Noda Hitam di Sepak Bola Sumsel: Wakil Presiden SFC Besuk Suporter Korban Penusukan, Serukan Akhir dari Kekerasan Antar Fans

Sebuah insiden kelam kembali mencoreng wajah persepakbolaan Sumatera Selatan. Di saat seharusnya kita merayakan sportivitas dan mendukung tim kebanggaan dengan penuh semangat, rivalitas buta justru berujung pada pertumpahan darah. Seorang suporter Sriwijaya FC (SFC) menjadi korban penusukan oleh oknum yang diduga merupakan pendukung dari tim rival lokal.

Peristiwa tragis ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak dan memicu keprihatinan mendalam dari manajemen klub. Sebagai bentuk empati dan tanggung jawab moral, Wakil Presiden Klub SFC, H. Abraham Busro, menyempatkan diri untuk membesuk korban yang tengah dirawat intensif di rumah sakit. Momen ini menjadi seruan keras agar kekerasan atas nama sepak bola tidak pernah terulang lagi di Bumi Sriwijaya.

Insiden penusukan ini terjadi pasca pertandingan yang mempertemukan dua tim asal Sumatera Selatan. Korban, yang merupakan anggota dari kelompok suporter SFC, diserang oleh sekelompok orang tak dikenal saat hendak pulang. Akibat serangan brutal tersebut, korban menderita luka tusuk serius dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.

Kejadian ini sontak memanaskan kembali tensi antar kelompok suporter di Palembang, yang sebenarnya sudah mulai mereda. Rivalitas yang seharusnya hanya terjadi selama 90 menit di atas lapangan, justru tumpah ke jalanan dan berubah menjadi tindak kriminal yang membahayakan nyawa.

Mendengar kabar duka ini, manajemen SFC tidak tinggal diam. H. Abraham Busro, yang akrab disapa Abus, bersama jajaran pengurus langsung mendatangi rumah sakit tempat korban dirawat. Dalam kunjungannya, Abus tidak hanya memberikan dukungan moril dan materil kepada korban dan keluarganya, tetapi juga menyampaikan pesan yang sangat tegas.

“Kami sangat prihatin dan mengutuk keras insiden kekerasan ini. Ini bukan lagi soal rivalitas, ini sudah tindak kriminal. Tidak ada satu pun pertandingan sepak bola yang seharga dengan nyawa manusia,” ujar Abus dengan nada serius.

Ia menegaskan bahwa rivalitas seharusnya disalurkan melalui kreativitas di tribun—adu yel-yel, koreografi, atau dukungan tanpa henti kepada tim—bukan dengan kekerasan fisik. Manajemen SFC berharap agar insiden ini menjadi yang terakhir kalinya dan menjadi titik balik bagi semua kelompok suporter untuk lebih dewasa dalam mendukung tim kebanggaannya.

“Cukup, hentikan semua ini. Mari kita jaga bersama nama baik Palembang dan Sumatera Selatan. Tunjukkan bahwa kita adalah suporter yang cerdas, kreatif, dan cinta damai,” serunya.

Sobat Beranjak, peristiwa ini adalah sebuah refleksi bagi kita semua, terutama bagi kamu yang mengaku sebagai pencinta sepak bola sejati. Mendukung tim kesayangan adalah sebuah kebanggaan, tetapi fanatisme buta yang berujung pada kebencian dan kekerasan adalah sebuah kebodohan.

Kekerasan tidak akan pernah membuat timmu menang. Justru sebaliknya, ia akan merusak citra klub, kota, dan seluruh komunitas suporter. Saatnya bagi kita, Generasi Nusantara, untuk menjadi pelopor suporter cerdas. Suporter yang datang ke stadion untuk menikmati pertandingan, memberikan dukungan positif, dan pulang dengan selamat.

Mari kita jadikan stadion sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi semua orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Jadikan sepak bola sebagai alat pemersatu, bukan pemecah belah.

Kita doakan semoga korban lekas diberikan kesembuhan dan pemulihan. Dan kita berharap aparat kepolisian bisa segera menangkap pelaku dan memberikan hukuman yang setimpal, agar ada efek jera dan tragedi serupa tidak pernah terjadi lagi. Sepak bola adalah tentang cinta, bukan darah.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait