
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Pepatah ini rasanya pas banget menggambarkan situasi yang dialami Riko Saputra, salah satu pelaku pemalakan sadis di simpang Macan Lindungan, Palembang, yang menewaskan seorang sopir truk beberapa waktu lalu.
Dalam proses pemeriksaan terbaru di Jatanras Polrestabes Palembang, Riko tak kuasa menahan air matanya. Sosok yang saat beraksi terlihat garang, kini luluh lantak dalam tangisan. Alasannya bukan cuma takut penjara, tapi karena teringat sang istri yang sedang hamil tua dan menanti kelahiran anak kedua mereka.
Yuk, simak momen emosional ini dan jadikan pelajaran berharga agar kita jauh-jauh dari dunia kriminal!
Riko Saputra kini harus menghadapi kenyataan pahit. Akibat perbuatannya, ia dipastikan tidak akan bisa mendampingi istrinya saat melahirkan nanti.
“Sedih, istri lagi mengandung anak kedua. Apalagi saat lahiran nanti istri nggak bisa menemani,” ujar Riko sambil terisak, Jumat (6/12/2025).
Dalam tangisannya, ia berkali-kali mengucapkan janji untuk bertobat dan meminta maaf kepada sang istri. Ia mengaku menyesal telah salah memilih pergaulan yang akhirnya menjerumuskannya ke balik jeruji besi.
“Minta maaf ke istri, ayah janji nggak bakal ngulangi lagi. Kalau ada kerja, ayah kerja. Berhenti ayah mau berteman dengan teman seperti itu, terlanjur kecewa,” tambahnya dengan nada penuh penyesalan.
Buat Sobat Beranjak yang belum tahu, kasus ini bermula dari aksi pemalakan sadis yang menimpa Al Kodirin (44), sopir truk asal Lampung.
- Waktu Kejadian: Senin (24/11/2024), sekitar pukul 19.00 WIB.
- Lokasi: Simpang Macan Lindungan, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang.
- Kronologi: Korban dipalak oleh kawanan pelaku. Karena mencoba mempertahankan diri/harta, korban akhirnya ditusuk hingga tewas di tempat.
Dari total 5 pelaku, polisi baru berhasil menangkap dua orang, yakni Riko Saputra dan MA. Tiga pelaku lainnya (YF, DD, RF) masih buron dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).
Sobat Beranjak, kisah Riko ini adalah peringatan keras buat kita semua. Kejahatan jalanan (street crime) seperti pemalakan tidak hanya merugikan korban, tapi juga menghancurkan masa depan pelaku dan keluarganya sendiri.
Sekarang, Riko harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum dengan ancaman hukuman berat karena telah menghilangkan nyawa orang lain. Penyesalan dan air mata tidak bisa mengembalikan nyawa korban, namun semoga bisa menjadi titik balik pertobatannya.
Mari kita doakan agar keluarga korban diberikan ketabahan, dan sisa pelaku yang buron segera tertangkap.
Jauhi kriminal, sayangi masa depanmu (dan orang tuamu)!









