
Beberapa hari terakhir, media sosial kita diramaikan oleh sebuah isu panas: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dikabarkan menarik anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp71 triliun. Narasi ini berkembang liar, bahkan dibumbui dengan isu bahwa penarikan ini disebabkan oleh banyaknya kasus keracunan yang menimpa anak-anak.
Informasi ini sontak memicu kegaduhan dan berbagai spekulasi. Namun, setelah ditelusuri lebih dalam, kabar tersebut ternyata adalah hoaks atau informasi yang salah dan menyesatkan. Pernyataan Menkeu Purbaya telah dipelintir dari konteks aslinya untuk menciptakan persepsi negatif di tengah masyarakat.
Secara cerdas dan berwawasan, mari kita luruskan duduk perkaranya. Berdasarkan klarifikasi dari berbagai sumber kredibel, termasuk kantor berita Antara, Menkeu Purbaya tidak pernah menyatakan akan menarik atau menghentikan anggaran MBG secara sepihak.
Konteks pernyataan beliau yang sebenarnya adalah tentang optimalisasi penyerapan anggaran. Menkeu Purbaya memang sedang menyoroti kinerja penyerapan anggaran di beberapa kementerian dan lembaga, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN) yang bertanggung jawab atas program MBG.
Beliau memberikan sebuah “ultimatum” yang logis dalam manajemen anggaran: jika hingga akhir Oktober 2025 penyerapan anggaran MBG dinilai tidak maksimal atau berjalan lambat, maka sisa dana yang “menganggur” tersebut berpotensi untuk dialihkan ke program lain yang lebih siap dan membutuhkan. Opsi pengalihannya pun jelas, bisa untuk program bantuan pangan beras atau untuk mengurangi beban utang negara.
Jadi, kuncinya ada pada kata “jika tidak terserap”. Ini adalah sebuah mekanisme kontrol anggaran yang wajar, bukan sebuah keputusan untuk menghentikan program. Tujuannya adalah untuk memastikan setiap rupiah uang negara digunakan secara efektif dan tidak ada dana yang sia-sia.
Menanggapi isu ini, Kepala BGN, Dadan Hindayana, juga telah memberikan klarifikasi. Beliau optimistis bahwa anggaran MBG sebesar Rp71 triliun untuk tahun ini pasti akan terserap seluruhnya. “Saya enggak khawatir terkait dengan itu karena penyerapan kita, Insya Allah, akan selesai, apalagi Rp71 triliun tahun ini pasti terserap,” tegasnya.
Kasus hoaks ini lagi-lagi menjadi pelajaran berharga bagi kita, Generasi Nusantara. Di era banjir informasi, kemampuan untuk memfilter dan memverifikasi berita adalah sebuah keharusan.
- Jangan Telan Mentah-mentah: Ketika membaca judul berita yang bombastis atau provokatif, jangan langsung percaya dan menyebarkannya.
- Cari Konteksnya: Baca isi berita secara keseluruhan, jangan hanya judulnya. Cari juga berita pembanding dari media-media kredibel lainnya untuk mendapatkan gambaran yang utuh.
- Waspadai Akun Anonim: Informasi yang menyesatkan sering kali disebarkan oleh akun-akun media sosial yang tidak jelas identitasnya.
Isu mengenai program sebesar MBG memang sangat sensitif dan mudah sekali “digoreng” untuk kepentingan tertentu. Tugas kita adalah untuk tidak ikut-ikutan panik dan tidak menjadi bagian dari penyebar hoaks. Mari kita Beranjak menjadi pembaca yang kritis dan penyebar informasi yang bertanggung jawab.









