
Sebuah kolaborasi digital raksasa baru saja mengguncang lanskap keuangan syariah Indonesia. PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk secara resmi mengumumkan integrasi penuh layanan perbankannya ke dalam “SuperApp” baru yang diluncurkan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Ini bukan sekadar “kerja sama” biasa. Ini adalah langkah strategis BSI untuk “menanamkan mesin” keuangannya langsung ke jantung salah satu ekosistem komunitas terbesar dan tertua di dunia, membuka “jalan tol” eksklusif menuju jutaan anggota dan simpatisan Muhammadiyah.
Sobat Beranjak, mari kita bedah bersama mengapa berita yang diumumkan pada Selasa (18/11/2025) ini jauh lebih penting daripada sekadar penambahan fitur di aplikasi.
Bagi Generasi Nusantara, terutama yang “Cerdas & Berwawasan” dalam melihat tren bisnis, ini adalah sebuah studi kasus brilian tentang apa yang disebut “Embedded Finance” (Keuangan Tertanam).
Selama ini, jika Anda adalah bagian dari keluarga besar Muhammadiyah—mungkin sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah, dokter di Rumah Sakit PKU, guru di sekolah, atau anggota LazisMu—Anda mungkin harus “loncat-loncat” aplikasi. Bayar UKT pakai virtual account di satu aplikasi, lalu transfer donasi ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) lewat aplikasi mobile banking yang lain.
Nah, visi di balik SuperApp Muhammadiyah ini adalah menghapus semua kerumitan itu.
Secara teknis, BSI “menghubungkan” layanan intinya ke SuperApp Muhammadiyah melalui apa yang disebut API (Application Programming Interface).
Anggap saja API ini sebagai “juru masak” digital BSI. SuperApp Muhammadiyah (sebagai “restoran”) tidak perlu membangun dapurnya sendiri dari nol. Ia cukup “memanggil” juru masak BSI untuk menyediakan semua menu perbankan yang dibutuhkan—mulai dari transfer, pembayaran, pengecekan saldo, hingga pembukaan rekening—dan menyajikannya langsung di dalam SuperApp Muhammadiyah.
Hasilnya? Sebuah “seamless experience” (pengalaman yang mulus).
Bagi jutaan warga Muhammadiyah, ini adalah kemudahan luar biasa. SuperApp yang awalnya mungkin hanya untuk kartu anggota digital atau berita internal, kini berevolusi menjadi “pusat kendali” kehidupan finansial. Bayar tagihan listrik, beli pulsa, bayar SPP anak, sekaligus berinfak ke LazisMu, semua bisa dilakukan tanpa pernah meninggalkan aplikasi tersebut.
Sesuai dengan sudut pandang “Progresif dan Kritis” di rubrik TechBiz Beranjak, kita harus melihat “apa untungnya” bagi para pemain besar ini.
1. Kemenangan Bagi Muhammadiyah (Sang Pemilik Ekosistem): Muhammadiyah memiliki aset yang tak ternilai: puluhan juta anggota yang loyal dan ribuan “Amal Usaha” (sekolah, universitas, rumah sakit) yang tersebar di seluruh negeri. Dengan SuperApp ini, PP Muhammadiyah secara cerdas “mengikat” seluruh ekosistem ini dalam satu genggaman digital. Aplikasi ini menjadi lebih “lengket” (sticky) dan vital, memperkuat konsolidasi data dan tata kelola organisasi raksasa ini di era modern.
2. Kemenangan Besar Bagi BSI (Sang Penyedia Mesin): Bagi BSI, ini adalah jackpot akuisisi nasabah. Alih-alih menghabiskan triliunan rupiah untuk biaya iklan dan promosi demi menarik nasabah satu per satu, BSI kini mendapatkan “karpet merah” untuk menawarkan produknya kepada jutaan orang yang sudah “terkurasi” dalam ekosistem yang terpercaya. Ini adalah strategi B2B2C (Business-to-Business-to-Consumer) yang sangat efisien dan presisi.
3. Kemenangan Bagi Ekonomi Syariah Nasional: Inilah dampak makronya. Kolaborasi ini adalah “bensin” roket untuk akselerasi inklusi keuangan syariah. Ini adalah cara paling efektif untuk “menjebol” tembok keraguan dan memberikan akses perbankan syariah modern kepada segmen pasar yang selama ini mungkin belum tersentuh optimal, termasuk Generasi Z dan Milenial di lingkungan Muhammadiyah.
Langkah BSI dan Muhammadiyah ini adalah penegasan kuat bahwa masa depan perbankan bukanlah tentang “siapa yang memiliki aplikasi terbaik”, melainkan “siapa yang bisa masuk ke ekosistem komunitas terbesar”.
Bank tidak lagi bisa menunggu nasabah datang. Bank harus “hadir” di tempat nasabah berkumpul—baik itu di aplikasi e-commerce, media sosial, atau, seperti dalam kasus ini, di SuperApp organisasi kemasyarakatan.
Kita di “Beranjak” melihat ini sebagai sebuah langkah “Optimistis”. Ini adalah bukti bahwa raksasa “analog” seperti Muhammadiyah mampu beradaptasi secara “Progresif” di era digital, dan raksasa digital seperti BSI cukup “Cerdas” untuk melihat peluang kolaborasi.
Ini adalah cetak biru bagaimana seharusnya ekonomi syariah digital Indonesia dibangun: bukan dengan kompetisi yang saling mematikan, tetapi dengan “Kolaborasi” yang menggerakkan seluruh ekosistem.









