‘Babak Baru’ Dunia Game RI: Komdigi Resmi Ketuk Palu Sistem Rating, Selamat Tinggal Era Main Game ‘Gelap-gelapan’

Ada sebuah revolusi senyap yang baru saja diresmikan oleh pemerintah dan akan mengubah total cara kita memandang dan memainkan video game di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) secara resmi meluncurkan dan memberlakukan Sistem Rating Game Indonesia atau Indonesia Game Rating System (IGRS).

Ini bukan sekadar himbauan atau stiker tempelan biasa. Ini adalah sebuah sistem klasifikasi konten yang terstruktur, yang dirancang untuk melindungi anak-anak dari konten game yang tidak sesuai usia, sekaligus memberikan panduan yang jelas bagi para orang tua. Dengan kata lain, era di mana anak-anak bisa dengan bebas memainkan game-game dewasa yang penuh kekerasan atau konten eksplisit tanpa pengawasan kini secara resmi akan segera berakhir.

Bagi kita, Generasi Nusantara—baik sebagai gamer, orang tua muda, atau bahkan calon developer game—kebijakan ini adalah sebuah game-changer. Ini adalah langkah maju yang akan membuat ekosistem game di Indonesia menjadi lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab. Mari kita bedah lebih dalam apa itu IGRS dan apa dampaknya bagi kita semua.

Sama seperti film yang memiliki rating untuk penonton (Semua Umur, 13+, 17+, dll), IGRS kini akan menjadi standar wajib bagi semua game yang beredar secara resmi di Indonesia, baik itu game buatan luar negeri maupun lokal, di konsol, PC, maupun mobile. Sistem rating ini dibagi menjadi lima kategori usia yang jelas:

  • IGRS 3+: Untuk semua umur, konten sangat ramah anak.
  • IGRS 7+: Untuk anak usia 7 tahun ke atas, mungkin mengandung sedikit fantasi kekerasan yang sangat ringan.
  • IGRS 13+: Untuk remaja 13 tahun ke atas, mungkin mengandung kekerasan kartunis, bahasa ringan, atau tema-tema yang lebih kompleks.
  • IGRS 15+: Untuk remaja 15 tahun ke atas, bisa mengandung kekerasan yang lebih realistis, tema-tema dewasa, atau konten sugestif.
  • IGRS 18+: Khusus dewasa, mengandung konten kekerasan grafis, bahasa kasar, perjudian, atau tema-tema dewasa eksplisit lainnya.

Setiap kategori ini tidak hanya ditentukan oleh batasan usia, tetapi juga akan disertai dengan deskripsi konten spesifik, misalnya “Kekerasan”, “Bahasa Kasar”, “Horor”, atau “Narkoba”, sehingga pengguna bisa tahu persis konten sensitif apa yang ada di dalam game tersebut.

Menteri Komunikasi dan Digital, Budi Arie Setiadi, dalam acara peresmiannya menekankan bahwa tujuan utama IGRS adalah untuk menciptakan lingkungan digital yang aman bagi anak-anak Indonesia. “Kita tidak anti-game. Game adalah industri kreatif yang luar biasa. Tapi, negara harus hadir untuk melindungi anak-anak kita dari konten yang tidak sesuai dengan perkembangan psikologis mereka,” ujarnya.

Selama ini, Indonesia masih mengacu pada sistem rating internasional seperti ESRB (Amerika) atau PEGI (Eropa) yang seringkali tidak sepenuhnya relevan dengan norma dan budaya kita. Dengan adanya IGRS, klasifikasi konten akan disesuaikan dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan.

Langkah ini juga akan memberikan kekuatan hukum bagi pemerintah. Komdigi kini memiliki dasar yang jelas untuk memblokir atau menindak game-game yang tidak patuh terhadap sistem rating atau secara gamblang mengandung unsur-unsur negatif seperti pornografi, perjudian, atau radikalisme.

Sobat Beranjak, kebijakan ini akan membawa dampak signifikan bagi semua pihak:

  • Bagi Para Gamer: Kamu kini bisa membuat keputusan yang lebih terinformasi sebelum membeli atau mengunduh game. Kamu juga akan lebih terlindungi dari konten-konten yang mungkin tidak kamu inginkan.
  • Bagi Para Orang Tua: Ini adalah ‘senjata’ baru yang sangat ampuh. Orang tua tidak perlu lagi bingung. Cukup dengan melihat logo IGRS di kemasan atau laman unduhan, mereka bisa langsung tahu apakah sebuah game cocok untuk anak mereka atau tidak.
  • Bagi Industri Game Lokal: Meskipun ini menjadi sebuah kewajiban baru, dalam jangka panjang IGRS justru akan mendorong para developer lokal untuk menciptakan game yang lebih berkualitas dan bertanggung jawab. Ini juga akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap industri game nasional.

Peluncuran IGRS adalah sebuah tonggak sejarah. Ini adalah penanda kedewasaan ekosistem game di Indonesia. Ini bukan tentang membatasi, melainkan tentang memberdayakan—memberdayakan orang tua untuk melindungi anak mereka, dan memberdayakan gamer untuk memilih dengan bijak. Mari kita Beranjak untuk mendukung dan menjadi bagian dari era baru gaming Indonesia yang lebih positif!

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait