
Di sebuah sudut sunyi di tepi Sungai Musi, Desa Semeteh, Kabupaten Musi Rawas, sebuah pemandangan memilukan tersaji dan menyentuh nurani kita semua. Selama 18 hari, di bawah langit yang sama yang menelan putra mereka, sepasang orang tua, Supriyanto (45) dan Rosiana (37), tak beranjak. Mereka mendirikan tenda sederhana, menjadikan tepian sungai sebagai rumah sementara, dengan satu harapan yang terus menyala: menemukan kembali buah hati mereka, Bima (7), yang hilang ditelan arus.
Kisah ini lebih dari sekadar berita tentang korban tenggelam. Ini adalah sebuah elegi tentang cinta orang tua yang tak terukur dalamnya, tentang penantian yang menguji kewarasan, dan tentang solidaritas kemanusiaan yang menghangatkan di tengah duka yang paling dingin sekalipun.
Semua berawal pada Minggu sore, 30 September 2025. Bima, seorang anak laki-laki yang ceria, sedang asyik bermain perahu gabus bersama teman-temannya di tepi sungai yang tak jauh dari rumahnya. Nahas, arus sungai yang sore itu sedang deras menariknya dari tepian. Tubuh mungilnya dengan cepat hilang dari pandangan, meninggalkan kepanikan dan jerit tangis teman-temannya.
Sejak detik itulah, waktu seolah berhenti bagi Supriyanto dan Rosiana. Dunia mereka runtuh. Pencarian besar-besaran langsung dilakukan, melibatkan tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan puluhan warga desa. Mereka menyisir setiap jengkal aliran Sungai Musi, berharap ada keajaiban. Namun hari berganti hari, pekan berganti pekan, Bima tak kunjung ditemukan.
Secara resmi, operasi SAR telah dihentikan setelah tujuh hari sesuai prosedur. Namun, bagi seorang ayah dan ibu, pencarian tidak pernah mengenal kata henti.
Di sinilah potret cinta paling murni itu terlihat. Supriyanto dan Rosiana menolak untuk pulang. Dengan hanya beralaskan terpal dan beratap tenda biru sederhana, mereka memilih untuk tetap di sana. Siang dan malam, mata mereka tak lepas dari aliran sungai, seolah berharap arus akan mengembalikan putra mereka ke pelukan.
“Kami tidak akan pulang sebelum anak kami ditemukan, dalam kondisi apa pun,” ujar Supriyanto dengan suara bergetar.
Secara merangkul dan penuh empati, kita bisa merasakan betapa hancurnya hati mereka. Setiap debur ombak mungkin terdengar seperti panggilan, setiap bayangan di air mungkin terlihat seperti secercah harapan. Mereka tidak sendirian dalam penantian ini. Warga desa silih berganti datang, memberikan makanan, minuman, dan yang terpenting, kekuatan moral. Inilah wujud nyata dari nilai kolaboratif dan gotong royong yang menjadi jiwa bangsa kita.
Kisah Supriyanto dan Rosiana adalah tamparan keras bagi kita semua. Ini adalah pengingat betapa berharganya setiap momen bersama orang yang kita cintai. Ini juga menjadi alarm tentang pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak-anak yang bermain di dekat area berbahaya seperti sungai.
Bagi kita, Generasi Nusantara, kisah ini bukan untuk diratapi, tetapi untuk direnungi. Ini adalah panggilan kemanusiaan. Mari kita panjatkan doa terbaik untuk keluarga ini. Semoga Tuhan memberikan mereka kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi cobaan ini, dan semoga ada keajaiban yang bisa mengakhiri penantian panjang mereka.
Mari kita Beranjak untuk lebih peduli. Jika kamu berada di sekitar lokasi, sebuah sapaan atau segelas air hangat mungkin bisa sedikit meringankan beban mereka. Karena di tengah duka yang paling dalam, kehadiran dan rasa peduli dari sesama adalah cahaya yang paling terang. Teruslah kuat, Pak Supriyanto dan Ibu Rosiana. Doa kami bersama kalian.









