‘DNA’ Gamelan Wajib ‘Go Digital’! Seruan Menbud: Ini Cara ‘Perang’ Lawan Kepunahan Budaya di Era AI & Spotify

Saat kita mendengar kata “musik tradisi”, apa yang terlintas di benak kita? Gamelan? Angklung? Sesuatu yang kita lihat di museum, di acara pernikahan orang tua, atau yang kita anggap ‘kuno’, ‘berat’, dan (mungkin) sedikit… membosankan?

Nah, ‘penyakit’ persepsi inilah yang sedang coba didobrak oleh pemerintah. Menteri Kebudayaan (Menbud) baru saja melempar ‘tantangan’ besar yang mendarat tepat di pangkuan kita, Generasi Nusantara. Beliau secara tegas mendorong agar musik tradisi kita ‘dihidupkan kembali’ dengan ‘bensin’ utama: inovasi digital.

Ini bukan lagi sekadar himbauan basa-basi, Sob. Ini adalah seruan ‘perang’ untuk menyelamatkan ‘DNA’ budaya kita dari kepunahan di tengah gempuran algoritma AI dan playlist global di Spotify.

Dalam keterangannya, Menbud menegaskan bahwa musik tradisi kita adalah ‘harta karun’ yang tak ternilai. Kita punya ratusan, bahkan ribuan, jenis alunan dan instrumen yang unik. Tapi ‘harta karun’ itu terancam akan terkubur selamanya jika kita hanya menyimpannya di dalam peti berdebu.

Musuh terbesarnya saat ini adalah: I relevansi.

Generasi kita (Nusantara) seringkali tidak merasa ‘nyambung’ lagi dengan musik-musik itu. Kita hidup di era digital; kita ‘berbahasa’ dengan beat, sampling, dan tren TikTok. Sementara musik tradisi kita masih diajarkan dengan cara ‘analog’ dan seringkali terkesan kaku.

“Kita tidak bisa lagi hanya ‘melestarikan’ dengan cara yang sama seperti 50 tahun lalu. Musik tradisi harus beradaptasi, berevolusi, dan berbicara dengan bahasa anak muda saat ini. Ia harus berinovasi, atau ia akan mati,” tegas Menbud.

Inilah bagian yang paling exciting dan paling ‘kita banget’. Seruan Menbud ini adalah ‘undangan’ terbuka bagi kita untuk ‘mengoprek’ warisan leluhur kita dengan ‘alat main’ yang kita kuasai.

Inovasi digital yang dimaksud bukan sekadar ‘merekam’ gamelan lalu di-upload ke YouTube. Ini jauh lebih dalam dan gokil:

  • Menjadi ‘Bumbu’ Musik Modern: Bayangkan sample pack suara Sasando, Sape’, atau Gamelan yang berkualitas tinggi, yang bisa dipakai oleh para produser EDM, Hip-Hop, dan Lo-Fi (seperti yang telah dirintis Alffy Rev atau Eka Gustiwana).
  • Menjadi Tren TikTok: Siapa yang bisa membuat challenge tarian baru dengan beat gendang Jaipong yang di-remix ulang menjadi sound yang ‘gahar’?
  • Arsip Digital & AI: Menggunakan AI untuk mempelajari pola-pola matematis yang rumit dari musik Gamelan, lalu menciptakan komposisi baru yang terinspirasi olehnya.
  • Aplikasi & Game Edukasi: Membuat game rhythm (seperti Guitar Hero atau Osu!) tapi menggunakan instrumen Angklung, Kolintang, atau Talempong digital.

Sobat Beranjak, seruan Menbud ini adalah sebuah ‘lampu hijau’. Ini adalah pengakuan resmi bahwa cara lama ‘melestarikan’ (yang kaku dan sakral) sudah tidak cukup.

Masa depan budaya kita kini ada di tangan kalian: para content creator, para music producer, para developer game, dan para TikTokers yang kreatif. Ini bukan lagi soal ‘kuno’ vs ‘modern’. Ini adalah tentang menyatukan keduanya. Menciptakan sebuah ‘rasa’ baru yang 100% Indonesia, tapi 100% relevan dengan zaman kita.

Tantangannya jelas: Mampukah kita, Generasi Nusantara, membuat Gamelan se-keren beat K-Pop dan membuat Angklung se-viral sound TikTok?

Mari kita Beranjak untuk menjawab tantangan ini! ‘Oprek’ warisanmu, ‘remix’ budayamu, dan buktikan bahwa musik tradisi kita terlalu ‘gahar’ untuk sekadar diam di dalam museum!

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait