Saat Pesantren Disorot, Memahami Tradisi ‘Ro’an’ Lebih dari Sekadar Kerja Bakti

Beberapa waktu terakhir, dunia pesantren kembali menjadi sorotan publik. Sayangnya, sorotan kali ini diwarnai oleh narasi-narasi yang cenderung menyudutkan, dipicu oleh insiden robohnya bangunan di salah satu pondok hingga tayangan televisi yang dianggap keliru dalam menggambarkan kehidupan di dalamnya. Di tengah riuhnya perbincangan, sering kali kita lupa untuk melihat pesantren dari perspektif yang lebih dalam, dari kacamata mereka yang menjalaninya setiap hari.

Wawancara khusus dengan Bapak Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama periode 2014-2019, membuka sebuah jendela untuk kita, Generasi Nusantara, agar bisa memahami esensi pesantren secara lebih jernih dan merangkul. Salah satu tradisi yang kerap disalahpahami adalah “Ro’an”—sebuah istilah yang mungkin terdengar asing bagi sebagian kita, namun menjadi jantung dari pendidikan karakter di pesantren.

Secara harfiah, Ro’an adalah kerja bakti. Para santri, bersama-sama, membersihkan lingkungan asrama, merawat bangunan, atau bahkan terlibat dalam proses pembangunan fasilitas pondok. Dari luar, mungkin ada yang sinis dan melihatnya sebagai bentuk eksploitasi tenaga kerja di bawah umur. Namun, memandangnya sebatas itu adalah sebuah penyederhanaan yang berbahaya dan tidak adil.

Seperti yang dijelaskan oleh Lukman Hakim, Ro’an adalah bagian tak terpisahkan dari kurikulum tak tertulis di pesantren. Ini adalah laboratorium kehidupan di mana para santri belajar tentang nilai-nilai yang tidak akan mereka temukan di dalam kelas.

Pertama, Ro’an adalah pelajaran tentang tanggung jawab dan rasa memiliki. Ketika seorang santri ikut mengecor fondasi masjid atau mengecat dinding kamarnya, ia tidak sedang bekerja untuk sang Kiai. Ia sedang membangun rumahnya sendiri. Ikatan emosional ini menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian terhadap lingkungan tempat ia menimba ilmu. Ia belajar bahwa fasilitas yang ia nikmati adalah hasil jerih payah bersama, sehingga harus dijaga bersama pula.

Kedua, ini adalah sekolah kolaborasi dan solidaritas. Di era yang serba individualistis, Ro’an mengajarkan santri untuk bekerja dalam tim, menanggalkan ego, dan bahu-membahu mencapai tujuan bersama. Tidak ada senior atau junior; yang ada hanyalah santri yang sama-rata di hadapan seember adukan semen atau sapu lidi. Ini adalah implementasi nyata dari nilai gotong royong yang menjadi warisan luhur bangsa kita.

Ketiga, dan mungkin yang paling subtil, Ro’an adalah tentang keberkahan atau tabarrukan. Dalam tradisi pesantren, ada keyakinan mendalam bahwa setiap tetes keringat yang dikeluarkan untuk kemaslahatan bersama akan mendatangkan berkah dari Allah SWT, melalui wasilah doa sang Kiai. Ini bukan sekadar upah, tetapi sebuah investasi spiritual untuk masa depan mereka. Mereka belajar tentang keikhlasan, tentang memberi tanpa pamrih, sebuah pelajaran hidup yang harganya tak ternilai.

Melihat dinamika ini, Lukman Hakim Saifuddin memberikan sebuah perspektif yang sangat cerdas dan berwawasan mengenai peran negara. Menurutnya, pemerintah memang perlu hadir untuk membantu pesantren, misalnya dalam memastikan standar keamanan bangunan agar insiden seperti di Sidoarjo tidak terulang. Namun, bantuan tersebut harus dalam bentuk fasilitasi, bukan intervensi.

Pesantren memiliki independensi dan kemandirian yang telah teruji oleh zaman, jauh sebelum republik ini berdiri. Mengatur pesantren dengan kacamata yang sama seperti sekolah formal hanya akan mereduksi kekayaan dan keunikan sistem pendidikannya. Pendekatan yang dibutuhkan adalah afirmasi—keberpihakan yang tulus untuk mendukung tanpa harus mengontrol.

Bagi kita, Generasi Nusantara, memahami pesantren dengan cara pandang yang utuh seperti ini sangatlah penting. Di tengah derasnya arus informasi dan mudahnya kita menghakimi, mari kita Beranjak untuk melihat sebuah isu dari berbagai sisi. Pesantren bukanlah menara gading yang anti kritik, tetapi ia juga bukan entitas yang layak untuk terus-menerus dicurigai.

Di dalamnya, ada tradisi-tradisi luhur seperti Ro’an yang membentuk jutaan anak bangsa menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan peduli. Tugas kita adalah ikut menjaga nilai-nilai baik itu, sambil terus mendorong adanya perbaikan di sisi-sisi yang memang masih memerlukan penyempurnaan.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait