
Siapa sih anak muda Palembang yang nggak tahu Benteng Kuta Besak (BKB)? Spot legendaris di tepi Sungai Musi ini bukan cuma tempat nongkrong asik sambil lihat Jembatan Ampera, tapi juga saksi bisu kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam.
Tapi, ada kabar yang bikin hati para pecinta sejarah ketar-ketir, nih. Kawasan bersejarah yang harusnya kita jaga keasliannya, kini tengah “diganggu” oleh proyek pembangunan gedung bertingkat.
Rumah Sakit (RS) Dr. AK Gani, yang berlokasi tepat di kawasan bersejarah tersebut, dikabarkan sedang membangun gedung baru setinggi 7 lantai. Sontak, rencana ini menuai kritik pedas dan protes keras dari para budayawan Palembang. Yuk, kita simak duduk perkaranya!
Para budayawan dan pemerhati sejarah di Palembang nggak tinggal diam. Mereka menilai pembangunan gedung jangkung di kawasan inti sejarah Palembang adalah sebuah kekeliruan besar.
Vebri Al Lintani, salah satu budayawan senior Palembang, dengan tegas mendesak agar proyek pembangunan gedung 7 lantai di RS AK Gani segera dihentikan. Alasannya bukan karena anti-pembangunan, tapi karena lokasinya yang sangat sensitif.
RS AK Gani berdiri di atas lahan yang dulunya merupakan bagian dari kompleks keraton atau pertahanan Kesultanan. Membangun gedung tinggi di sana dianggap akan merusak lanskap sejarah dan berpotensi melanggar Undang-Undang Cagar Budaya.
Sobat Beranjak harus tahu, area sekitar BKB, RS AK Gani, hingga Museum SMB II itu adalah Zona Inti sejarah Palembang. Di dalam tanahnya, tersimpan potensi arkeologis yang luar biasa. Di atasnya, ada tata ruang visual yang punya nilai filosofis tinggi.
Kritik para budayawan didasarkan pada kekhawatiran bahwa:
- Merusak Visual Sejarah: Gedung 7 lantai akan mendominasi dan “menenggelamkan” bangunan cagar budaya di sekitarnya, seperti benteng itu sendiri.
- Potensi Arkeologi: Pembangunan fondasi dalam (paku bumi) dikhawatirkan merusak situs-situs yang mungkin masih terpendam di bawah tanah.
- Pelanggaran Aturan: Pembangunan di kawasan cagar budaya harus melalui kajian super ketat dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB). Para budayawan mempertanyakan apakah proses ini sudah dilalui dengan benar atau ditabrak begitu saja?
Kasus ini membuka diskusi penting buat kita, Generasi Nusantara. Kita tentu butuh fasilitas kesehatan yang modern dan canggih seperti rumah sakit yang memadai. Tapi, apakah harus dengan mengorbankan identitas sejarah kota kita?
Para budayawan menyarankan agar pembangunan fasilitas modern bisa dilakukan tanpa harus merusak zona inti sejarah. Bisa dengan mencari lokasi lain, atau menyesuaikan desain bangunan agar selaras dengan kawasan cagar budaya (tidak menjulang tinggi).
“Jangan sampai karena mengejar modernisasi, kita malah kehilangan jati diri,” kira-kira begitu pesan tersirat dari protes ini.
Sobat Beranjak, Palembang adalah kota tertua di Indonesia. Gelar ini bukan cuma pajangan, tapi tanggung jawab. Kalau situs sejarahnya hilang digantikan beton bertingkat, apa bedanya Palembang dengan kota-kota metropolitan lain yang “lupa ingatan”?
Mari kita dukung upaya pelestarian ini. Pembangunan boleh jalan, tapi sejarah jangan dilupakan. Semoga pihak terkait, baik pengelola RS maupun pemerintah kota, bisa duduk bareng dan mencari solusi win-win solution.









