Semeru Menggeliat Lagi: 1.131 Saudara Kita di Lumajang Terpaksa Mengungsi, Ini Fakta Terkininya

Kabar kurang mengenakkan kembali menyapa kita dari Jawa Timur. Gunung Semeru, atap tertinggi di Pulau Jawa yang megah itu, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Bagi kita yang tinggal jauh dari sana, mungkin ini hanya sekadar berita di timeline. Tapi bagi ribuan saudara kita di Lumajang, ini adalah momen menegangkan yang memaksa mereka meninggalkan kenyamanan rumah demi keselamatan nyawa.

Hingga Kamis (20/11/2025), tercatat ada 1.131 warga yang harus mengungsi akibat erupsi yang terjadi sehari sebelumnya. Mari kita bedah situasinya, bukan untuk menebar panik, tapi untuk membangun empati dan kewaspadaan kita bersama.

Berdasarkan data yang dihimpun dari lapangan, Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, Agus Triyono, mengonfirmasi bahwa gelombang pengungsian terjadi cukup signifikan di dua kecamatan utama yang terdampak langsung, yaitu Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Candipuro.

“Jumlah pengungsi sampai hari ini ada 1.000 orang lebih tersebar di 11 lokasi pengungsian di dua kecamatan,” ungkap Agus.

Berikut rincian persebarannya agar Sobat Beranjak tahu peta situasinya:

  • Kecamatan Pronojiwo: Terdapat 806 jiwa yang tersebar di 7 titik pengungsian. Ini adalah wilayah yang cukup dekat dengan jalur aliran lahar, sehingga kewaspadaan warga di sini sangat tinggi.
  • Kecamatan Candipuro: Terdapat 325 warga yang mengevakuasi diri ke 4 lokasi aman yang telah disiapkan.

Angka ini bersifat fluktuatif, alias bisa naik-turun sewaktu-waktu. Kenapa? Karena warga di lereng Semeru sebenarnya memiliki kearifan lokal dan pemahaman mendalam tentang “tabiat” gunung tersebut.

Agus menjelaskan, “Warga di sekitar lereng Gunung Semeru sudah paham karakter gunung. Sehingga, saat kondisi sudah dirasa normal, warga akan kembali ke rumahnya masing-masing.”

Namun, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama. Tidak sedikit warga yang memilih bertahan di posko pengungsian demi menghindari risiko susulan yang tak terduga, seperti awan panas guguran (APG) atau banjir lahar dingin jika hujan turun.

Di tengah situasi darurat seperti ini, solidaritas kita diuji. Pemerintah daerah setempat telah bergerak cepat dengan mendirikan dua dapur umum di kedua kecamatan terdampak untuk memastikan kebutuhan pangan pengungsi terpenuhi. Jadi, untuk urusan perut, insyaallah aman.

Namun, ada kebutuhan lain yang kini menjadi prioritas mendesak: kenyamanan istirahat. “Kalau makanan tadi sudah kita cukupi… lainnya alas tidur dan selimut untuk tidur,” ujar Agus.

Bayangkan tidur di lantai balai desa atau tenda darurat dengan udara pegunungan yang menusuk tulang. Bagi lansia dan anak-anak, selimut dan alas tidur yang layak bukan sekadar kenyamanan, tapi perlindungan dari risiko penyakit seperti hipotermia atau ISPA.

Sebagai Generasi Nusantara yang hidup di Ring of Fire (Cincin Api), bencana vulkanik adalah realitas yang harus kita hadapi dengan ilmu, bukan sekadar rasa takut.

  1. Literasi Bencana itu Keren: Warga Lumajang mengajarkan kita pentingnya memahami tanda-tanda alam. Mereka tahu kapan harus lari dan kapan bisa kembali. Kita pun harus mulai peduli dengan peta rawan bencana di daerah kita masing-masing.
  2. Solidaritas Tanpa Batas: Jika Sobat Beranjak memiliki rezeki lebih atau akses ke komunitas relawan, bantuan berupa selimut, matras, atau donasi dana akan sangat berarti bagi mereka saat ini.
  3. Patuhi Arahan Resmi: Di era digital, hoax soal bencana sering kali lebih cepat menyebar daripada awan panas itu sendiri. Pastikan kamu hanya membagikan info dari sumber resmi seperti PVMBG, BPBD, atau media terpercaya seperti Beranjak.

Erupsi Semeru kali ini adalah pengingat bahwa alam punya kehendaknya sendiri. Tugas kita adalah beradaptasi dan saling menjaga. Selain memantau perkembangan berita, mari kita kirimkan doa terbaik untuk keselamatan warga Lumajang dan para petugas yang berjibaku di lapangan.

Semoga Semeru segera tenang, dan saudara-saudara kita bisa kembali beraktivitas dengan aman.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait