
Sepekan terakhir ini bangsa kita dihadapkan pada dua peristiwa memilukan yang terjadi di dua tempat berbeda, namun sama-sama meninggalkan luka dan pertanyaan besar. Di Sidoarjo, Jawa Timur, sebuah tragedi kemanusiaan terjadi saat bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny runtuh, mengubur puluhan santri di bawahnya. Sementara itu, dari berbagai daerah, lonceng alarm berbunyi nyaring dari program ambisius Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali memakan korban keracunan massal.
Dua insiden ini, meski tak saling berhubungan, menjadi cermin bagi kita semua. Ia menguji ketangguhan sistem penanggulangan bencana kita, sekaligus mempertanyakan ketelitian dan pengawasan terhadap program nasional yang menyangkut hajat hidup jutaan anak Indonesia. Ini adalah pekan yang penuh duka, namun juga harus menjadi pekan penuh evaluasi dan introspeksi. Mari kita bedah apa yang terjadi dan pelajaran apa yang bisa kita petik sebagai Generasi Nusantara yang peduli.
Kabar runtuhnya bangunan musala tiga lantai di Ponpes Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pada Senin sore (29/9) adalah sebuah pukulan telak. Momen sakral saat para santri tengah menunaikan salat Ashar berjamaah berubah menjadi mimpi buruk. Struktur bangunan yang masih dalam tahap pengecoran lantai atas tiba-tiba ambruk, menimpa ratusan santri di bawahnya.
Apa yang terjadi setelahnya adalah sebuah potret kepahlawanan dan duka yang mendalam. Ratusan personel tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI-Polri, BPBD, dan para relawan bekerja siang dan malam tanpa henti. Operasi penyelamatan berlangsung dramatis. Di satu sisi, ada secercah harapan setiap kali seorang santri berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Di sisi lain, hati kita semua remuk redam setiap kali kantong jenazah diusung keluar dari puing-puing.
Hingga akhir pekan, data resmi dari Basarnas mencatat sebuah angka yang memilukan: dari total korban yang ditemukan, puluhan santri dinyatakan meninggal dunia, sementara ratusan lainnya berhasil diselamatkan meski banyak yang mengalami luka-luka. Tragedi ini menjadi pengingat keras tentang pentingnya standar keselamatan konstruksi, terutama untuk bangunan fasilitas publik seperti lembaga pendidikan. Pemerintah, melalui berbagai kementerian, telah berjanji untuk menanggung seluruh biaya perawatan korban dan menjadikan insiden ini sebagai bahan pembelajaran pahit agar tak terulang di kemudian hari.
Di saat yang hampir bersamaan, dari berbagai penjuru negeri, laporan tentang keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menyeruak. Dari Ciamis, Purworejo, hingga Bandung Barat, ratusan siswa SD dan SMP harus dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit dengan gejala mual, pusing, dan muntah setelah menyantap menu MBG.
Ini bukan lagi insiden tunggal, melainkan sebuah pola yang mengkhawatirkan. Badan Gizi Nasional (BGN) pun tak bisa tinggal diam. Sebagai respons tegas, BGN telah menonaktifkan puluhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang terbukti bermasalah. Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengakui bahwa banyak kasus terjadi karena ketidakpatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP), terutama terkait higienitas dan sanitasi.
Pemerintah, melalui Menko Pangan Zulkifli Hasan, juga telah menegaskan bahwa insiden keracunan ini tidak bisa dianggap sekadar angka statistik. Setiap anak yang menjadi korban adalah sebuah kegagalan sistem yang harus dievaluasi secara total. Meskipun Presiden Prabowo Subianto mengamanatkan program MBG untuk terus berjalan, ia juga memberikan perintah tegas untuk melakukan perbaikan tata kelola secara menyeluruh.
Sobat Beranjak, dua peristiwa besar dalam sepekan ini adalah sebuah panggilan untuk kita semua. Tragedi Al-Khoziny mengajarkan kita tentang pentingnya pengawasan dan standar keselamatan yang tidak bisa ditawar-tawar. Sementara itu, rentetan kasus keracunan MBG adalah alarm keras bahwa niat baik sebuah program harus diimbangi dengan eksekusi dan pengawasan yang sempurna di lapangan.
Sebagai generasi yang kritis, tugas kita adalah terus mengawal isu-isu ini. Jangan biarkan tragedi ini berlalu begitu saja tanpa ada perbaikan yang fundamental. Kita harus terus bertanya, menuntut pertanggungjawaban, dan memastikan bahwa negara benar-benar hadir untuk melindungi setiap nyawa warganya, baik dari ancaman bangunan yang rapuh maupun dari sepiring nasi yang seharusnya bergizi.
Mari kita panjatkan doa terbaik untuk para korban dan keluarga di Sidoarjo, serta untuk kesembuhan anak-anak yang menjadi korban keracunan. Dan lebih dari itu, mari kita Beranjak untuk menjadi masyarakat yang lebih peduli dan lebih vokal dalam menuntut standar keselamatan dan kualitas terbaik dalam setiap aspek kehidupan berbangsa. Karena setiap nyawa anak bangsa terlalu berharga untuk dikorbankan oleh kelalaian.









