
Banjir bandang di Aceh Tamiang kemarin bukan cuma ninggalin lumpur, tapi juga tanda tanya besar. Ribuan kayu gelondongan raksasa tiba-tiba muncul memenuhi aliran sungai, menghantam jembatan dan rumah warga. Pemandangan ini bikin kita merinding dan bertanya: “Ini murni bencana alam atau ada tangan jahil manusia di baliknya?”
Kecurigaan itu akhirnya terjawab. Bareskrim Polri melalui Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) resmi turun tangan! Mereka mencium aroma kuat adanya praktik Pembalakan Liar (Illegal Logging) dan pembukaan lahan (Land Clearing) ilegal di hulu sungai yang memperparah dampak bencana.
Yuk, kita bedah temuan polisi yang bikin geram ini!
Berdasarkan investigasi awal, kayu-kayu yang hanyut itu punya ciri-ciri yang mencurigakan. Direktur Tipidter Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Moh. Irhamni, mengungkapkan modus operandi yang diduga dilakukan oleh para perusak hutan.
Para pelaku menggunakan mekanisme “Panglong”. Caranya:
- Potong & Tumpuk: Kayu ditebang di hutan lindung, dipotong-potong, lalu ditumpuk di bantaran sungai.
- Tunggu Banjir: Saat air sungai naik, tumpukan kayu ini sengaja dihanyutkan agar terbawa arus layaknya rakit.
- Land Clearing: Untuk pembukaan lahan, kayu-kayu besar dipotong kecil-kecil agar mudah hanyut saat banjir datang.
“Penebangan di hutan lindung sepanjang Sungai Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang, mayoritas tidak berizin,” tegas Brigjen Irhamni.
Nggak main-main, Bareskrim bakal mengirimkan tim tambahan untuk menyisir hulu Sungai Tamiang. Fokusnya jelas: Mencari bukti aktivitas ilegal dan siapa dalangnya.
Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo juga sudah kasih ultimatum keras. Kalau ditemukan pelanggaran hukum, siapapun pelakunya bakal diproses tanpa ampun. Ini bukan cuma soal mencuri kayu, tapi soal nyawa warga yang terancam karena hutan gundul!
Sobat Beranjak, kejadian ini jadi tamparan keras buat kita. Banjir mungkin dipicu hujan, tapi dampaknya jadi berkali-kali lipat lebih parah karena ulah manusia yang serakah. Hutan yang harusnya jadi spons penahan air malah dibabat habis.
Sebagai generasi muda, kita wajib dukung pengusutan tuntas kasus ini. Jangan biarkan “Kayu Hantu” ini berlalu begitu saja tanpa ada yang bertanggung jawab.
Hutan lestari, bencana menepi. Hutan dibabat, kita yang tamat!









