
Dalam beberapa hari terakhir, linimasa media sosial kita dipenuhi oleh kengerian dari kasus pembunuhan wanita hamil di sebuah hotel di Palembang. Namun, di tengah duka dan amarah, secercah kelegaan akhirnya datang. Sebuah video penangkapan pelaku, Febrianto (22), viral dan menyebar dengan cepat, menunjukkan detik-detik saat pelariannya dihentikan secara paksa oleh aparat kepolisian.
Video amatir yang beredar luas itu merekam momen dramatis saat tim gabungan Jatanras Polda Sumsel dan Satreskrim Polrestabes Palembang menyergap Febri di tempat persembunyiannya di Banyuasin. Dalam video tersebut, terlihat jelas pelaku yang mencoba melawan dan tidak kooperatif, hingga akhirnya sebuah tindakan tegas terukur harus diambil. Terdengar suara letusan, dan pelaku pun tersungkur setelah sebutir timah panas bersarang di kakinya.
Melihat video tersebut, mungkin ada sebagian dari kita yang merasa ngeri. Namun, secara cerdas dan berwawasan, kita perlu memahami konteks di baliknya. Penangkapan seorang tersangka kasus pembunuhan sadis bukanlah operasi biasa. Pelaku telah terbukti melakukan kejahatan yang luar biasa, menghilangkan dua nyawa sekaligus, dan berpotensi melakukan tindakan nekat lainnya untuk melarikan diri.
Tindakan polisi menembak kaki pelaku bukanlah tanpa alasan. Ini adalah prosedur standar yang terpaksa diambil ketika tersangka membahayakan petugas atau berusaha kabur. Dalam kasus ini, polisi tidak mau mengambil risiko kehilangan jejak pembunuh yang telah meresahkan seluruh kota. Penangkapan ini adalah pesan yang sangat jelas dan langsung ke poin: tidak ada tempat untuk bersembunyi bagi pelaku kejahatan keji di Sumatera Selatan.
Bagi keluarga korban dan masyarakat luas, video penangkapan ini menjadi semacam katarsis. Ini adalah bukti nyata bahwa hukum bekerja. Bahwa negara, melalui aparatnya, tidak tinggal diam. Wajah pelaku yang meringis kesakitan saat digelandang oleh petugas menjadi penawar, meski sedikit, atas luka mendalam yang ia torehkan.
Kasus ini sekali lagi menunjukkan betapa kuatnya peran warganet dalam mengawal sebuah isu. Sejak awal, informasi tentang kasus ini, termasuk rekaman CCTV di hotel, menyebar dengan cepat berkat partisipasi aktif netizen. Tekanan publik yang begitu besar turut mendorong aparat untuk bekerja ekstra keras dan cepat dalam mengungkap kasus ini.
Viralnya video penangkapan ini juga memberikan efek jera (deterrent effect) yang kuat. Ini adalah peringatan bagi siapa pun yang berniat melakukan kejahatan serupa: setiap gerak-gerikmu diawasi, tidak hanya oleh CCTV, tetapi juga oleh jutaan mata warganet yang siap merekam dan menyebarkannya. Di era digital ini, kejahatan akan semakin sulit untuk disembunyikan.
Ini adalah perwujudan dari semangat kolaboratif antara masyarakat dan penegak hukum. Informasi dari publik, yang diamplifikasi oleh media sosial, menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam penangkapan ini.
Kini, setelah pelariannya berakhir, Febrianto harus menghadapi proses hukum yang menantinya. Ia akan diadili atas perbuatannya yang telah merenggut masa depan seorang ibu dan calon bayinya. Mari kita, Sobat Beranjak, terus kawal kasus ini hingga vonis dijatuhkan. Mari kita pastikan keadilan benar-benar ditegakkan. Dan mari kita Beranjak untuk lebih aktif lagi dalam menciptakan lingkungan yang aman, salah satunya dengan menjadi mata dan telinga yang waspada di sekitar kita.









