
Bencana banjir bandang yang menerjang wilayah Sumatera belakangan ini menyisakan pemandangan yang bikin kita merinding. Bukan cuma air bah, tapi ribuan kayu gelondongan berukuran raksasa ikut hanyut menghantam pemukiman warga.
Banyak yang bertanya-tanya, “Ini murni bencana alam atau ada andil tangan jahil manusia?”
Menjawab rasa penasaran itu, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Herry Purnomo, angkat bicara. Analisis beliau menohok banget, Guys. Tumpukan kayu itu bukan sekadar sampah alam, tapi bukti nyata adanya aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab di hulu.
Yuk, kita bedah fakta ilmiahnya biar kita nggak gampang termakan narasi “ini cuma cobaan alam”!
Prof. Herry Purnomo mengajak kita untuk jeli melihat bukti fisik di lapangan. Ada perbedaan mencolok antara sisa pohon yang tumbang karena longsor alami dengan kayu hasil illegal logging atau pembukaan lahan.
Coba perhatikan ciri-ciri “sampah” kayu di lokasi bencana:
- Potongan Rapi: Jika itu longsor alami, biasanya pohon akan tumbang lengkap dengan akar-akarnya yang tercerabut. Tapi, yang banyak ditemukan adalah kayu gelondongan dengan bekas potongan gergaji (chainsaw) yang rapi di ujungnya.
- Tanpa Kulit & Ranting: Kayu yang hanyut seringkali sudah bersih dari ranting dan kulit, tanda bahwa kayu tersebut sudah diolah atau disiapkan untuk diangkut, tapi keburu tersapu air bah.
“Kalau longsor murni karena alam, pohon itu tumbang beserta akarnya. Tapi kalau kita lihat gelondongan kayu yang terpotong rapi, itu jelas ada intervensi manusia,” tegas Prof. Herry. Fix no debat, ini bukti ada aktivitas penebangan!
Kenapa sih kayu-kayu itu bisa turun gunung rame-rame? Jawabannya: Deforestasi.
Sobat Beranjak, hutan di hulu Sumatera banyak yang sudah beralih fungsi. Dari hutan lebat yang akarnya kuat mencengkeram tanah, berubah menjadi lahan pertanian, perkebunan sawit, atau pertambangan ilegal.
Ketika hujan ekstrem turun (seperti fenomena La Nina saat ini), tanah yang sudah gundul dan labil itu tidak kuat menahan air. Akibatnya:
- Tanah longsor membawa serta kayu-kayu sisa tebangan yang ditinggalkan begitu saja di hutan.
- Kayu-kayu ini berubah menjadi “rudal” yang menghancurkan rumah dan jembatan di hilir.
Analisis dari Guru Besar IPB ini adalah “tamparan keras” buat kita semua, terutama pemangku kebijakan. Kita nggak bisa terus-terusan menyalahkan curah hujan yang tinggi.
Prof. Herry menyarankan langkah konkret yang harus segera diambil:
- Audit Investigatif: Cek siapa pemilik izin lahan di hulu? Apakah ada pembalakan liar yang dibiarkan?
- Penegakan Hukum: Jangan cuma tangkap pelaku lapangan, tapi kejar aktor intelektual di balik perusakan hutan ini.
- Moratorium Penebangan: Setop dulu semua aktivitas penebangan di zona rawan bencana sampai kondisi membaik.
Bencana di Sumatera adalah alarm bahaya. Alam sudah mulai “menagih” haknya yang dirampas manusia. Sebagai generasi muda, yuk kita lebih aware dan vokal soal isu lingkungan. Jangan biarkan hutan kita habis dan menyisakan bencana buat anak cucu nanti.
Jaga hutan, sebelum hutan “menjaga” kita dengan caranya yang mengerikan.









