Hampir Sebulan Berlalu, Aceh Belum Pulih! Tito Karnavian Turun Gunung: “Penanganan Harus Dipercepat!”

Sudah 26 hari berlalu sejak banjir bandang menerjang wilayah Aceh. Di kalender, itu hampir satu bulan penuh. Bagi kita yang menjalani hari-hari normal, waktu sebulan mungkin terasa cepat. Tapi bagi ribuan warga Aceh yang terdampak, 26 hari ini terasa seperti abad yang panjang penuh penderitaan.

Berita tentang banjir mungkin sudah mulai hilang dari headline media sosial, tertutup isu politik atau hiburan. Namun, fakta di lapangan berkata lain. Aceh belum baik-baik saja.

Pagi ini (23/12), Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian melihat langsung kondisi tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Kunjungan ini membuka mata banyak pihak bahwa fase pemulihan (recovery) ternyata berjalan lambat dan butuh atensi ekstra.

Alih-alih melihat pemukiman yang sudah bersih, Tito justru disuguhi pemandangan sisa bencana yang masih sangat kentara.

  • Endapan Lumpur: Rumah-rumah warga dan fasilitas umum masih tertimbun lumpur tebal yang mulai mengeras. Ini membuat proses pembersihan manual nyaris mustahil dilakukan dengan cepat.
  • Infrastruktur Rusak: Jalanan retak, jembatan belum berfungsi normal, dan puing-puing bangunan masih berserakan.
  • Pengungsi: Masih banyak warga yang bertahan di pengungsian atau menumpang di rumah kerabat karena rumah mereka belum layak huni.

Melihat realita pahit ini, Tito Karnavian langsung memberikan instruksi tegas. Ia menyadari bahwa pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendirian menghadapi kerusakan skala masif ini.

“Ini sudah 26 hari, tapi sisa dampaknya masih sangat terasa. Kita tidak bisa bekerja dengan ritme biasa. Semua pihak harus keroyokan, pusat akan bantu dorong percepatan rehabilitasi.”

Langkah konkret yang dijanjikan meliputi:

  1. Penambahan Alat Berat: Membersihkan lumpur padat butuh ekskavator dan truk angkut lebih banyak.
  2. Bantuan Logistik Lanjutan: Memastikan stok makanan dan kesehatan pengungsi tidak putus meski masa tanggap darurat awal sudah lewat.
  3. Percepatan Dana Perbaikan: Birokrasi pencairan dana bantuan stimulan rumah rusak akan dipangkas agar warga bisa segera membangun kembali atap mereka.

Sobat Beranjak, kunjungan Pak Tito ini adalah alarm bagi kita semua. Bencana itu bukan cuma saat air naik, tapi juga perjuangan berat untuk bangkit setelah air surut.

Trauma psikologis dan kelelahan fisik warga Aceh kini menjadi musuh utama. Mereka butuh kepastian, bukan sekadar janji manis. Kehadiran pemerintah pusat diharapkan menjadi “booster” agar mesin pemulihan bergerak lebih ngebut.

Mari kita terus kawal. Jangan biarkan saudara kita di Serambi Mekkah merasa berjuang sendirian di ujung barat Indonesia.

Aceh Kuat, Aceh Bangkit!

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait