Tragis! Gara-gara Rebutan Duit Bansos Mendiang Ibu, Pria di Muratara Tega Habisi Nyawa Kakak Ipar

Uang memang bukan segalanya, tapi gara-gara uang, segalanya bisa hancur berantakan. Bahkan hubungan keluarga yang harusnya saling menjaga pun bisa berakhir dengan tragedi berdarah. Kisah miris ini baru saja terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan.

Hanya karena persoalan bantuan sosial (Bansos) peninggalan mendiang orang tua, seorang pria berinisial AH (33) nekat menghabisi nyawa kakak iparnya sendiri, Salamat (55). Pengakuannya di depan polisi bikin kita elus dada: “Saya tersinggung.”

Bagaimana kronologinya hingga emosi sesaat berubah jadi malapetaka? Yuk, kita simak agar jadi pelajaran berharga buat kita semua.

Kejadian pilu ini bermula pada Jumat (5/12/2025) di Desa Embacang Baru Ilir, Kecamatan Karang Jaya.

Akar masalahnya adalah paket Bansos (beras dan minyak goreng) milik ibu tersangka (yang juga mertua korban) yang baru saja meninggal dunia sebulan lalu. Tersangka AH membawa pulang paket bansos tersebut ke rumahnya.

Korban, Salamat, kemudian datang menagih bansos itu. Alasannya cukup mulia sebenarnya, yaitu untuk keperluan kenduri 40 hari meninggalnya sang ibu mertua.

Menurut pengakuan AH kepada polisi, saat korban datang menagih, istri AH sempat menyahut dari dalam rumah: “Ambeklah beras tuh, cuma genti be duet aku,” (Ambillah beras itu, tapi ganti saja uang saya).

Diduga terjadi adu mulut soal nominal penggantian uang yang membuat suasana memanas. AH yang sedang makan di dalam rumah merasa tersinggung dengan ucapan atau nada bicara korban di luar.

“Pelaku kemudian mengintip melalui jendela, lalu keluar dan terjadilah penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia,” jelas Iptu Baitul Ulum, Kasat Intelkam Polres Muratara.

Sobat Beranjak, sungguh sangat disayangkan. Niat hati ingin menggelar doa 40 harian, malah berakhir dengan tahlilan untuk korban pembunuhan.

Kini, AH harus mendekam di balik jeruji besi Polres Muratara. Ia terancam hukuman berat sesuai Pasal 351 ayat 3 KUHPidana karena penganiayaan yang menyebabkan kematian.

Kasus ini adalah reminder keras buat kita:

  1. Kontrol Emosi: Saat marah, akal sehat seringkali mati. Tarik napas, jangan biarkan setan amarah menguasai diri.
  2. Komunikasi Keluarga: Masalah harta atau warisan (sekecil apapun) harus dibicarakan dengan kepala dingin. Jangan sampai materi memutus silaturahmi, apalagi nyawa.

Semoga kejadian ini jadi yang terakhir. Mari kita doakan korban mendapatkan tempat terbaik, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Uang tak dibawa mati, tapi amal dan dosa pasti menanti.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait