
Coba bayangkan sebuah kehidupan di Jakarta di mana perjalanan dari tempat tidur ke meja kerja hanya butuh waktu lima menit naik lift. Bayangkan juga, untuk makan siang, meeting dengan klien, belanja bulanan, atau bahkan nonton film terbaru, kamu tidak perlu lagi menembus belantara kemacetan. Semuanya ada di dalam satu gedung atau satu kompleks yang sama.
Terdengar seperti utopia? Mungkin tidak lama lagi. Sekretaris Kabinet Pramono Anung baru-rata ini melemparkan sebuah gagasan visioner untuk masa depan Jakarta pasca-perpindahan ibu kota. Ia mendorong para pengembang dan pemerintah daerah untuk mengadopsi konsep bangunan multifungsi secara masif. Ini bukan sekadar wacana pembangunan, melainkan sebuah proposal radikal untuk mengubah gaya hidup, mengatasi masalah kronis, dan mendefinisikan ulang Jakarta sebagai kota bisnis global.
Ide di balik konsep multifungsi atau mixed-use ini sebenarnya sangat sederhana dan logis. Yaitu mengintegrasikan tiga fungsi utama kehidupan urban—hunian (apartemen), perkantoran (office), dan komersial (mal, restoran, hiburan)—ke dalam satu bangunan vertikal atau sebuah kawasan terpadu. Tujuannya jelas: memangkas pergerakan atau mobilitas manusia secara drastis.
Bagi kita yang setiap hari berjibaku dengan lalu lintas Jakarta, gagasan ini terdengar seperti angin surga. Pramono menyoroti bahwa salah satu akar masalah kemacetan adalah perencanaan kota yang terkotak-kotak, di mana zona pemukiman, perkantoran, dan pusat perbelanjaan saling berjauhan. Akibatnya, setiap pagi jutaan orang bergerak searah ke pusat kota, dan setiap sore mereka kembali bergerak ke arah sebaliknya, menciptakan “neraka” kemacetan yang kita kenal.
Dengan konsep multifungsi, siklus yang melelahkan dan tidak efisien ini bisa diputus. Jika kamu tinggal, bekerja, dan menikmati hiburan di lokasi yang sama, kebutuhan untuk menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum setiap hari akan berkurang drastis. Ini tidak hanya menghemat waktu dan uang, tetapi juga secara signifikan mengurangi jejak karbon dan tingkat stres.
Gagasan ini menjadi semakin relevan seiring dengan transisi Jakarta. Setelah tidak lagi menyandang status Ibu Kota Negara, Jakarta diproyeksikan untuk bertransformasi menjadi pusat bisnis dan keuangan berskala global, setara dengan New York, London, atau Singapura. Untuk mencapai level tersebut, Jakarta tidak bisa lagi mempertahankan infrastruktur dan tata kota yang sama.
Pramono memberikan contoh konkret saat memberikan kuliah umum di Universitas Padjadjaran. Ia mengkritik rencana pembangunan fasilitas publik yang hanya memiliki satu fungsi. “Di Blok S itu rencananya mau dibangun lapangan sepak bola. Saya bilang, sudah tidak bisa lagi seperti itu,” ujarnya. Ia mengusulkan solusi yang lebih cerdas: bangun lapangan sepak bola indoor, lantai 3 dan 4 dijadikan co-working space untuk anak muda, dan lantai 5 ke atas dibangun hunian vertikal.
Pendekatan ini menunjukkan pola pikir yang progresif: memaksimalkan setiap jengkal lahan yang berharga di Jakarta untuk berbagai fungsi, menciptakan ekosistem yang hidup 24 jam, dan yang terpenting, membuat kota ini lebih layak huni.
Bagi kita, Generasi Nusantara, konsep ini menawarkan sebuah gaya hidup yang jauh lebih seimbang dan berkelanjutan. Bayangkan work-life balance yang lebih baik karena waktu tempuh ke kantor terpangkas habis. Bayangkan lebih banyak waktu untuk keluarga, hobi, atau pengembangan diri. Konsep ini juga sangat sejalan dengan tren gig economy dan kerja fleksibel yang semakin digandrungi anak muda.
Tentu, tantangannya tidak sedikit. Mulai dari regulasi tata ruang yang harus adaptif, insentif bagi para pengembang, hingga memastikan harga hunian di gedung-gedung multifungsi ini tetap terjangkau. Namun, sebagai sebuah visi, gagasan ini layak untuk kita dukung dan kawal bersama. Ini adalah kesempatan untuk membangun Jakarta baru yang tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga manusiawi dan efisien bagi warganya. Sudah saatnya kita Beranjak dari model pembangunan yang usang dan merangkul masa depan kota yang lebih cerdas.









