
Tepat satu tahun sudah Presiden Prabowo Subianto memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di negeri ini. Di antara berbagai sektor yang menjadi fokusnya, pertahanan adalah salah satu yang paling menyita perhatian. Maklum, dengan latar belakangnya sebagai seorang Jenderal, ekspektasi publik terhadap perubahan di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI) begitu besar. Kini, setelah setahun berjalan, kita mulai melihat sketsa dari “wajah baru” TNI yang sedang dilukis.
Perubahan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menyentuh aspek-aspek yang substansial, mulai dari yang paling kasat mata seperti warna seragam, hingga yang paling fundamental seperti modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) dan restrukturisasi organisasi. Pertanyaannya, ke arah mana wajah baru TNI ini akan menghadap?
Perubahan yang paling mudah dilihat dan menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet tentu saja adalah transisi warna seragam Pakaian Dinas Lapangan (PDL) TNI. Setelah lebih dari 40 tahun identik dengan corak loreng “hijau malvinas” yang legendaris, kini para prajurit kita mulai mengenakan seragam baru dengan corak sage green berpola digital.
Secara cerdas dan berwawasan, perubahan ini bukan sekadar soal gaya. Seragam baru ini dirancang dengan pola digital yang lebih kecil dan gradasi warna yang lebih halus, memungkinkannya untuk berkamuflase dengan lebih efektif di berbagai medan operasi modern. Ini adalah sebuah langkah adaptasi yang menunjukkan bahwa TNI semakin sadar akan pentingnya teknologi, bahkan dalam hal yang paling mendasar seperti seragam tempur. Ini adalah simbol dari sebuah modernisasi yang sedang berjalan.
Di luar urusan seragam, gebrakan yang paling signifikan di era Prabowo adalah percepatan modernisasi alutsista. Kita melihat bagaimana kontrak-kontrak pengadaan alutsista strategis, yang mungkin sempat tertunda, kini dieksekusi dengan lebih cepat. Mulai dari jet tempur, kapal perang, hingga kendaraan taktis, semua didatangkan untuk menggantikan peralatan lama yang sudah usang.
Tujuannya jelas: menjadikan TNI sebagai kekuatan pertahanan yang disegani di kawasan, bukan lagi “macan kertas”. Visi pertahanan Prabowo yang selalu menekankan pentingnya memiliki angkatan bersenjata yang kuat, kini mulai diterjemahkan menjadi aksi nyata. Ini adalah sebuah kebijakan yang progresif dan berorientasi jauh ke depan, demi menjaga setiap jengkal kedaulatan NKRI.
Perubahan juga terjadi di tingkat organisasi. Kita menyaksikan adanya pembentukan batalyon-batalyon baru, penambahan Komando Pasukan Khusus, hingga elevasi jabatan komandan pasukan elite dari jenderal bintang dua menjadi bintang tiga. Tujuannya adalah untuk membuat struktur organisasi TNI menjadi lebih ramping, lincah, dan efektif dalam merespons ancaman.
Namun, di tengah semua kemajuan ini, ada satu tantangan besar yang tidak boleh kita lupakan: menjaga profesionalisme dan memastikan TNI tetap berada di “barak” sesuai amanat reformasi 1998. Isu mengenai perluasan jabatan sipil yang bisa diisi oleh prajurit aktif dalam revisi UU TNI beberapa waktu lalu menjadi pengingat bagi kita semua.
Bagi kita, Generasi Nusantara, wajah baru TNI ini adalah sebuah kabar yang optimistis dan memotivasi. Memiliki angkatan bersenjata yang modern, kuat, dan profesional adalah kebanggaan dan jaminan rasa aman bagi kita semua. Namun, sebagai warga negara yang kritis, tugas kita adalah untuk terus mengawasi.
Mari kita dukung penuh upaya modernisasi TNI, tetapi di saat yang sama, mari kita pastikan bahwa kekuatan besar itu selalu berada di bawah supremasi sipil dan digunakan semata-mata untuk kepentingan pertahanan negara. Mari kita Beranjak bersama, mengawal transformasi TNI menjadi kekuatan pertahanan kelas dunia yang modern, disegani, namun tetap demokratis dan dicintai oleh rakyatnya.









