
Sebuah kabar yang menghangatkan hati datang dari Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Ini bukan sekadar berita seremonial, melainkan sebuah kisah nyata tentang harapan yang terwujud. Sebanyak 19 warga, mulai dari bayi mungil hingga remaja, yang selama ini hidup dengan kondisi bibir sumbing (labioplasti), akan segera memulai babak baru dalam hidup mereka. Sebuah “senyuman baru” akan segera terukir, berkat program operasi gratis yang diinisiasi melalui kolaborasi apik berbagai pihak.
Sobat Beranjak, mari kita pahami bersama mengapa berita ini jauh lebih dalam dari sekadar “bantuan sosial” biasa. Bagi sebagian besar dari kita, kemampuan untuk makan, berbicara, dan tersenyum adalah hal yang kita terima begitu saja. Namun, bagi saudara-saudara kita yang terlahir dengan celah bibir atau langit-langit, itu adalah sebuah perjuangan harian.
Bibir sumbing bukanlah murni masalah estetika atau kosmetik. Kondisi ini membawa dampak signifikan pada kualitas hidup. Sejak lahir, seorang bayi dengan bibir sumbing bisa mengalami kesulitan menyusu, yang berujung pada masalah gizi. Seiring pertumbuhannya, tantangan beralih pada kemampuan berbicara (artikulasi) yang tidak jelas dan risiko infeksi telinga yang lebih tinggi.
Namun, dampak yang mungkin paling berat—terutama bagi mereka yang beranjak remaja dan dewasa di era media sosial—adalah dampak psikologis. Rasa minder, penarikan diri dari pergaulan, hingga bullying, adalah kenyataan pahit yang sering mereka hadapi. Padahal, “Ekspresi Generasi Nusantara”—tagline yang kita usung—adalah hak bagi semua orang.
Inilah mengapa program yang berlangsung di Muara Enim ini menjadi begitu penting. Ini adalah intervensi yang tidak hanya memperbaiki fisik, tetapi juga membebaskan potensi dan mengembalikan kepercayaan diri.
Program bakti sosial ini secara resmi dibuka di RSUD Dr. H. Mohamad Rabain Muara Enim pada hari Senin, 17 November 2025. Dari total 21 calon pasien yang mendaftar dan menjalani proses screening medis, 19 orang dinyatakan layak dan siap untuk menjalani operasi.
Yang menarik adalah rentang usia para pasien. Pasien termuda tercatat baru berusia 3 bulan. Ini adalah intervensi dini yang krusial. Dengan operasi di usia sedini mungkin, sang bayi akan memiliki peluang tumbuh kembang yang optimal, nyaris tanpa hambatan fungsi bicara dan makan di kemudian hari.
Sementara itu, pasien tertua dalam program ini berusia 19 tahun.
Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan ini. Usia 19 tahun. Usia di mana Generasi Z sedang aktif-aktifnya berekspresi, berkuliah, memulai karier, dan bersosialisasi. Selama 19 tahun, pasien ini telah membawa bebannya dalam diam. Bagi dia, operasi ini bukanlah sekadar prosedur medis; ini adalah sebuah penantian panjang yang berakhir bahagia, sebuah tiket emas untuk meraih masa depan yang selama ini mungkin ia ragukan.
Kisah inspiratif ini tidak akan terwujud tanpa nilai “Kolaboratif” yang dipegang teguh oleh para inisiatornya. Program ini adalah contoh sempurna bagaimana tiga pilar—Korporasi, Pemerintah Daerah, dan Organisasi Masyarakat Sipil (NGO)—dapat bergerak bersama menciptakan dampak nyata.
Inisiator utamanya adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Sebagai BUMN yang beroperasi di jantung Muara Enim, PTBA menunjukkan komitmen Corporate Social Responsibility (CSR) yang tidak hanya fokus pada infrastruktur, tapi langsung menyentuh kemanusiaan.
Pilar kedua adalah Pemerintah Kabupaten Muara Enim, melalui RSUD Dr. H. Mohamad Rabain. Rumah sakit ini menjadi tuan rumah, menyediakan fasilitas, dan mengerahkan tim medis profesional untuk mengeksekusi operasi. Kehadiran Penjabat (Pj) Bupati Muara Enim, H. Ahmad Rizali, dalam acara pembukaan, memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah daerah hadir dan mendukung penuh upaya peningkatan kualitas hidup warganya.
Pilar ketiga adalah Smile Train Indonesia. Ini bukan pemain sembarangan. Smile Train adalah organisasi nirlaba internasional terkemuka yang fokus secara eksklusif pada penanganan bibir sumbing di seluruh dunia. Keterlibatan mereka memastikan bahwa operasi ini berjalan sesuai standar medis global terbaik.
Dalam sambutannya, Pj Bupati Ahmad Rizali memberikan apresiasi yang tinggi. Ia menyebut program ini adalah wujud nyata gotong royong dan kepedulian sosial yang luar biasa.
Bagi Beranjak, ini adalah wujud nyata rubrik “Lokal Berdaya”. Ini adalah bukti bahwa potensi dan solusi untuk masalah lokal seringkali sudah ada di sekitar kita, menunggu untuk disinergikan.
Kita tidak hanya merayakan 19 operasi yang sukses. Kita merayakan kembalinya 19 potensi, 19 kepercayaan diri, dan 19 Generasi Nusantara yang kini siap “Beranjak” untuk berekspresi dan berkarya tanpa rasa minder. Kita tunggu kisah-kisah sukses mereka di masa depan.









