
Pertarungan melawan stunting di Sumatera Selatan (Sumsel) terus digencarkan. Sadar bahwa waktu semakin sempit untuk mengejar target nasional prevalensi stunting 14% pada tahun 2025, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Sumsel mengambil langkah taktis. Mereka mengumpulkan seluruh “panglima” dari 17 kabupaten/kota dalam sebuah Rapat Reviu Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) serta Percepatan Penurunan Stunting.
Acara yang digelar di Palembang ini bukan sekadar rapat rutin. Ini adalah sebuah forum strategis untuk mengevaluasi secara jujur apa saja yang sudah berhasil, mengakui di mana letak kekurangan, dan yang terpenting, merumuskan kembali strategi jitu untuk mengakselerasi penurunan angka stunting di Bumi Sriwijaya, yang saat ini masih berada di angka 18,6%.
Kepala Perwakilan BKKBN Sumsel, Mediheryanto, dalam sambutannya menegaskan bahwa rapat reviu ini adalah momen krusial untuk “berkaca diri”. Tujuannya adalah untuk melihat sejauh mana program Bangga Kencana, yang menjadi payung dari berbagai intervensi penurunan stunting, telah berjalan efektif di lapangan sepanjang semester pertama tahun 2025.
“Ini adalah kesempatan kita untuk melakukan evaluasi capaian kinerja. Kita harus tahu persis, dari target-target yang sudah kita tetapkan, mana yang sudah tercapai dan mana yang masih jauh dari harapan,” ujar Mediheryanto.
Dalam forum ini, setiap perwakilan dari kabupaten/kota memaparkan data dan capaian mereka. Di sinilah terlihat potret yang sesungguhnya. Ada daerah yang menunjukkan progres menggembirakan, namun ada pula yang masih menghadapi tantangan berat. Berbagai masalah diidentifikasi, mulai dari validitas data yang belum 100% akurat, kurangnya sinergi antar dinas, hingga tantangan dalam mengedukasi masyarakat di level akar rumput.
Salah satu isu utama yang mengemuka adalah pentingnya akurasi data. Tanpa data yang valid mengenai jumlah keluarga berisiko stunting, anak yang terindikasi stunting, dan calon pengantin, semua intervensi yang dilakukan ibarat menembak dalam gelap. Oleh karena itu, BKKBN Sumsel mendorong semua daerah untuk mempercepat proses verifikasi dan validasi data agar bantuan dan pendampingan bisa benar-benar tepat sasaran.
Selain itu, ditekankan pula pentingnya kolaborasi dan sinergi. Stunting adalah masalah kompleks yang tidak bisa diselesaikan oleh satu dinas saja. Ini adalah “pekerjaan keroyokan” yang membutuhkan kerja sama erat antara Dinas Kesehatan, Dinas PPKB, Dinas PUPR (untuk sanitasi dan air bersih), Dinas Pertanian (untuk ketahanan pangan), hingga Kementerian Agama (untuk bimbingan calon pengantin).
“Semua harus bergerak bersama. Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di setiap tingkatan, dari provinsi hingga desa, harus berfungsi maksimal sebagai konduktor yang menyelaraskan semua program,” tegas Mediheryanto.
Meskipun masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, rapat reviu ini memancarkan aura optimisme. Komitmen dari para kepala dinas dan perwakilan daerah untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas terlihat jelas.
Bagi kita, Generasi Nusantara, pertarungan melawan stunting ini adalah pertarungan untuk masa depan bangsa. Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi soal kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Anak yang stunting berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif yang akan menghambat produktivitasnya saat dewasa.
Mari kita dukung upaya ini. Mulailah dari lingkungan terdekat kita. Jika kamu punya adik, keponakan, atau tetangga yang masih balita, pastikan mereka mendapatkan asupan gizi yang cukup. Jika kamu akan menikah, pastikan kamu dan pasanganmu berada dalam kondisi kesehatan yang prima.
Dengan kesadaran dan gerakan bersama, kita yakin Sumsel bisa mencapai target 14% dan melahirkan generasi penerus yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.









