Pesan Tegas Prabowo untuk Generasi Muda: Kuasai AI atau Kita Tertinggal Jauh!

Di tengah dinamika dunia yang berubah secepat kilat, sebuah pesan penting dan sangat relevan datang dari pucuk pimpinan tertinggi negeri ini. Presiden Prabowo Subianto, dalam beberapa kesempatan, secara spesifik menyoroti satu hal yang ia anggap sebagai kunci masa depan bangsa: penguasaan teknologi, terutama Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI).

Ini bukan lagi sekadar imbauan, melainkan sebuah “perintah” strategis yang ditujukan langsung kepada kita, Generasi Nusantara. Prabowo, dengan gayanya yang lugas, seolah ingin mengatakan: lupakan sejenak debat-debat yang tidak produktif, arahkan energimu untuk menguasai AI dan teknologi turunannya seperti ChatGPT, atau Indonesia akan selamanya menjadi penonton dalam perlombaan global.

Secara cerdas dan berwawasan, kita perlu memahami mengapa Presiden begitu menaruh perhatian pada AI. Beliau melihat AI sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah gelombang disrupsi dahsyat yang bisa melenyapkan banyak pekerjaan konvensional dan membuat negara-negara yang gagap teknologi semakin tertinggal. Namun di sisi lain, jika berhasil “ditaklukkan”, AI adalah alat paling ampuh untuk mengakselerasi kemajuan bangsa.

Bayangkan, AI bisa membantu kita meningkatkan produktivitas pertanian, menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang lebih presisi, mereformasi birokrasi menjadi lebih efisien, hingga memperkuat sistem pertahanan kita. Potensinya tidak terbatas. Visi Prabowo jelas: Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen atau pasar bagi produk-produk AI dari luar negeri. Kita harus menjadi pemain, inovator, dan produsen.

“Kita tidak bisa tidak, kita harus menguasai ilmu, kita harus menguasai teknologi, kita harus menguasai Artificial Intelligence. Kita harus rebut teknologi itu,” begitu kira-kira esensi dari pesan yang selalu ia ulang.

Pesan Prabowo ini sejatinya adalah sebuah panggilan untuk melakukan “revolusi otak” secara massal. Ini adalah tantangan langsung bagi sistem pendidikan kita dan bagi kita semua secara individu.

  • Untuk Sistem Pendidikan: Kurikulum kita harus segera beradaptasi. Pelajaran tentang coding, analisis data, dan etika AI harus mulai diperkenalkan sejak dini. Kita tidak bisa lagi mencetak lulusan yang hanya jago menghafal, tetapi gagap dalam menyelesaikan masalah dan beradaptasi dengan teknologi.
  • Untuk Kita, Generasi Muda: Jangan lagi menunggu disuapi. Inisiatif untuk belajar ada di tangan kita. Dunia internet telah menyediakan ribuan kursus gratis tentang AI, machine learning, dan berbagai keterampilan digital lainnya. Rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus belajar (lifelong learning) adalah modal terbesar kita.

Ini adalah sebuah visi yang sangat optimistis dan memotivasi. Presiden telah memberikan arahannya. Kini, bola ada di tangan para menteri di kabinetnya untuk menerjemahkan visi ini menjadi kebijakan yang konkret, dan ada di tangan kita untuk menyambut tantangan ini dengan aksi nyata.

Kita tidak sedang bicara tentang masa depan 20 atau 30 tahun lagi. Perlombaan penguasaan AI sedang terjadi sekarang, hari ini. Setiap hari keterlambatan kita adalah sebuah kerugian besar.

Mari kita, Sobat Beranjak, jawab panggilan ini. Mari kita buktikan bahwa Generasi Nusantara bukanlah generasi yang manja atau rebahan, tetapi generasi pembelajar yang adaptif dan siap bersaing. Mari kita isi linimasa media sosial kita tidak hanya dengan konten hiburan, tetapi juga dengan diskusi dan karya-karya inovatif di bidang teknologi. Mari kita Beranjak, kuasai AI, dan rebut masa depan itu untuk Indonesia.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait