Momen Bersejarah Setelah 50 Tahun: NASA Umumkan 4 Manusia Pertama yang Akan Kembali ke Bulan!

Sebuah pengumuman yang telah ditunggu-tunggu oleh seluruh dunia selama lebih dari 50 tahun akhirnya tiba. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), dalam sebuah siaran langsung yang disaksikan oleh jutaan pasang mata, secara resmi memperkenalkan empat nama astronaut yang akan mengemban misi paling ambisius dalam satu generasi: terbang mengelilingi Bulan dalam misi Artemis II.

Ini bukan fiksi ilmiah. Ini adalah momen bersejarah yang nyata. Setelah era Apollo berakhir pada tahun 1972, inilah untuk pertama kalinya umat manusia akan kembali mengirimkan astronautnya keluar dari orbit rendah Bumi dan menuju ke sekitar Bulan. Keempat astronaut ini akan menjadi saksi mata langsung dari pemandangan planet Bumi yang mengambang di kegelapan angkasa, sebuah pemandangan ikonik yang terakhir kali dilihat oleh manusia setengah abad yang lalu.

Bagi kita, Generasi Nusantara, yang tumbuh besar dengan cerita-cerita pendaratan di Bulan sebagai legenda masa lalu, pengumuman ini adalah sebuah kebangkitan. Ini adalah sinyal bahwa era baru penjelajahan antariksa yang lebih canggih, lebih inklusif, dan lebih menakjubkan telah dimulai.

Dunia menahan napas saat nama-nama ini diumumkan. Mereka adalah para pahlawan modern yang akan membawa harapan seluruh umat manusia di pundak mereka. Siapa sajakah mereka?

  1. Reid Wiseman (Komandan Misi): Seorang astronaut veteran Angkatan Laut AS yang pernah tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Pengalamannya akan menjadi kunci dalam memimpin misi ini.
  2. Victor Glover (Pilot): Astronaut NASA keturunan Afrika-Amerika pertama yang akan melakukan perjalanan ke Bulan. Kehadirannya menjadi simbol penting dari inklusivitas dalam penjelajahan antariksa.
  3. Christina Koch (Spesialis Misi 1): Pemegang rekor sebagai perempuan yang melakukan penerbangan antariksa tunggal terlama. Ia akan menjadi perempuan pertama yang terbang melampaui orbit rendah Bumi.
  4. Jeremy Hansen (Spesialis Misi 2): Seorang astronaut dari Badan Antariksa Kanada (CSA). Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang non-Amerika akan ikut serta dalam perjalanan menuju Bulan, menandai era kolaborasi internasional.

Keempatnya akan menjadi awak dari wahana antariksa super canggih, Orion, yang akan diluncurkan oleh roket terkuat di dunia, Space Launch System (SLS).

Penting untuk dicatat, misi Artemis II yang dijadwalkan akan berlangsung selama 10 hari ini tidak akan mendarat di Bulan. Misi ini adalah sebuah uji terbang berawak (crewed test flight) yang dirancang untuk menguji semua sistem pendukung kehidupan, komunikasi, dan navigasi Orion di lingkungan angkasa dalam (deep space).

Mereka akan terbang lebih jauh dari manusia mana pun sebelumnya, mengelilingi sisi jauh Bulan, sebelum akhirnya kembali dan melakukan manuver pendaratan berkecepatan tinggi di Samudra Pasifik. Keberhasilan misi Artemis II ini akan menjadi ‘lampu hijau’ dan membuka jalan bagi misi Artemis III beberapa tahun mendatang, yang tujuannya adalah untuk benar-benar mendaratkan manusia—termasuk perempuan pertama dan orang kulit berwarna pertama—di permukaan kutub selatan Bulan.

Sobat Beranjak, kembalinya manusia ke Bulan ini bukan sekadar pengulangan sejarah. Ini adalah sebuah lompatan raksasa untuk masa depan.

  • Inovasi Teknologi: Proyek Artemis mendorong lahirnya ribuan inovasi teknologi baru, mulai dari material roket, sistem daur ulang, hingga kecerdasan buatan, yang banyak di antaranya akan memiliki manfaat langsung bagi kehidupan kita di Bumi.
  • Masa Depan Umat Manusia: Bulan dilihat sebagai ‘batu loncatan’ untuk tujuan yang lebih ambisius: mengirim manusia ke Mars. Apa yang kita pelajari di Bulan akan menjadi bekal untuk perjalanan antarplanet di masa depan.
  • Inspirasi Tanpa Batas: Momen ini akan menginspirasi jutaan anak muda di seluruh dunia untuk kembali menekuni sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Siapa tahu, astronaut Indonesia pertama yang akan ke Bulan mungkin saat ini sedang duduk di bangku SMA.

Lima puluh tahun adalah penantian yang sangat panjang. Kini, penantian itu hampir berakhir. Mari kita saksikan bersama saat keempat pionir ini membawa kita semua, secara imajiner, untuk kembali menatap Bumi dari Bulan. Mari kita Beranjak menyambut fajar baru penjelajahan kosmik!

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait