikmati “September Ceria” di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang cukup solid, kini para investor tampaknya harus kembali memasang mode waspada. Memasuki awal bulan Oktober, sejumlah sentimen negatif baik dari dalam maupun luar negeri diprediksi akan memberikan tekanan pada pasar modal kita. Para analis meramalkan IHSG berpotensi bergerak di zona merah dalam beberapa waktu ke depan.

Namun, di tengah awan mendung prediksi pelemahan ini, ternyata masih ada secercah cahaya. Para pakar pasar modal justru merekomendasikan beberapa saham pilihan yang dianggap “tahan banting” dan berpotensi memberikan keuntungan (cuan) di tengah gejolak. Saham-saham dari sektor defensif seperti consumer goods dan komoditas menjadi primadona. Bagi kamu yang tetap ingin aktif di pasar, ini adalah “contekan” yang sangat berharga.

Sebelum masuk ke rekomendasi saham, penting bagi kita untuk memahami mengapa IHSG diramalkan akan melemah. Ada beberapa faktor utama yang menjadi pemberat.

Dari eksternal, kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global masih menjadi hantu yang menakutkan. Selain itu, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang masih belum pasti arahnya membuat para investor global cenderung wait and see dan memilih untuk mengamankan asetnya di instrumen yang lebih aman.

Dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga menjadi sentimen negatif. Rupiah yang terus loyo bisa memicu inflasi dari barang-barang impor dan menekan kinerja emiten yang memiliki banyak utang dalam Dolar.

Kombinasi dari faktor-faktor inilah yang membuat para analis memproyeksikan IHSG akan bergerak bearish atau cenderung turun dalam jangka pendek.

Lalu, mengapa di tengah prediksi pasar yang lesu, masih ada saham yang direkomendasikan untuk dibeli? Jawabannya terletak pada karakteristik saham-saham tersebut. Saham yang direkomendasikan adalah saham dari sektor defensif. Artinya, ini adalah saham dari perusahaan-perusahaan yang produknya akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat, tidak peduli apapun kondisi ekonominya. Orang akan tetap butuh makan, minum, dan mandi, bukan?

Berikut adalah deretan saham yang menjadi rekomendasi para analis:

  1. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): Siapa yang tidak kenal Indomie? Sebagai produsen mi instan dan berbagai produk makanan-minuman terkemuka, permintaan terhadap produk ICBP cenderung stabil. Saat ekonomi sulit pun, produk mereka tetap dicari. Analis melihat ada potensi kenaikan harga saham ini dalam waktu dekat.
  2. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR): Sama seperti ICBP, Unilever adalah raja di sektor produk kebutuhan rumah tangga (home and personal care). Sabun, sampo, pasta gigi, dan deterjen adalah produk yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Karakteristik inilah yang membuat saham UNVR dianggap sebagai “benteng pertahanan” yang aman di portofolio investor.
  3. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA): Bergerak di sektor agribisnis, terutama pakan ternak dan produksi unggas, JPFA juga masuk dalam kategori defensif. Kebutuhan akan protein hewani seperti ayam dan telur akan selalu ada.
  4. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Sedikit berbeda, ANTM direkomendasikan karena status emas sebagai aset aman (safe haven). Di saat pasar saham bergejolak, harga emas justru cenderung naik karena banyak investor yang “mengungsi” ke logam mulia. Sebagai salah satu produsen emas terbesar di Indonesia, ANTM berpotensi diuntungkan dari tren ini.

Sobat Beranjak, kondisi pasar yang diprediksi akan melemah ini bukanlah alasan untuk panik atau berhenti berinvestasi. Justru, ini adalah ujian bagi kita untuk menjadi investor yang lebih cerdas dan strategis.

Strategi “bertahan” dengan mengakumulasi saham-saham defensif adalah salah satu pilihan yang bijak. Selain itu, kondisi pasar yang sedang turun juga bisa menjadi kesempatan emas untuk “menyerok di bawah” atau membeli saham-saham bagus dengan fundamental kuat di harga yang lebih murah (buy on weakness).

Ingatlah selalu mantra utama dalam berinvestasi: lakukan risetmu sendiri (DYOR). Rekomendasi analis adalah panduan, tetapi keputusan akhir ada di tanganmu. Selamat berinvestasi dengan cerdas!

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait