
Lapangan Monas pada Minggu (5/10) pagi menjadi saksi dari sebuah pemandangan yang tak biasa dan penuh makna. Di tengah perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gegap gempita, Presiden RI Prabowo Subianto tidak hanya hadir sebagai inspektur upacara, tetapi juga memberikan sebuah momen yang berhasil meruntuhkan sekat antara pemimpin dan rakyatnya.
Ini bukan tentang parade alutsista yang megah atau manuver jet tempur yang membelah langit Jakarta. Ini adalah tentang sebuah gestur sederhana namun sangat kuat: momen ketika Presiden Prabowo menyapa langsung lautan manusia yang memadati kawasan Monas dari atas sunroof mobil taktis (rantis) buatan dalam negeri, Pindad Maung.
Bagi Generasi Nusantara yang mungkin seringkali melihat pemimpin negara dari jauh atau di layar kaca, pemandangan ini adalah sebuah angin segar. Ini adalah simbol dari sebuah era baru kepemimpinan yang lebih merakyat, lebih mudah diakses, dan bangga dengan produk buatan bangsanya sendiri. Momen ini berhasil mengubah sebuah upacara militer yang formal menjadi sebuah pesta rakyat yang hangat dan penuh kebersamaan.
Pilihan kendaraan yang digunakan Presiden Prabowo bukanlah tanpa sebab. Menggunakan Maung, sebuah rantis yang dikembangkan dan diproduksi oleh PT Pindad, adalah sebuah pernyataan politik yang kuat. Di panggung sepenting HUT TNI, di mana mata seluruh bangsa tertuju, Prabowo secara tegas menunjukkan komitmen dan kebanggaannya pada industri pertahanan dalam negeri.
Namun, lebih dari itu, momen ketika ia memutuskan untuk berdiri dan keluar dari sunroof Maung adalah sebuah gestur simbolis. Dengan kemeja safari krem khasnya, ia tidak hanya melambaikan tangan, tetapi seolah ingin mengatakan, “Saya di sini bersama kalian.” Ia berkeliling menyapa warga yang telah rela datang sejak subuh, menciptakan koneksi personal yang melintasi barikade pengamanan.
Antusiasme publik pun tak terbendung. Sorak-sorai dan lambaian tangan dari ribuan warga yang hadir seolah menjadi jawaban atas sapaan hangat dari pemimpin mereka. Ini adalah sebuah interaksi dua arah yang jarang terjadi, sebuah adegan yang mencerminkan tema besar HUT TNI tahun ini: “TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju”.
Perayaan HUT ke-80 TNI tahun ini memang digelar dengan skala yang luar biasa besar. Melibatkan lebih dari 133.000 prajurit dan memamerkan lebih dari 1.000 unit alutsista canggih—mulai dari tank Leopard, MLRS Astros, hingga helikopter Apache—acara ini adalah sebuah unjuk kekuatan yang menggetarkan. Atraksi Jupiter Aerobatic Team yang menari-nari di langit Monas pun sukses membuat semua mata terpukau.
Namun, di tengah semua demonstrasi kekuatan militer itu, esensi dari “kemanunggalan TNI dengan rakyat” tidak hilang. Justru, ia semakin diperkuat. Kehadiran panggung hiburan, bazar UMKM, hingga doorprize sepeda motor dan televisi untuk masyarakat umum menjadi bukti bahwa perayaan ini bukan hanya milik tentara, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia.
Bagi kita, Generasi Nusantara, momen ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, tentang kebanggaan pada produk dalam negeri. Kedua, tentang pentingnya kedekatan antara pemimpin dan rakyatnya. Dan ketiga, tentang bagaimana sebuah acara formal kenegaraan bisa dirancang untuk menjadi inklusif dan merangkul semua kalangan.
Pemandangan Presiden Prabowo di atas Maung, tersenyum dan menyapa warganya, akan menjadi salah satu gambar ikonik dari perayaan HUT TNI tahun ini. Ini adalah sebuah pengingat bahwa kekuatan terbesar sebuah bangsa bukanlah terletak pada alutsistanya yang canggih, melainkan pada ikatan yang kuat antara pemimpin, tentaranya, dan rakyat yang dilindunginya. Mari kita Beranjak untuk terus merawat ikatan kebangsaan ini bersama-sama. Dirgahayu ke-80, Tentara Nasional Indonesia!









