Tragedi di Tengah Samudera Hindia: Kapal Ikan Taiwan Meledak, Satu ABK Asal Batang Tewas dan 7 Luka Parah

Sebuah kabar duka yang memilukan datang dari tengah ganasnya perairan Samudera Hindia. Jauh dari tanah air, para anak bangsa yang berjuang sebagai pahlawan devisa di atas kapal ikan asing harus menghadapi sebuah tragedi mengerikan. Sebuah kapal penangkap ikan berbendera Taiwan, FV TAI CHUN, dilaporkan meledak dan terbakar hebat pada Jumat, 10 Oktober 2025.

Nahas, dalam insiden tragis tersebut, satu orang Anak Buah Kapal (ABK) asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bernama Wagiman (28), dinyatakan meninggal dunia. Sementara itu, tujuh ABK lainnya, yang juga merupakan Warga Negara Indonesia (WNI), mengalami luka bakar serius dan kini dalam kondisi kritis.

Peristiwa ini kembali menyorot betapa berat dan berbahayanya perjuangan para pekerja migran kita, khususnya mereka yang bekerja di sektor kelautan. Di balik rupiah yang mereka kirimkan ke kampung halaman, ada risiko besar yang setiap saat mengintai nyawa mereka. Kisah ini adalah pengingat bagi kita semua untuk lebih menghargai dan mengawal perlindungan bagi para pahlawan devisa ini.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun, ledakan dahsyat tersebut berasal dari kamar mesin kapal FV TAI CHUN. Saat kejadian, kapal sedang berada di posisi sekitar 250 mil laut dari perairan Sri Lanka. Api yang berkobar dengan cepat membuat para ABK yang berada di atas kapal panik dan berusaha menyelamatkan diri.

Wagiman, yang saat itu diduga berada paling dekat dengan sumber ledakan, tak sempat menyelamatkan diri dan menjadi korban jiwa. Sementara itu, tujuh rekannya yang lain, meskipun berhasil selamat dari kobaran api, harus menderita luka bakar yang sangat parah.

“Informasi awal yang kami terima, ledakan terjadi di ruang mesin. Satu korban meninggal dunia di tempat, sementara tujuh lainnya luka berat dan membutuhkan evakuasi medis secepatnya,” ungkap seorang perwakilan dari Serikat Pekerja Migran Indonesia (SPMI) yang turut mengawal kasus ini.

Kabar baik di tengah duka ini adalah respons cepat dari kapal-kapal lain yang berada di sekitar lokasi kejadian. Sebuah kapal ikan berbendera Taiwan lainnya, FV TAI HSIANG, yang kebetulan berada tidak jauh dari FV TAI CHUN, menjadi yang pertama memberikan pertolongan. Mereka berhasil mengevakuasi seluruh korban, baik yang meninggal maupun yang terluka.

Proses evakuasi medis pun berlangsung dramatis. Para korban luka bakar yang dalam kondisi kritis akhirnya berhasil dipindahkan ke kapal Angkatan Laut Sri Lanka untuk mendapatkan pertolongan pertama, sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat di daratan Sri Lanka.

Kini, pihak keluarga korban di Batang dan berbagai daerah lainnya tengah menanti dengan penuh kecemasan kabar lebih lanjut mengenai kondisi para korban luka dan proses pemulangan jenazah almarhum Wagiman.

Sobat Beranjak, tragedi yang menimpa para ABK di FV TAI CHUN ini adalah sebuah alarm keras. Ini bukan insiden pertama yang menimpa para pelaut kita di kapal-kapal asing. Isu mengenai standar keselamatan kerja, kelayakan kapal, jam kerja yang tidak manusiawi, hingga jaminan asuransi dan kesehatan masih seringkali menjadi masalah pelik.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri dan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), kini dituntut untuk bergerak cepat. Bukan hanya dalam hal pemulangan jenazah dan pendampingan korban luka, tetapi juga dalam investigasi menyeluruh terhadap penyebab ledakan. Apakah ada unsur kelalaian dari pihak perusahaan? Apakah standar keselamatan di atas kapal sudah terpenuhi?

Kasus ini harus menjadi momentum untuk kembali memperkuat regulasi dan pengawasan terhadap agen-agen penyalur tenaga kerja. Negara harus memastikan bahwa setiap warganya yang dikirim untuk bekerja di luar negeri, terutama di sektor berisiko tinggi seperti perikanan, benar-benar mendapatkan jaminan perlindungan yang maksimal.

Mari kita panjatkan doa terbaik untuk almarhum Wagiman, semoga ia beristirahat dalam damai dan keluarganya diberikan ketabahan. Mari kita doakan pula kesembuhan bagi tujuh ABK lainnya yang kini tengah berjuang antara hidup dan mati. Dan lebih dari itu, mari kita Beranjak untuk menjadi masyarakat yang lebih peduli dan vokal dalam menyuarakan perlindungan bagi para pahlawan devisa kita. Perjuangan mereka terlalu berharga untuk diakhiri dengan tragedi yang seharusnya bisa dicegah.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait