‘Kalah Itu Guru Terbaik’: Reaksi Berkelas Coach Indra Sjafri Usai Timnas U-22 ‘Ditekuk’ Mali, Ini ‘Sisi Positif’-nya!

Scoreboard di Stadion Pakansari kemarin mungkin terasa sedikit pahit. Ya, Timnas Indonesia U-22 harus mengakui keunggulan tim kuat asal Afrika, Mali, dalam sebuah laga uji coba yang intens. Tapi, tunggu dulu! Sebelum jari-jemarimu mulai mengetik hujatan, ada sebuah perspektif ‘berkelas’ yang datang langsung dari sang arsitek, Coach Indra Sjafri.

Alih-alih tertunduk lesu atau menyalahkan pemain, coach Indra justru meminta kita untuk ‘santai’ dan melihat gambaran yang lebih besar. Bagi pelatih yang dikenal jago ‘mencetak’ talenta ini, kekalahan dari Mali justru adalah sebuah ‘berkah’ yang penuh dengan sisi positif.

Ini adalah sebuah mentalitas ‘proses’ yang sangat mahal harganya. Sebuah pelajaran bagi kita, Generasi Nusantara, bahwa dalam olahraga (dan juga kehidupan), kekalahan terkadang jauh lebih berharga daripada kemenangan mudah.

Faktanya, Mali bukanlah lawan sembarangan. Mereka adalah tim dengan standar, fisik, dan kecepatan yang jelas berada di level yang berbeda, jauh di atas rata-rata lawan kita di Asia Tenggara. Di lapangan Pakansari, para punggawa Garuda Muda kita ‘dipaksa’ bekerja di luar zona nyaman mereka.

Dan di sinilah letak ‘sisi positif’ pertama yang dilihat coach Indra: mendapatkan lawan uji coba yang ‘menyiksa’ adalah sebuah kemewahan.

“Saya justru senang kita bertemu lawan sekuat Mali,” ungkap coach Indra. “Karena dari pertandingan inilah, semua kelemahan kita yang sesungguhnya jadi terlihat jelas.”

Inilah inti dari filosofi sang pelatih. Kekalahan dari Mali adalah ‘data’ mentah paling jujur yang didapat tim pelatih.

Bagi coach Indra, kekalahan ini memberikan ‘PR’ yang sangat nyata:

  1. Membongkar ‘Borok’: Di mana letak ‘lubang’ kita? Apakah di transisi dari bertahan ke menyerang? Apakah di finishing akhir? Atau di stamina di 20 menit terakhir? Semua kini terekspos dengan telanjang.
  2. Bahan Evaluasi Emas: Data kekalahan ini jauh lebih berharga daripada menang 5-0 melawan tim lemah. Tim pelatih kini tahu persis apa yang harus ‘diobati’ sebelum turnamen resmi (seperti SEA Games atau Kualifikasi Piala Asia) dimulai.
  3. Ujian Mental Pemain: Para pemain muda kita ‘dihajar’ oleh realitas. Ini adalah tempaan mental terbaik agar mereka tidak ‘kaget’ atau star-struck saat bertemu lawan-lawan superior di kejuaraan sesungguhnya.

Sederhananya: jauh lebih baik ‘dibantai’ di laga uji coba sekarang, daripada menang-menang mudah tapi ‘KO’ di pertandingan pertama turnamen.

Sobat Beranjak, sikap coach Indra Sjafri ini adalah ‘tamparan’ inspiratif bagi kita. Di era yang serba ‘instan’ ini, kita seringkali menuntut kemenangan di setiap detik. Kita lupa bahwa sepak bola, sama seperti karier dan kehidupan kita, adalah soal proses.

Kekalahan bukanlah akhir dunia. Itu adalah umpan balik (feedback). Itu adalah ‘guru’ terbaik dan paling jujur. Sikap coach Indra mengajarkan kita untuk tidak ‘baperan’, tapi ‘analitis’. Jangan hanya fokus pada hasil akhir (skor), tapi fokuslah pada apa yang kita pelajari dari kekalahan itu untuk menjadi jauh lebih kuat di masa depan.

Salut setinggi-langitnya untuk coach Indra yang selalu konsisten dengan filosofi ‘proses’-nya!

Mari kita Beranjak untuk berhenti menjadi suporter yang hanya ‘memuji saat menang dan menghujat saat kalah’. Mari kita belajar menjadi suporter yang cerdas, yang terus mengawal dan mendukung perjuangan Garuda Muda ini, apa pun hasilnya. Karena juara sejati adalah mereka yang bangkit paling kuat setelah jatuh!

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait