
Sobat Beranjak, laga sarat gengsi bertajuk Derby Merseyside selalu menyajikan cerita. Pada pertemuan terbaru, Minggu (21/9/2025) dini hari, Liverpool sukses menunjukkan dominasinya atas sang rival sekota, Everton, dalam sebuah pertandingan yang menampilkan pahlawan tak terduga dan bintang yang meredup.
Liverpool berhasil memenangkan Derby Merseyside yang berlangsung panas di Anfield. Gelandang muda, Ryan Gravenberch, tampil sebagai bintang kemenangan The Reds dengan performa dominannya di lini tengah. Di sisi lain, penyerang Everton, Alexander Isak, justru gagal bersinar dan berada di bawah bayang-bayang rekan setimnya, Hugo Ekitike.
Sejak peluit pertama dibunyikan, tensi tinggi khas derby langsung terasa. Namun, Liverpool-lah yang berhasil mengendalikan permainan, dan motor serangan mereka ada pada diri Ryan Gravenberch. Gelandang asal Belanda ini menjadi pembeda dengan visi bermain, umpan-umpan akurat, dan kemampuannya memecah pertahanan Everton. Puncaknya, ia turut mencatatkan namanya di papan skor dan dinobatkan sebagai Man of the Match.
Cerita kontras terjadi di kubu Everton. Penyerang yang digadang-gadang menjadi andalan, Alexander Isak, dibuat tak berkutik. Terisolasi di lini depan, ia kesulitan lepas dari kawalan ketat para bek Liverpool dan gagal memberikan ancaman berarti.
Justru rekan duetnya, Hugo Ekitike, yang tampil lebih hidup. Dengan pergerakan yang lebih liar dan determinasi tinggi, Ekitike beberapa kali mampu merepotkan barisan pertahanan Liverpool, membuatnya terlihat jauh lebih menonjol dibandingkan Isak.
Pertandingan ini adalah bukti nyata bahwa dalam laga sebesar Derby Merseyside, mental dan kerja keras seringkali lebih menentukan daripada sekadar nama besar. Ryan Gravenberch menunjukkan kedewasaan dan kualitasnya, membuktikan bahwa ia adalah investasi masa depan yang cerah bagi Liverpool.
Bagi Everton dan Isak, ini adalah malam yang harus segera dilupakan. Namun, ini juga menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya adaptasi dan semangat juang di laga-laga penuh tekanan.
Kemenangan ini tak hanya memberikan Liverpool tiga poin dan hak untuk “menyombongkan diri”, tetapi juga menjadi suntikan moral yang luar biasa untuk melanjutkan persaingan di papan atas Liga Inggris.









