
Perang yang berkecamuk di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina sepertinya belum juga menemukan titik terang. Terbaru, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menggebrak panggung diplomasi dunia dengan menyodorkan sebuah proposal perdamaian yang berisi 28 poin.
Tujuannya jelas: mengakhiri invasi Rusia yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun, respons yang muncul justru terbelah dua. Di satu sisi, Kremlin (Rusia) memberikan sinyal positif, sementara di sisi lain, Kyiv (Ukraina) menolaknya dengan tegas.
Apa sebenarnya isi proposal tersebut dan mengapa reaksi kedua negara begitu kontras? Yuk, kita bedah situasinya biar Sobat Beranjak nggak ketinggalan update geopolitik dunia!
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, secara terbuka menolak usulan yang diajukan oleh Presiden Trump. Dalam pidatonya kepada rakyat Ukraina pada Jumat (21/11/2025), Zelenskyy menyebut bahwa negaranya sedang berada di salah satu masa tersulit dalam sejarah.
Bagi Zelenskyy, proposal Trump ini berisiko besar. Salah satu kekhawatiran utamanya adalah usulan tersebut bisa membuat posisi Amerika Serikat terlihat lemah di mata dunia jika gagal menghentikan agresi Rusia sepenuhnya. Lebih dari itu, ia khawatir kesepakatan ini justru akan menguntungkan Rusia dalam jangka panjang.
“Saya bekerja tanpa henti agar kesepakatan final tidak mengkhianati kepentingan Ukraina,” tegas Zelenskyy. Ia juga memastikan akan segera mengajukan proposal alternatif (tandingan) yang lebih adil bagi kedaulatan negaranya.
Berbeda 180 derajat dengan Zelenskyy, Presiden Rusia Vladimir Putin justru menyambut baik inisiatif Trump. Dalam konferensi pers terbarunya, Putin menyatakan bahwa usulan tersebut bisa menjadi basis yang baik untuk memulai negosiasi damai.
“Kami siap melakukan pembicaraan damai berdasarkan draf tersebut,” ujar Putin. Namun, ia memberikan catatan penting: kesepakatan damai harus tetap memperhitungkan realitas di lapangan—alias wilayah-wilayah yang saat ini sudah diduduki oleh pasukan Rusia.
Sikap Putin ini sebenarnya tidak mengejutkan. Bagi Rusia, pembekuan konflik di garis depan saat ini (seperti yang sering diusulkan dalam wacana damai Trump) akan menguntungkan mereka karena secara de facto menguasai wilayah timur Ukraina.
Sejak kembali memimpin Gedung Putih, Presiden Trump memang gencar mendorong penyelesaian cepat untuk konflik ini. Janjinya saat kampanye untuk “mengakhiri perang dalam 24 jam” kini diuji realisasinya.
Trump tampaknya ingin mengurangi keterlibatan AS dalam konflik berkepanjangan di luar negeri. Namun, langkah ini dinilai banyak pengamat sebagai pedang bermata dua. Jika terlalu menekan Ukraina untuk menyerah pada tuntutan Rusia, AS bisa kehilangan kredibilitas sebagai pembela demokrasi. Sebaliknya, jika perang terus berlanjut, beban ekonomi dan risiko eskalasi global juga semakin besar.
Mungkin Sobat Beranjak bertanya, “Apa hubungannya perang di sana sama kita di Indonesia?”
Jawabannya: Banyak! Ketidakstabilan di Eropa Timur berdampak langsung pada harga energi (minyak & gas) dan pangan (gandum) dunia. Jika perang berlanjut, inflasi global bisa naik lagi, yang ujung-ujungnya bikin harga barang di sini ikutan mahal.
Sebaliknya, jika perdamaian tercapai (dengan cara apapun), pasar global kemungkinan akan lebih stabil, yang tentunya baik untuk ekonomi negara berkembang seperti Indonesia.
Drama proposal damai ini masih jauh dari kata selesai. Zelenskyy sedang menyusun rencana tandingan, Putin masih bertahan dengan syarat-syaratnya, dan Trump terus bermanuver di tengah keduanya.
Sebagai Generasi Nusantara yang peduli dunia, mari kita berharap solusi terbaik bisa segera ditemukan. Perdamaian yang sejati bukan sekadar berhenti menembak, tapi juga menghadirkan keadilan bagi para korban perang.









