Bertemu Prabowo, Raja Yordania Kutuk Keras Serangan di SMAN 72 Jakarta

Duka mendalam atas tragedi ledakan yang baru saja mengguncang SMAN 72 Jakarta tidak hanya menyelimuti tanah air. Kabar pilu yang mencabik rasa kemanusiaan ini telah melintasi benua dan menjadi sorotan di panggung diplomasi tertinggi.

Dalam sebuah momen krusial di tengah pertemuan bilateral di Amman, Raja Yordania, Abdullah II, secara pribadi dan tegas menyampaikan kutukan kerasnya atas serangan biadab tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. Ini adalah sebuah pesan solidaritas global yang sangat kuat, yang menunjukkan bahwa dunia berdiri bersama Indonesia dalam menghadapi tragedi ini.

Momen ini terjadi saat Presiden Prabowo sedang dalam lawatan kenegaraan untuk membahas isu-isu global, termasuk perdamaian Gaza. Namun, tragedi di Jakarta menjadi agenda tak terduga yang mewarnai pertemuan dua pemimpin yang dikenal memiliki hubungan personal sangat erat ini.

Menurut rilis resmi, Raja Abdullah II membuka pembicaraannya dengan Presiden Prabowo dengan terlebih dahulu menyampaikan belasungkawa terdalamnya atas nama rakyat Yordania atas apa yang terjadi di SMAN 72 Jakarta.

Raja Abdullah, yang merupakan salah satu pemimpin paling vokal dalam isu perdamaian dan dialog antar-agama, dilaporkan sangat terguncang mendengar bahwa target dari serangan tersebut adalah sebuah institusi pendidikan. Beliau menyebut tindakan tersebut sebagai “serangan pengecut yang tak bisa ditoleransi oleh akal sehat dan nilai kemanusiaan manapun.”

Bagi Yordania, dan bagi Raja Abdullah secara pribadi, menyerang anak-anak dan sekolah adalah garis merah yang telah dilanggar. Kutukan keras ini adalah sinyal bahwa tindakan terorisme, dalam bentuk apa pun dan dengan alasan apa pun, adalah musuh bersama umat manusia.

Sobat Beranjak, kutukan dari seorang pemimpin sekaliber Raja Abdullah II ini memiliki makna yang sangat dalam bagi Indonesia, lebih dari sekadar basa-basi diplomatik.

  1. Solidaritas Global Melawan Teror: Ini menegaskan bahwa dunia internasional bersatu dengan Indonesia dalam melawan ancaman kekerasan ekstrem. Tragedi di SMAN 72 bukan lagi hanya duka Jakarta, tapi duka kemanusiaan global.
  2. Sentuhan Personal Persahabatan: Kita tahu Presiden Prabowo dan Raja Abdullah II memiliki ikatan “lebih dari mitra”—mereka adalah sahabat lama. Kutukan ini disampaikan bukan hanya sebagai Kepala Negara, tetapi sebagai seorang sahabat kepada sahabatnya yang negaranya sedang terluka. Ini adalah simpati yang tulus dan personal.
  3. Menegaskan Indonesia di Panggung Dunia: Momen ini, meskipun lahir dari duka, menunjukkan posisi penting Indonesia di mata dunia. Apa yang terjadi di Jakarta mendapat perhatian serius dari para pemimpin global.

Di saat para pemimpin dunia menyampaikan solidaritasnya, kita di dalam negeri justru harus semakin merapatkan barisan. Tragedi di SMAN 72 Jakarta adalah sebuah ‘alarm’ darurat. Sebuah pengingat yang sangat menyakitkan bahwa ada ‘musuh dalam selimut’ yang ingin melihat kita terpecah belah dan hidup dalam ketakutan.

Saat ini, doa dan dukungan terkuat harus kita arahkan kepada para korban, keluarga mereka, dan seluruh civitas akademika SMAN 72 Jakarta. Kita harus tunjukkan pada pelaku teror bahwa tindakan biadab mereka tidak akan pernah menang. Mereka tidak akan pernah bisa menghancurkan semangat dan persatuan kita.

Mari kita Beranjak untuk bersama-sama mendoakan para korban, dan yang lebih penting, menjadi generasi yang tak pernah lelah merawat kewarasan, menebarkan perdamaian, dan melawan segala bentuk kebencian dan ekstremisme di lingkungan kita masing-masing. Indonesia kuat, kita kuat.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait