
Lama tak terdengar kabarnya di kancah internasional pasca-purna tugas, Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), kembali mencuri perhatian dunia. Kali ini, beliau tampil di sebuah forum internasional bergengsi untuk membagikan kisah sukses perjalanan Indonesia selama satu dekade terakhir.
Penampilan ini bukan sekadar nostalgia, lho. Ini adalah momen flexing positif tentang bagaimana bangsa kita berhasil bertransformasi dari negara yang “biasa saja” menjadi kekuatan ekonomi baru yang diperhitungkan. Yuk, kita intip apa saja “oleh-oleh” cerita yang dibawa Pak Jokowi ke hadapan para pemimpin bisnis dunia!
Dalam pidatonya yang disampaikan dengan Bahasa Inggris, Jokowi menyoroti fondasi utama yang ia bangun selama 10 tahun: Infrastruktur.
Bagi Sobat Beranjak yang hobi traveling, pasti merasakan bedanya, kan? Dulu perjalanan antar-kota atau antar-pulau bisa memakan waktu seharian, sekarang jauh lebih singkat berkat jalan tol, bandara baru, dan pelabuhan yang lebih modern.
Jokowi menegaskan bahwa pembangunan ini tidak lagi Jawa-sentris, melainkan Indonesia-sentris. Tujuannya jelas: keadilan sosial. Ketika akses terbuka, ekonomi di daerah pelosok ikut bergerak. Ini bukan cuma soal beton dan aspal, tapi soal menyatukan ribuan pulau kita menjadi satu kesatuan ekonomi yang solid.
Nah, ini poin yang paling relate sama kehidupan sehari-hari kita. Jokowi dengan bangga memamerkan kemajuan ekonomi digital Indonesia. Salah satu bintang utamanya adalah QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Beliau menceritakan bagaimana teknologi ini bukan cuma milik startup unicorn atau mal mewah, tapi sudah merakyat sampai ke pedagang kaki lima (PKL) dan UMKM di desa-desa.
“Bayangkan, pedagang kecil di pasar tradisional sekarang transaksinya sudah cashless,” kira-kira begitu gambaran yang disampaikan. Bagi investor global, ini adalah sinyal kuat bahwa masyarakat Indonesia itu adaptif, melek teknologi, dan siap menyongsong masa depan ekonomi digital.
Poin penting lainnya adalah soal hilirisasi. Jokowi kembali menegaskan keberanian Indonesia untuk setop menjual bahan mentah (seperti nikel) secara murah ke luar negeri.
Strategi ini memang sempat bikin beberapa negara maju “gerah” dan menggugat kita di WTO. Tapi hasilnya? Nilai tambah komoditas kita melonjak berkali-kali lipat. Pabrik-pabrik pengolahan berdiri, lapangan kerja terbuka, dan kita pelan-pelan naik kelas dari negara pengekspor bahan mentah menjadi negara industri berbasis teknologi hijau (seperti baterai kendaraan listrik).
Ini adalah legacy keberanian yang harus kita jaga. Generasi Nusantara enggak boleh lagi mau didikte bangsa lain soal pengelolaan kekayaan alam sendiri.
Di akhir paparan, Jokowi mengingatkan bahwa capaian ini diraih di tengah gempuran krisis global—mulai dari pandemi COVID-19 hingga ketegangan geopolitik. Ekonomi Indonesia terbukti tangguh (resilient) dengan pertumbuhan yang stabil di atas 5%.
Pesan tersiratnya buat kita: Jangan minder! Indonesia punya modal kuat untuk menjadi negara maju. Fondasinya sudah ada, tinggal bagaimana kita, Generasi Nusantara, yang melanjutkannya.
Melihat mantan presiden kita berbicara dengan penuh percaya diri di forum dunia, rasanya ada kebanggaan tersendiri ya, Sobat Beranjak? Bahwa kerja keras bangsa ini selama 10 tahun terakhir ternyata dilihat dan diapresiasi oleh dunia.









