Investasi Anak Muda Goyang? Saat Harga Emas Kompak Meroket, Ini yang Perlu Kamu Pahami!

Ada kabar yang mungkin membuat portofolio investasimu sedikit bergetar pagi ini. Bagi kamu yang selama ini rajin menyisihkan sebagian penghasilan untuk menabung atau berinvestasi emas, siap-siap untuk melihat saldo investasimu ‘menghijau’. Harga emas di dalam negeri pada Minggu (5/10/2025) kompak meroket, melanjutkan tren kenaikan yang sudah terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan data dari Pegadaian, kenaikan ini terjadi serempak di semua lini produk emas batangan. Emas Antam, misalnya, kini dibanderol di angka Rp 2.340.000 per gram. Tidak mau ketinggalan, emas cetakan UBS bahkan melambung lebih tinggi, menyentuh Rp 2.275.000 per gram, naik signifikan sekitar Rp 14.000 dari hari sebelumnya. Emas produksi Galeri24 juga ikut terkerek naik ke posisi Rp 2.230.000 per gram.

Fenomena ini tentu memicu berbagai pertanyaan, terutama bagi kita, Generasi Nusantara, yang semakin melek investasi. Mengapa harga si kuning berkilau ini tiba-tiba begitu ‘ngegas’? Apakah ini saat yang tepat untuk ikut membeli (buy), menahan (hold), atau justru menjual (sell)? Di balik angka-angka yang terus bergerak naik, ada sebuah permainan ekonomi global dan domestik yang menarik untuk kita bedah.

Untuk memahami mengapa harga emas lokal meroket, kita harus melihat ke panggung yang lebih besar: ekonomi global. Emas, sejak zaman dahulu, selalu dianggap sebagai aset safe haven atau “pelabuhan aman”. Artinya, ketika kondisi ekonomi dan politik dunia sedang tidak menentu, para investor besar akan berbondong-bondong memindahkan aset mereka dari instrumen yang lebih berisiko (seperti saham atau mata uang) ke emas yang dianggap lebih stabil.

Saat ini, ada beberapa “badai” yang sedang terjadi di tingkat global. Salah satunya adalah ketidakpastian seputar kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Isu mengenai potensi penurunan suku bunga The Fed membuat nilai dolar AS melemah. Hubungan antara dolar AS dan emas ini seperti jungkat-jungkit: ketika dolar melemah, harga emas (yang diperdagangkan dalam dolar) cenderung naik, karena menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Selain itu, ketegangan geopolitik yang masih terjadi di beberapa belahan dunia turut menyumbang pada kenaikan harga emas. Setiap kali ada berita tentang konflik atau krisis, permintaan akan aset aman seperti emas otomatis meningkat, mendorong harganya naik.

Di tingkat domestik, ada dua faktor utama yang ikut bermain. Pertama adalah nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Pelemahan nilai tukar Rupiah, seperti yang terjadi belakangan ini, secara langsung akan mengerek harga emas batangan di dalam negeri, bahkan jika harga emas dunia sedang stagnan. Ini karena emas batangan yang beredar di Indonesia, khususnya Antam, merupakan komoditas yang acuannya adalah pasar global.

Faktor kedua adalah permintaan dari dalam negeri itu sendiri. Tingginya kesadaran masyarakat akan inflasi—di mana nilai uang kertas terus tergerus dari waktu ke waktu—membuat emas menjadi pilihan investasi yang semakin populer. Permintaan yang terus meningkat, sementara pasokan emas di dunia ini terbatas, secara alami akan mendorong harganya untuk terus menanjak dalam jangka panjang.

Melihat harga yang terus memecahkan rekor, godaan untuk ikut-ikutan membeli karena takut ketinggalan (Fear of Missing Out atau FOMO) pasti sangat besar. Namun, para ahli keuangan menyarankan kita untuk tetap tenang dan berpikir strategis.

Bagi kamu yang sudah memiliki emas sebagai bagian dari portofolio investasimu, kenaikan ini tentu menjadi kabar baik. Kamu bisa memilih untuk menahan (hold) asetmu jika tujuan investasimu adalah untuk jangka panjang (di atas 5 tahun), karena secara historis tren harga emas akan terus naik.

Bagi kamu yang ingin mulai berinvestasi emas, jangan panik. Strategi terbaik adalah dengan melakukan Dollar Cost Averaging (DCA) atau menabung secara rutin. Alih-alih membeli dalam jumlah besar sekaligus saat harga sedang tinggi, belilah secara berkala (misalnya setiap bulan) dengan jumlah uang yang sama. Dengan cara ini, kamu akan mendapatkan harga rata-rata yang lebih baik dalam jangka panjang dan terhindar dari risiko membeli di harga puncak.

Pada akhirnya, kenaikan harga emas ini adalah sebuah pengingat penting tentang dinamika ekonomi. Ia mengajarkan kita, Generasi Nusantara, untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi investor yang cerdas dan terinformasi. Ini adalah saatnya untuk kembali me-review tujuan keuanganmu, memahami profil risikomu, dan membuat keputusan investasi yang didasarkan pada pengetahuan, bukan sekadar ikut-ikutan. Mari kita Beranjak untuk menjadi generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga melek finansial!

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait