
Ada sebuah ironi yang sedang terjadi di pasar digital Indonesia yang maha besar ini. Dulu, kedatangan para pemain e-commerce global disambut dengan karpet merah. Mereka dianggap sebagai pembawa inovasi, penyelamat UMKM, dan surga bagi para pemburu diskon. Namun, kini, narasi itu mulai berbalik arah. Beberapa raksasa yang dulu dipuja, setelah memutuskan untuk angkat kaki dari sengitnya persaingan di Tanah Air, justru kini menjadi sasaran hujatan dan kritik tajam.
Fenomena ini paling jelas menimpa Shein, raksasa fast-fashion asal China. Setelah hengkang dari Indonesia beberapa tahun lalu, langkah bisnis mereka di panggung global kini dipandang dengan penuh kecurigaan. Saat mereka membuka toko fisik pertama di Perancis, misalnya, mereka tidak disambut dengan pujian, melainkan dengan kritik pedas dari para peritel lokal di sana yang merasa terancam. Di Indonesia sendiri, jejak digital Shein kini seringkali diasosiasikan dengan sentimen negatif, dianggap sebagai contoh model bisnis yang berpotensi mematikan UMKM lokal.
Ini adalah sebuah pergeseran sentimen yang menarik. Mengapa perusahaan yang dulu kepergiannya mungkin hanya menjadi catatan kaki di berita bisnis, kini justru “dihujat” saat mereka sukses di tempat lain? Jawabannya terletak pada perubahan kesadaran kita sebagai konsumen dan sebagai sebuah bangsa tentang apa arti kedaulatan ekonomi di era digital.
Sebelum kita membahas soal hujatan, penting untuk memahami mengapa para raksasa ini اصلاnya memilih pergi. Pasar Indonesia, dengan populasi digitalnya yang masif, adalah medan perang yang brutal. Nama-nama besar seperti JD.id, Rakuten, Blanja.com, dan Elevenia telah menjadi korban dari kerasnya kompetisi. Ada beberapa alasan utama di balik eksodus ini:
- Perang Bakar Uang yang Tak Berkesudahan: Kompetisi di Indonesia didominasi oleh strategi “bakar uang”—subsidi ongkos kirim, diskon besar-besaran, dan cashback—untuk merebut pangsa pasar. Hanya pemain dengan napas finansial terpanjang yang bisa bertahan. Bagi banyak perusahaan, model bisnis ini terbukti tidak berkelanjutan.
- Dominasi Pemain Lokal (dan Regional): Shopee dan Tokopedia (kini bagian dari GoTo) telah membangun dominasi yang sangat sulit untuk digoyahkan. Mereka tidak hanya unggul dalam modal, tetapi juga dalam pemahaman mendalam tentang perilaku konsumen lokal.
- Perubahan Strategi Global: Keputusan seperti yang diambil oleh JD.com untuk menutup JD.id seringkali merupakan bagian dari perubahan strategi induk perusahaan di tingkat global, yang memilih untuk fokus pada pasar lain atau model bisnis yang berbeda, seperti logistik lintas negara.
- Hantaman Regulasi: Bagi pemain seperti Shein dan Temu, yang model bisnisnya adalah cross-border (mengirim barang langsung dari pabrik di China ke konsumen), kebijakan pemerintah Indonesia yang semakin protektif menjadi tembok penghalang yang tak bisa ditembus. Larangan ini diberlakukan untuk melindungi UMKM lokal dari serbuan produk impor super murah yang bisa menghancurkan pasar.
Nah, di sinilah letak ironinya. Kepergian perusahaan seperti Shein dan pelarangan Temu, yang pada dasarnya adalah keputusan bisnis dan kebijakan pemerintah, kini dilihat melalui kacamata yang berbeda. Publik, yang semakin sadar akan isu predatory pricing dan dampaknya terhadap produk lokal, mulai melihat para raksasa ini bukan lagi sebagai “penyelamat”, melainkan sebagai “penjajah” digital.
Hujatan yang muncul saat Shein berekspansi di Eropa adalah cerminan dari kekhawatiran yang tertunda di Indonesia. “Untung sudah dilarang di sini,” atau “Lihat, kan, mereka memang merusak pasar lokal,” adalah sentimen umum yang kini bergema di media sosial. Publik seolah melakukan validasi retrospektif: keputusan pemerintah untuk melarang mereka adalah langkah yang tepat, dan kesuksesan mereka di luar negeri justru menjadi bukti dari potensi “bahaya” yang berhasil kita hindari.
Ini menunjukkan sebuah pendewasaan dalam cara pandang masyarakat. Kita tidak lagi silau hanya dengan harga murah. Ada kesadaran baru yang tumbuh tentang pentingnya melindungi ekosistem ekonomi lokal, menjaga keberlangsungan UMKM, dan memperjuangkan persaingan yang adil.
Sobat Beranjak, fenomena ini adalah sebuah pelajaran berharga. Bagi pemerintah, ini adalah validasi bahwa kebijakan yang melindungi industri dalam negeri mendapat dukungan luas dari publik. Namun, tantangannya adalah bagaimana menciptakan regulasi yang protektif tanpa menjadi anti-kompetisi dan mematikan inovasi.
Bagi kita sebagai konsumen, ini adalah panggilan untuk menjadi lebih bijak. Mendukung produk lokal bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah pilihan sadar yang memiliki dampak ekonomi riil. Dan bagi para pemain e-commerce yang masih bertahan, ini adalah sinyal bahwa untuk memenangkan hati pasar Indonesia dalam jangka panjang, tidak cukup hanya dengan menawarkan harga termurah. Mereka harus bisa menunjukkan komitmen nyata untuk tumbuh bersama ekosistem lokal, memberdayakan UMKM, dan berkontribusi secara positif bagi perekonomian nasional.
Dunia e-commerce akan terus dinamis. Akan ada pemain baru yang datang dan pemain lama yang pergi. Namun, kisah tentang raksasa yang kini dihujat ini akan selalu menjadi pengingat bahwa di pasar sebesar Indonesia, kepercayaan dan keberpihakan pada kepentingan nasional pada akhirnya akan menjadi mata uang yang paling berharga.









