Sayap Garuda Terluka Lagi: Maskapai Kebanggaan Rugi Rp2,4 Triliun, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Di tengah optimisme pemulihan ekonomi pasca-pandemi, sebuah kabar kurang menggembirakan datang dari maskapai kebanggaan kita. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melaporkan kinerja keuangannya untuk paruh pertama tahun 2025, dan angka-angka yang tersaji menunjukkan bahwa perjuangan mereka masih belum usai. Maskapai pelat merah ini mencatatkan kerugian bersih yang membengkak hingga mencapai Rp2,42 triliun.

Angka ini sontak menjadi sorotan, memicu diskusi hangat di kalangan analis ekonomi hingga para wakil rakyat di parlemen. Kerugian ini naik cukup signifikan, sekitar 41%, jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Tentu, ini memunculkan pertanyaan besar bagi kita semua: Mengapa di saat industri penerbangan lain mulai bangkit, Garuda masih harus berjuang begitu keras? Apa saja beban yang menekan sayap sang garuda hingga sulit untuk terbang tinggi?

Jika kita bedah lebih dalam laporan keuangannya, akar masalah dari kerugian ini cukup kompleks. Pendapatan usaha Garuda sebenarnya tidak buruk-buruk amat, bahkan jumlah penumpang yang diangkut pun menunjukkan peningkatan. Ini artinya, minat masyarakat untuk terbang bersama Garuda masih sangat tinggi. Namun, masalahnya ada di sisi pengeluaran atau “beban usaha” yang ternyata jauh lebih besar dari pemasukan.

Ada dua pos pengeluaran raksasa yang menjadi biang keladinya. Pertama adalah beban operasional penerbangan, yang mencapai lebih dari US765juta.Angkainimencakupbiayabahanbakar(avtur),biayasewapesawat,hinggagajikru.Kedua,daniniyangcukupkritis,adalah∗∗bebanpemeliharaandanperbaikanarmada∗∗yangangkanyamenembusUS319 juta. Dua pos ini saja sudah “memakan” lebih dari 70% total beban usaha Garuda.

Selain itu, Garuda juga masih menanggung “luka” dari masa lalu, yaitu beban keuangan dari utang-utang yang direstrukturisasi. Meskipun restrukturisasi utang beberapa waktu lalu sempat menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan, cicilan dan bunganya tetap menjadi beban berat yang harus ditanggung secara rutin. Kondisi ini membuat neraca keuangan perusahaan menjadi tidak sehat, di mana total utang (liabilitas) jauh lebih besar dari total aset yang dimiliki, menyebabkan ekuitas perusahaan menjadi negatif.

Kondisi “berdarah-darah” ini tentu saja mengundang reaksi keras dari DPR RI. Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan jajaran direksi, para legislator mempertanyakan efektivitas suntikan dana negara yang telah diberikan sebelumnya. Mereka mendesak adanya sebuah reformasi total yang “luar biasa dan spektakuler” untuk menyelamatkan Garuda, bukan sekadar langkah-langkah biasa.

Anggota dewan menyoroti bahwa masalah Garuda bukan hanya soal rugi-laba, tetapi juga menyangkut kewajiban kepada karyawan yang belum tuntas, utang kepada para vendor, hingga penugasan rute-rute perintis yang secara bisnis tidak menguntungkan namun harus dijalankan sebagai bagian dari pelayanan publik. Ini adalah dilema klasik sebuah BUMN: harus bisa mencetak laba, tetapi juga punya tanggung jawab sosial.

Meskipun gambaran keuangannya terlihat suram, bukan berarti tidak ada harapan. Manajemen Garuda sendiri menyatakan bahwa fokus utama mereka saat ini adalah membangun fondasi yang kokoh agar bisa kembali profit secara berkelanjutan. Beberapa langkah strategis yang sedang dan akan dilakukan antara lain adalah optimalisasi rute-rute yang menguntungkan, menambah dan meremajakan armada, serta memperkuat sinergi dengan anak usahanya seperti Citilink dan GMF AeroAsia.

Bagi kita, Generasi Nusantara, nasib Garuda Indonesia adalah cerminan dari tantangan besar yang dihadapi BUMN kita. Ini adalah isu yang lebih besar dari sekadar tiket pesawat. Ini tentang bagaimana kita mengelola aset bangsa, tentang efisiensi, transparansi, dan keberanian untuk melakukan perubahan fundamental.

Mari kita terus kawal dan dukung upaya penyehatan Garuda. Karena bagaimanapun juga, Garuda bukan sekadar maskapai. Ia adalah simbol, duta bangsa yang membawa nama Indonesia terbang melintasi awan. Kita semua berharap, setelah melewati turbulensi hebat ini, sayap sang garuda bisa kembali mengepak gagah dan terbang lebih tinggi.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait