
Sobat Berjangka, satu lagi nama dari panggung politik kini resmi menduduki posisi strategis di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah ini kembali memicu diskusi publik tentang peran politisi di perusahaan milik negara.
Menteri BUMN Erick Thohir secara resmi telah mengangkat Arief Poyuono, yang dikenal luas sebagai mantan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, menjadi Komisaris Independen di PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Pengangkatan ini berlaku efektif mulai hari ini, Senin (22/9/2025).
Arief Poyuono merupakan figur yang sudah lama malang melintang di dunia politik dan kerap menjadi komentator vokal terkait isu-isu nasional. Pengangkatannya menjadi bagian dari perubahan susunan dewan komisaris di Pelindo, salah satu BUMN terbesar yang mengelola pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia.
Keputusan ini menambah panjang daftar politisi atau figur yang memiliki afiliasi politik yang ditempatkan di jajaran dewan komisaris atau direksi BUMN. Fenomena ini secara konsisten menjadi sorotan publik.
Sebagai seorang komisaris, tugas utama Arief Poyuono adalah melakukan pengawasan terhadap kebijakan dan kinerja jajaran direksi Pelindo. Ia bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perusahaan dijalankan sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) dan mencapai target-target yang telah ditetapkan pemerintah.
Tantangan utama yang akan dihadapi antara lain:
- Profesionalisme: Publik akan mengawasi apakah penunjukan ini didasarkan pada kompetensi yang relevan dengan industri kepelabuhanan atau lebih karena kedekatan politik.
- Kinerja Pelindo: Ia masuk di saat Pelindo tengah melakukan berbagai transformasi besar pasca-merger. Pengawasan yang kuat dibutuhkan untuk memastikan semua berjalan lancar.
Sobat Berjangka, penunjukan ini adalah sebuah pengingat bagi kita tentang betapa eratnya hubungan antara dunia politik dan ekonomi di Indonesia. Di satu sisi, pemerintah berargumen bahwa figur berlatar politik dibutuhkan untuk menyelaraskan visi BUMN dengan arah kebijakan nasional. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa praktik semacam ini dapat mengganggu independensi dan profesionalisme BUMN.
Kini, bola ada di tangan Arief Poyuono untuk membuktikan kapasitasnya. Kinerjanyalah yang akan menjadi jawaban atas segala diskursus yang mengiringi pengangkatannya. Mari kita kawal bersama.









