
Drama penangkapan jaksa gadungan di Ogan Komering Ilir (OKI) yang kita bahas kemarin ternyata menyimpan lapisan cerita yang lebih dalam dan mengkhawatirkan. Identitas pelaku, Bobby Asia, kini telah terungkap sepenuhnya, dan faktanya jauh lebih mengejutkan dari sekadar penipu biasa. Ia bukanlah pengangguran yang nekat mencari jalan pintas, melainkan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) aktif di lingkungan Pemerintah Kabupaten Way Kanan, Lampung.
Fakta ini mengubah narasi kasus secara total. Pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar “siapa dia?”, tetapi “mengapa seorang abdi negara melakukan hal senekat ini?”. Pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Selatan kini tengah bekerja keras untuk membongkar motif sesungguhnya di balik sandiwara yang dirancang dengan sangat rapi dan berani ini.
Bobby Asia tercatat sebagai PNS aktif di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Way Kanan, dengan pangkat dan golongan III/D. Informasi ini membuat aksinya terasa semakin ironis. Seseorang yang digaji oleh negara untuk melayani publik justru menggunakan waktunya untuk merancang penipuan yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara lainnya.
Kita harus mengakui, Bobby tidak main-main dalam menjalankan aksinya. Ia tidak hanya mengenakan seragam jaksa; ia melakukannya dengan totalitas. Lengkap dengan pangkat Jaksa Madya (IV/A) atau dua melati di pundak, pin Kejaksaan, hingga pin Persatuan Jaksa Indonesia (Persaja). Penampilannya begitu meyakinkan hingga ia berhasil mengelabui beberapa pihak pada awalnya.
Level keberaniannya pun luar biasa. Ia tidak beraksi di warung kopi atau di tengah masyarakat awam. Targetnya adalah “kandang macan” itu sendiri. Ia dengan percaya diri mendatangi kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) OKI, mencari para petinggi seperti Kajari dan para Kasi (Kepala Seksi). Puncaknya, ia bahkan mencoba meminta untuk difasilitasi bertemu dengan Bupati OKI.
Kecurigaan para jaksa asli di Kejari OKI akhirnya mematahkan sandiwaranya. Ketika ditanya surat tugas resmi dan kartu pegawai Kejaksaan, Bobby tak mampu menunjukkannya. Dari sanalah kedoknya mulai terbongkar.
Saat ini, Bobby Asia sudah berada di Kejati Sumsel untuk menjalani pemeriksaan intensif. Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Sumsel, Vanny Yulia Eka Sari, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menolerir tindakan yang mencoreng integritas institusi Kejaksaan dan akan mendalami kasus ini hingga tuntas.
Apa motifnya? Ini adalah teka-teki utama yang sedang coba dipecahkan. Apakah murni karena faktor ekonomi dan ingin melakukan pemerasan? Ataukah ada motif lain yang lebih kompleks? Beberapa informasi awal menyebutkan bahwa Bobby sempat berupaya “mengurus perkara” di Dinas Pendidikan OKI dan diduga telah meminta sejumlah uang. Jika ini terbukti, maka aksinya sudah masuk dalam kategori tindak pidana serius.
Kasus ini menjadi sebuah anomali yang menakutkan: seorang ASN aktif, dengan pekerjaan dan status yang jelas, rela mengambil risiko hukum yang sangat tinggi. Ini menimbulkan pertanyaan tentang pengawasan internal di instansi pemerintah dan betapa mudahnya atribut dan simbol kekuasaan negara disalahgunakan.
Bagi kita, Generasi Nusantara, kasus Bobby Asia adalah sebuah studi kasus yang sangat relevan. Ia mengajarkan kita untuk tidak silau oleh penampilan luar. Seragam dan pangkat bukanlah jaminan integritas. Di era di mana citra bisa dengan mudah dipoles dan dipalsukan, sikap kritis menjadi benteng pertahanan kita yang utama.
Kejati Sumsel pun telah mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan segera melapor jika menemukan oknum yang gerak-geriknya mencurigakan, meskipun ia mengatasnamakan aparat penegak hukum.
Mari kita terus kawal bagaimana Kejati Sumsel membongkar misteri di balik aksi nekat sang jaksa gadungan ini. Karena setiap kebohongan yang terungkap adalah satu langkah maju untuk menjaga marwah institusi negara dan rasa aman kita bersama.









