
Di tengah sorotan tajam dan keprihatinan publik yang meluas, Presiden Prabowo Subianto akhirnya angkat bicara mengenai kasus keracunan massal yang menodai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sesaat setelah mendarat di Tanah Air usai lawatan kerja ke luar negeri, Presiden memberikan pernyataan yang tegas namun menenangkan, menunjukkan bahwa pemerintah memandang isu ini dengan sangat serius.
Berbicara di Lanud Halim Perdanakusuma, Presiden Prabowo tidak menyangkal adanya masalah. Ia justru mengakuinya sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi. Namun, di balik pengakuan itu, tersirat sebuah optimisme dan janji bahwa negara tidak akan tinggal diam. “Saya yakin kita akan selesaikan dengan baik,” tegasnya, sebuah kalimat yang diharapkan dapat meredakan kecemasan para orang tua di seluruh Indonesia.
Sikap yang ditunjukkan oleh Presiden Prabowo patut diapresiasi. Alih-alih mencari kambing hitam atau mengeluarkan penyangkalan, ia secara terbuka mengakui bahwa program berskala raksasa seperti MBG, yang menjangkau jutaan anak di seluruh pelosok negeri, pasti memiliki kekurangan di tahap awal pelaksanaannya.
“Ini adalah program yang sangat besar, pasti ada kekurangan di awal,” ujar Presiden. Pernyataan ini menunjukkan sebuah pendekatan yang realistis dan kemauan untuk belajar dari kesalahan. Bagi kita, Generasi Nusantara, ini adalah contoh kepemimpinan yang transparan, yang tidak takut untuk mengakui adanya masalah sebagai langkah pertama untuk memperbaikinya.
Presiden juga mengingatkan kembali esensi dari program ini. Tujuannya sangat mulia: memastikan anak-anak Indonesia, terutama dari keluarga kurang mampu yang pilihan pangannya terbatas, mendapatkan asupan gizi yang layak untuk tumbuh kembang mereka. Niat baik inilah yang harus terus dikawal agar tidak dinodai oleh kelalaian dalam pelaksanaannya.
Sebagai bukti keseriusannya, Presiden Prabowo menyatakan akan segera memanggil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, untuk meminta laporan dan penjelasan lengkap. Ini adalah langkah konkret yang menunjukkan bahwa akan ada evaluasi langsung di tingkat tertinggi.
Di sisi lain, data dari lapangan memang sangat mengkhawatirkan. Hingga 25 September 2025, tercatat sudah ada 5.914 anak yang menjadi korban insiden keamanan pangan terkait program MBG. Salah satu kasus terparah terjadi di Bandung Barat, di mana lebih dari 1.000 siswa dari tingkat PAUD hingga SMA jatuh sakit, memaksa bupati setempat untuk menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Angka-angka ini bukanlah sekadar statistik. Ini adalah cerita tentang anak-anak yang seharusnya mendapatkan nutrisi, namun justru berakhir di ruang perawatan. Ini adalah tamparan keras bagi sistem pengawasan yang ada.
Sobat Beranjak, pernyataan Presiden Prabowo harus menjadi titik tolak untuk sebuah gerakan perbaikan yang masif dan sistematis. Ini bukan lagi waktunya untuk saling menyalahkan antara pemerintah pusat, daerah, dan para penyedia makanan. Ini adalah saatnya untuk berkolaborasi, memperketat standar, memperkuat pengawasan, dan memastikan setiap makanan yang sampai ke piring anak-anak Indonesia adalah makanan yang aman dan bergizi.
Mari kita terus awasi dan kawal janji Presiden ini. Pastikan bahwa pernyataannya bukan hanya menjadi penenang sesaat, tetapi benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata yang bisa kita rasakan dampaknya. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan anak-anak yang sehat, cerdas, dan terlindungi.









