Emas Siap “To The Moon” Lagi? Goldman Sachs Ramal Tembus US$ 5.000, Waktunya Serok atau Wait and See?

Siapa yang portofolio investasinya lagi hijau royo-royo minggu ini? Buat kamu tim “Emas Garis Keras”, senyum lebar pasti lagi menghiasi wajah. Harga emas dunia terpantau kembali bergairah, menyentuh level tertingginya dalam dua pekan terakhir.

Tapi tunggu dulu, kabar baiknya bukan cuma soal kenaikan sesaat ini. Raksasa perbankan investasi dunia, Goldman Sachs, baru saja merilis prediksi yang bikin mata investor terbelalak. Mereka optimistis harga emas bakal break the limit alias menembus rekor gila-gilaan di tahun depan.

Apakah ini sinyal buat All In? Yuk, kita bedah prediksinya biar kamu nggak FOMO (Fear of Missing Out) tanpa strategi!

Dalam survei terbarunya, Goldman Sachs mengungkapkan bahwa mayoritas investor institusi (baca: para “paus” di pasar keuangan) sangat bullish terhadap logam mulia ini. Mereka memprediksi harga emas bisa tembus ke angka keramat US$ 5.000 per troy ounce pada akhir tahun 2026.

Bayangkan, Sobat Beranjak! Jika saat ini harga emas dunia bermain di kisaran US$ 4.000-an (data November 2025), potensi kenaikannya masih sangat lebar.

“Emas bukan lagi sekadar aset pelindung nilai, tapi aset pertumbuhan yang serius,” kira-kira begitu sentimen pasar saat ini. Kenaikan ini didorong oleh keyakinan bahwa tren positif ini bukan cuma “gorengan” sesaat, tapi didukung fundamental yang kuat.

Sobat Beranjak pasti bertanya, “Kok bisa sih emas naik terus?” Goldman Sachs dan para analis menunjuk dua biang kerok utama (dalam arti positif buat investor emas):

  1. Aksi Borong Bank Sentral: Bank sentral di berbagai negara, terutama di pasar berkembang (seperti China, India, dll), lagi rajin-rajinnya menimbun emas. Tujuannya? Diversifikasi cadangan devisa biar nggak terlalu bergantung sama Dolar AS. Hukum ekonomi simpel: Permintaan naik, harga ikut terbang!
  2. Suku Bunga The Fed: Kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang cenderung memangkas suku bunga membuat emas jadi primadona. Ketika bunga bank turun, menyimpan uang tunai jadi kurang menarik, dan emas yang zero interest tapi high appreciation jadi incaran.

Nah, buat kita yang investasinya dalam bentuk emas fisik atau tabungan emas digital, dampaknya gimana?

Pada perdagangan Sabtu (29/11/2025), harga emas di Pegadaian (tipe Galeri 24 dan UBS) terpantau kompak naik. Sementara emas Antam sempat mengalami sedikit koreksi (turun tipis sekitar Rp 4.000 menjadi Rp 2,38 jutaan per gram), tapi tren jangka panjangnya tetap menanjak.

Ingat, harga emas lokal dipengaruhi dua hal: Harga Emas Dunia dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar. Kalau prediksi Goldman Sachs benar kejadian, harga emas batangan di Indonesia bisa tembus rekor baru yang bikin geleng-geleng kepala (mungkin Rp 3 juta per gram di masa depan? Siapa tahu!).

Melihat prediksi yang menggiurkan ini, apa yang harus kita lakukan?

  1. Jangan FOMO, Pakai DCA: Jangan langsung habisin tabungan buat beli emas sekaligus. Gunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) alias beli nyicil rutin tiap bulan. Ini biar kamu dapat harga rata-rata terbaik.
  2. Tentukan Tujuan: Emas itu investasi jangka menengah-panjang (di atas 5 tahun). Kalau butuh uang bulan depan, jangan taruh di emas karena ada selisih harga jual-beli (spread).
  3. Pantau Berita: Geopolitik dunia masih panas-dingin. Berita perang atau krisis biasanya bikin harga emas loncat.

Jadi, siapkah kamu mengawal emas menuju rekor barunya?

Emas berkilau, masa depan silau (dalam arti baik)!

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait