
Saat mendengar kata “Pemadam Kebakaran” atau Damkar, apa yang pertama kali terlintas di benakmu? Tentu saja, sosok-sosok pemberani yang bertarung dengan api. Namun, sebuah kisah hangat dan sedikit unik dari Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mengingatkan kita bahwa tugas mereka jauh lebih mulia dan beragam dari itu. Mereka adalah pahlawan untuk segala kondisi darurat, bahkan untuk urusan “cinta” yang menjerat jari.
Seorang ibu rumah tangga bernama Mutiara, warga Desa Jirak Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), datang ke kantor Damkar PALI dengan wajah panik dan penuh harap. Masalahnya? Tiga buah cincin kesayangannya tersangkut erat di jari manisnya dan tak bisa dilepaskan. Jarinya sudah mulai membengkak, dan rasa sakit mulai tak tertahankan.
Sebelum memutuskan untuk “minta tolong” ke Damkar, Mutiara sudah mencoba berbagai cara. Mulai dari menggunakan sabun, minyak, hingga benang, semua trik yang biasa kita lihat di internet sudah ia praktikkan. Namun, ketiga cincin itu seolah tak mau berpisah dari jarinya. Kepanikan pun memuncak. Di tengah kebingungannya, ia teringat bahwa Damkar seringkali menjadi dewa penolong untuk kasus-kasus serupa.
Tanpa pikir panjang, ia pun menempuh perjalanan dari Muba ke PALI, membawa satu-satunya harapan yang tersisa. Dan benar saja, para petugas Damkar PALI menyambutnya dengan tangan terbuka.
Secara merangkul dan ramah, para petugas langsung menenangkan Mutiara. Mereka tidak menertawakan atau menganggap remeh masalahnya. Sebaliknya, mereka menunjukkan profesionalisme dan empati yang luar biasa. Dengan sigap, mereka mengeluarkan peralatan andalan untuk misi penyelamatan cincin ini: sebuah mesin gerinda mini.
Ini bukan pekerjaan yang mudah. Butuh ketenangan, konsentrasi, dan kehati-hatian tingkat tinggi. Salah sedikit saja, mesin gerinda bisa melukai jari Mutiara. Petugas Damkar, dengan tangan yang sudah terlatih, secara perlahan namun pasti mulai memotong satu per satu cincin tersebut. Untuk menjaga agar jari tidak panas akibat gesekan, mereka terus menyiramnya dengan air.
Setelah beberapa saat yang menegangkan, akhirnya… “kriuk!” Cincin pertama berhasil dipotong. Lalu yang kedua, dan akhirnya yang ketiga. Tiga cincin itu berhasil dilepaskan tanpa ada luka sedikit pun di jari Mutiara. Raut wajah lega dan haru langsung terpancar. Ucapan terima kasih tak henti-hentinya ia sampaikan kepada para pahlawan berseragam biru itu.
Kepala Dinas Damkar PALI, Suyadi, menyatakan bahwa timnya memang siaga 24 jam untuk segala bentuk kondisi darurat. “Petugas kami siap 24 jam bukan hanya menghadapi api, tapi juga segala bentuk keadaan darurat yang menyangkut keselamatan warga,” ujarnya.
Bagi kita, Generasi Nusantara, kisah ini adalah sebuah pelajaran yang sangat memotivasi. Ini adalah bukti nyata dari pengabdian tanpa batas. Ini menunjukkan bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang siap menolong siapa saja, kapan saja, untuk masalah apa saja, sekecil apa pun itu.
Jadi, jangan pernah ragu untuk meminta pertolongan kepada Damkar jika kamu berada dalam situasi darurat. Dan yang terpenting, mari kita berikan apresiasi setinggi-tingginya untuk para petugas Damkar di seluruh Indonesia. Mereka adalah pahlawan di garda terdepan yang seringkali terlupakan. Mari kita Beranjak untuk lebih menghargai setiap profesi yang berdedikasi untuk kemanusiaan. Salut untuk Damkar PALI!









