
Bayangkan sebuah dunia di mana kamu bangun pagi bukan karena alarm kerja yang berisik, tapi karena kamu ingin bangun untuk melakukan hobi kesukaanmu. Tidak ada lagi istilah Monday Blues, burnout ngejar target, atau pusing mikirin gaji bulanan. Terdengar seperti mimpi di siang bolong?
Ternyata, menurut Elon Musk, dunia utopia (atau mungkin distopia?) itu bisa jadi kenyataan dalam waktu yang tidak lama lagi. Miliarder teknologi nyentrik ini baru saja melemparkan prediksi yang bikin dahi berkerut: Dalam 20 tahun ke depan, manusia mungkin tidak perlu bekerja lagi, dan uang bisa jadi tidak relevan.
Apakah ini kabar gembira atau justru lonceng peringatan buat kita semua? Yuk, kita bedah bareng-bareng prediksi gila ini!
Dalam forum investasi U.S.-Saudi Investment Forum di Washington, D.C. baru-baru ini, Elon Musk menyatakan bahwa kemajuan pesat di bidang Kecerdasan Buatan (AI) dan robotika akan mengubah lanskap kehidupan manusia secara radikal.
“Prediksi saya, pekerjaan akan menjadi opsional,” ujar Musk.
Jadi, di masa depan (sekitar tahun 2045), semua pekerjaan berat, repetitif, dan teknis akan dikerjakan oleh robot dan AI. Manusia? Kita hanya akan bekerja jika kita mau, bukan karena kita butuh. Musk mengibaratkannya seperti berkebun. Kita bisa saja beli sayur di toko (instan dan murah karena robot), tapi ada orang yang tetap memilih menanam sayur sendiri di halaman belakang karena suka prosesnya.
Nantinya, pekerjaan mungkin hanya akan dianggap sebagai hobi, olahraga, atau bermain video game. Sekadar untuk kepuasan batin, bukan untuk bertahan hidup.
Ini bagian yang paling bikin mindblowing. Musk juga memprediksi bahwa konsep uang yang kita kenal sekarang bisa jadi tidak berharga atau tidak relevan lagi.
Kenapa bisa begitu? Logikanya sederhana: Jika robot bisa memproduksi barang dan jasa dengan biaya sangat murah (hampir nol), maka kelangkaan (scarcity) akan hilang. Kita hidup di era kelimpahan.
“Tebakan saya, jika kita bicara jangka panjang—dengan asumsi AI dan robotika terus maju—uang akan berhenti relevan,” kata Musk. Dia merujuk pada novel fiksi ilmiah Culture Series karya Iain M. Banks, yang menggambarkan masyarakat maju tanpa uang karena semua kebutuhan sudah terpenuhi oleh teknologi supercerdas.
Tentu saja, transisi ke dunia tanpa kerja ini butuh jaring pengaman. Musk sebelumnya sempat menyinggung konsep “Universal High Income” (Pendapatan Tinggi Semesta), yang lebih ekstrem daripada Universal Basic Income (UBI). Intinya, pemerintah atau sistem AI akan menjamin kemakmuran setiap individu karena produktivitas ekonomi sudah meroket berkat mesin.
Tapi, ada satu masalah besar yang mengintai: Krisis Makna.
Sobat Beranjak, bagi banyak orang, pekerjaan bukan cuma soal cari duit, tapi juga soal harga diri, kontribusi, dan tujuan hidup. Kalau robot bisa melakukan segalanya lebih baik dari kita, lantas apa gunanya kita hidup?
“Jika komputer dan robot bisa melakukan segalanya lebih baik dari Anda, apakah hidup Anda masih punya makna?” renung Musk. Ini adalah pertanyaan filosofis yang wajib kita pikirkan dari sekarang.
Prediksi 20 tahun itu nggak lama, lho. Buat Sobat Beranjak yang sekarang umur 20-an, di tahun 2045 nanti kalian akan berusia 40-an. Alih-alih pasrah atau takut, ini yang bisa kita persiapkan:
- Asah Sisi Kemanusiaan: AI mungkin jago hitungan dan data, tapi empathy, creativity, dan human connection masih jadi milik kita. Soft skills bakal jadi mata uang baru.
- Jangan Cuma Jadi Operator: Jadilah pemikir, inovator, atau seniman. Pekerjaan yang butuh sentuhan rasa dan jiwa manusia akan jadi yang terakhir digantikan.
- Melek Teknologi: Jangan musuhi AI, tapi jadikan dia teman ngobrol dan alat bantu. Siapa yang bisa mengendalikan AI, dialah yang akan bertahan.
Jadi, siapkah kamu menghadapi masa depan di mana “nganggur” adalah gaya hidup baru yang normal? Atau justru kamu merasa ngeri?









