
Pekan keenam MPL Indonesia Season 16 dibuka dengan sebuah laga panas yang mempertemukan dua tim dengan basis penggemar masif: EVOS Esports dan Alter Ego. Pertarungan yang digadang-gadang akan berlangsung sengit ini ternyata berjalan di luar dugaan. Tampil dominan dan tanpa celah, Alter Ego sukses menerkam Macan Putih dengan skor telak 2-0, meninggalkan sebuah pertanyaan besar bagi para pendukung EVOS: Ada apa dengan mentalitas sang juara?
Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan poin. Ini adalah alarm keras bagi EVOS yang performanya terlihat semakin menurun di pertengahan musim. Sebaliknya, bagi Alter Ego, kemenangan ini adalah suntikan moral yang sangat berharga, membuktikan bahwa mereka adalah kuda hitam yang siap mengacaukan dominasi tim-tim papan atas.
Sejak fase draft pick di game pertama, tanda-tanda bencana bagi EVOS sudah mulai terlihat. Alter Ego berhasil mengamankan komposisi hero yang sangat kuat dan sesuai dengan meta saat ini, sementara EVOS terlihat kesulitan untuk menjawabnya. Benar saja, begitu pertandingan dimulai, Alter Ego langsung memegang kendali penuh atas peta Land of Dawn.
Rotasi yang disiplin, kontrol objektif yang nyaris sempurna, dan inisiasi perang yang selalu tepat waktu membuat para pemain EVOS tak berkutik. Celiboy, sang jungler dari Alter Ego, tampil menggila dan menjadi momok menakutkan, berulang kali berhasil menculik para pemain kunci EVOS. Tekanan yang diberikan tanpa henti membuat EVOS tidak mampu mengembangkan permainan mereka sama sekali. Mereka dipaksa bermain defensif, kehilangan semua turtle dan lord, hingga akhirnya harus merelakan base mereka hancur. Game pertama menjadi milik Alter Ego dengan dominasi total.
Memasuki game kedua, EVOS mencoba mengubah strategi. Mereka melakukan beberapa penyesuaian dalam draft pick dengan harapan bisa memberikan perlawanan yang lebih sengit. Di awal permainan, strategi ini tampaknya cukup berhasil. EVOS mampu mengimbangi permainan agresif Alter Ego, bahkan beberapa kali memenangkan team fight kecil.
Namun, keunggulan tipis di awal permainan itu ternyata tidak cukup. Memasuki fase mid-game, Alter Ego kembali menunjukkan kelasnya. Pengambilan keputusan mereka yang lebih matang dan eksekusi team fight yang lebih rapi menjadi pembeda. Sebuah momen krusial terjadi saat perebutan lord, di mana Alter Ego berhasil membalikkan keadaan, menyapu bersih para pemain EVOS, dan mengamankan lord untuk mereka.
Momen tersebut menjadi titik balik yang meruntuhkan mental para pemain EVOS. Dengan bantuan lord, Alter Ego melakukan satu dorongan terakhir yang tak mampu lagi dibendung. Base EVOS kembali hancur, dan skor 2-0 untuk kemenangan Alter Ego pun menjadi hasil akhir yang tak terhindarkan.
Kekalahan telak ini meninggalkan banyak pekerjaan rumah bagi EVOS. Masalahnya bukan lagi sekadar soal strategi atau draft pick, tetapi sudah merembet ke masalah mentalitas dan kepercayaan diri. Para pemain terlihat sering melakukan kesalahan sendiri (blunder) dan tampak ragu-ragu dalam mengambil keputusan penting.
Bagi kita, Generasi Nusantara yang menggemari skena esports, pertandingan ini adalah cerminan dari betapa dinamis dan kejamnya sebuah kompetisi. Tidak ada tim yang bisa terus menerus berada di atas. Kunci untuk bertahan adalah kemampuan untuk beradaptasi, belajar dari kesalahan, dan yang terpenting, menjaga api semangat juang agar tidak pernah padam.
Perjalanan EVOS di musim ini masih panjang. Namun, jika mereka tidak segera menemukan solusi untuk masalah internal mereka, jalan terjal menuju babak playoff akan semakin sulit untuk dilalui. Mampukah sang Macan Putih mengaum kembali? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.









