
Stadion Wembley pada Senin (17/11/2025) dini hari WIB menjadi saksi bisu sebuah mahakarya. Dalam laga krusial Kualifikasi Piala Dunia 2026, tim nasional Inggris tidak hanya berpesta gol 5-0 ke gawang Albania, tetapi kita juga melihat seorang predator ulung menemukan kembali takhtanya. Harry Kane, sang kapten yang sempat diragukan, mengamuk dengan perfect hat-trick dan sebuah rekor baru, membungkam semua kritik yang ada.
Sobat Beranjak, dalam rubrik “Olahraga”, kami selalu percaya bahwa sepak bola bukan hanya soal angka di papan skor. Ia adalah panggung drama, inspirasi, dan pembuktian. Dan apa yang dipertontonkan Harry Kane dini hari tadi adalah definisi sempurna dari ketiga hal tersebut.
Bagi kita, Generasi Nusantara yang melek informasi, tentu kita tahu narasi yang berkembang beberapa bulan terakhir. Kane, pasca kepindahannya ke Bayern Munich, dianggap “kehilangan magisnya” saat berseragam The Three Lions. Paceklik gol di beberapa laga kompetitif membuat media dan para pundit mulai mempertanyakan ketajamannya.
Namun, di bawah langit London yang dingin, Kane memberikan jawaban yang paling lantang.
Babak pertama laga melawan Albania adalah “The Harry Kane Show”. Dimulai dari sundulan Harry Maguire yang membuka keran gol—sebuah pembuktian juga bagi sang bek yang kerap jadi “kambing hitam”—panggung kemudian sepenuhnya menjadi milik Kane.
Menit ke-18, ia mencatatkan namanya. Kemudian, di menit ke-33, sebuah gol indah hasil kerja sama dengan Raheem Sterling. Puncaknya adalah di injury time babak pertama: sebuah tendangan salto akrobatik yang memukau, memanfaatkan sepak pojok dari Phil Foden. Gol! 5-0 sebelum turun minum.
Itu bukan sekadar hat-trick. Itu adalah perfect hat-trick: satu gol dengan sundulan, satu dengan kaki kiri (gol kedua), dan satu dengan kaki kanan (gol salto). Sebuah pencapaian langka yang hanya bisa dilakukan oleh striker berkaliber dunia.
Lebih dari itu, tiga gol tersebut secara resmi menobatkannya sebagai pencetak gol terbanyak Inggris di laga kompetitif, mengoleksi 39 gol. Ia melampaui rekor Wayne Rooney (37 gol). Kini, Kane hanya tinggal berjarak beberapa gol saja dari rekor top scorer sepanjang masa Rooney (53 gol) di semua ajang.
Kane (10/10): Sempurna. Rating 10 dari 10 adalah sebuah kelangkaan, tapi malam ini tidak ada angka lain yang lebih pantas. Ia adalah predator, kreator, sekaligus inspirator.
Kemenangan telak ini tidak adil jika hanya dikreditkan pada satu orang. Pelatih Gareth Southgate menurunkan sebuah orkestra yang bermain tanpa cela, terutama di 45 menit pertama.
Di sinilah kita melihat wajah progresif timnas Inggris yang digandrungi Generasi Z: permainan cepat, dinamis, dan taktis. Mari kita bedah performa para pendukungnya:
- Para Arsitek Lini Tengah (Rating 8-9/10): Di jantung permainan, Jordan Henderson (8/10) tampil luar biasa. Ia bukan hanya mencetak gol ketiga (setelah solo run apik), tapi juga memberi assist untuk gol pertama Kane. Di sampingnya, Phil Foden (8/10) adalah sihir itu sendiri. Kreativitasnya dalam mengalirkan bola dan visi bermainnya (termasuk assist untuk gol salto Kane) membuktikan mengapa ia adalah salah satu talenta muda terbaik dunia.
- Dinamit di Sisi Sayap (Rating 9/10): Peran wing-back adalah kunci dalam formasi 3-4-3 Southgate, dan Reece James (9/10) adalah bintang utamanya. Bermain di sisi kanan, James seolah memiliki energi tak terbatas. Ia bertahan dengan solid, namun kontribusi ofensifnya luar biasa. Dua assist cantik ia sumbangkan malam ini. Di sisi berlawanan, Ben Chilwell (7/10) juga tampil solid.
- Pahlawan Lini Belakang (Rating 7-8/10): Harry Maguire (8/10) sukses membungkam kritiknya dengan sundulan keras yang membuka pesta. Kyle Walker (7/10) dan John Stones (7/10) juga tampil disiplin, membuat Albania nyaris tak punya peluang.
- Yang Tampil Standar (Rating 6/10): Kiper Jordan Pickford (6/10) bisa dibilang menjadi penonton paling premium di Wembley. Ia nyaris tidak berkeringat karena solidnya lini pertahanan. Raheem Sterling (6/10), meski menyumbang satu assist, tidak setajam biasanya dan terlihat sedikit “kalah panggung” dibanding rekan-rekannya.
Kemenangan ini, Sobat Beranjak, adalah sebuah pesan. Bukan hanya soal tiga poin yang hampir memastikan tiket ke Piala Dunia. Ini adalah pesan bahwa Inggris, dengan generasi emasnya yang diisi pemain muda progresif (Foden, James, Saka, Bellingham), adalah ancaman serius.
Dan yang terpenting, ini adalah pesan dari Harry Kane: jangan pernah sekali-kali meragukan seorang raja. Ia mungkin terdiam sejenak, tapi ia tidak pernah lupa cara berburu. Sebuah inspirasi tentang bagaimana merespons keraguan dengan performa yang memukau.









