“Tiba-tiba Api Sudah Besar!” – Kesaksian Mencekam Korban Selamat dari Insiden Kapal Terbakar di Sungai Musi

Di balik berita resmi dan data kerugian dari insiden terbakarnya kapal karyawan PT OKI Pulp & Paper, tersimpan cerita-cerita perjuangan hidup yang jauh lebih personal dan mendebarkan. Para penumpang yang selamat kini mulai berbagi kesaksian mereka, melukiskan gambaran kepanikan, ketakutan, dan kelegaan luar biasa setelah lolos dari maut di tengah perairan Sungai Musi pada Senin (29/9/2025) pagi.

Kisah mereka bukanlah sekadar kronologi, melainkan sebuah narasi tentang bagaimana sebuah perjalanan rutin bisa berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap mata. Ini adalah suara dari mereka yang berada di jantung peristiwa, yang merasakan langsung panasnya api dan tebalnya asap yang mengancam nyawa.

Menurut kesaksian beberapa penumpang, tidak ada pertanda apa pun sebelum bencana itu terjadi. Kapal cepat (speedboat) melaju seperti biasa di atas air Sungai Musi yang tenang. Sebagian besar dari 18 penumpang, yang merupakan karyawan PT OKI Pulp, mungkin sedang bersantai atau mengobrol, mempersiapkan diri untuk memulai hari kerja.

Namun, ketenangan itu pecah seketika.

“Kami tidak tahu awalnya, tahu-tahu api sudah besar saja dari bagian belakang kapal,” ungkap Iyan (35), salah satu penumpang selamat, saat ditemui setelah dievakuasi. Ia menceritakan bahwa api muncul begitu tiba-tiba dan langsung membesar, disertai kepulan asap hitam pekat yang menyesakkan napas.

Kecepatan api yang merambat di badan kapal fiber membuat situasi berubah dari normal menjadi kritis hanya dalam hitungan detik. Kepanikan langsung meledak di atas kapal yang ruangnya terbatas. “Semua terjadi begitu cepat. Kami semua panik, langsung teriak-teriak,” lanjutnya, menggambarkan suasana kacau balau di atas kapal.

Terjebak di antara kobaran api di belakang dan hamparan air sungai di depan, para penumpang dihadapkan pada pilihan hidup dan mati. Teriakan histeris dan tangisan bercampur dengan deru mesin kapal lain yang mulai mendekat. Asap yang semakin tebal membuat jarak pandang terbatas dan napas terasa sesak.

Di tengah kekacauan itu, insting untuk bertahan hidup mengambil alih. Para penumpang saling membantu mencari dan mengenakan jaket pelampung. Pengemudi kapal (serang) dengan sigap mengarahkan kapal untuk merapat ke kapal-kapal lain yang datang memberikan pertolongan.

“Posisi kami saat itu sudah di tengah sungai. Untung banyak perahu lain yang langsung datang menolong kami. Kalau tidak, kami tidak tahu lagi bagaimana nasibnya,” tutur seorang penumpang lain dengan wajah masih pucat. Proses evakuasi yang dramatis itu menjadi satu-satunya jalan keluar mereka dari neraka api yang terapung.

Meskipun seluruh 18 penumpang berhasil dievakuasi dengan selamat tanpa ada korban jiwa, pengalaman mengerikan itu meninggalkan luka trauma yang mendalam. Gemetar dan tatapan kosong masih terlihat jelas di wajah para korban saat mereka akhirnya tiba di daratan.

Kisah dari para penyintas ini adalah pengingat yang sangat kuat bagi kita semua. Bahwa di balik setiap statistik kecelakaan, ada manusia dengan cerita, keluarga, dan harapan. Ini adalah pelajaran tentang betapa berharganya sebuah nyawa dan betapa pentingnya standar keselamatan tidak boleh ditawar-tawar.

Bagi mereka, Senin pagi itu akan selamanya dikenang bukan sebagai awal pekan kerja biasa, tetapi sebagai hari di mana mereka diberi kesempatan kedua untuk hidup. Sebuah keajaiban yang terjadi berkat pertolongan Tuhan dan kesigapan para pahlawan tanpa nama di perairan Sungai Musi.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait