Alarm Bahaya dari Riau: Virus “Pembunuh Senyap” Renggut 3 Nyawa Anak Gajah dalam 7 Bulan

Kabar duka kembali menyelimuti dunia konservasi kita. Belum kering air mata kita melepas kepergian anak gajah “Tari” pada September lalu, kini alam Riau kembali menangis. Seekor anak gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang lucu dan menggemaskan bernama Laila, dilaporkan mati di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Kematian Laila bukan sekadar angka statistik. Ia menambah daftar panjang tragedi yang menimpa satwa kebanggaan Nusantara ini. Tercatat, dalam kurun waktu tujuh bulan terakhir (Mei–November 2025), sudah tiga anak gajah yang harus meregang nyawa di tanah Riau.

Ada apa sebenarnya dengan habitat mereka? Mengapa anak-anak gajah ini begitu rentan? Yuk, kita simak kronologinya agar kita lebih peduli.

Laila adalah gajah betina mungil berusia 1 tahun 6 bulan. Ia lahir pada 6 April 2024 dari pasangan induk gajah binaan bernama Puja dan pejantan liar bernama Sarma. Bagi para mahout (pawang) dan tim medis di PKG Sebanga, Laila adalah harapan baru bagi populasi gajah yang kian kritis.

Namun, takdir berkata lain. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, mengungkapkan bahwa tanda-tanda penurunan kesehatan Laila mulai terlihat sejak Kamis (20/11/2025). Laila yang biasanya lincah, mendadak terlihat lesu dan kurang aktif, meski nafsu makannya saat itu masih baik.

Drama memilukan terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari (22/11/2025). Laila sempat terdengar menjerit kesakitan beberapa kali. Tim medis berjuang keras memberikan infus dan obat-obatan, bahkan Laila sempat bangkit untuk menyusu pada induknya. Namun, pada pukul 05.30 WIB pagi, Laila ditemukan sudah terbaring kaku dan dinyatakan mati.

Sobat Beranjak, kematian Laila diduga kuat disebabkan oleh EEHV (Elephant Endotheliotropic Herpesvirus). Virus ini dikenal sebagai “pembunuh senyap” yang sangat mematikan, terutama bagi anak gajah di bawah usia 10 tahun.

Kasus serupa juga menimpa Tari, anak gajah di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang mati pada 10 September 2025 lalu dengan gejala perut kembung dan kematian mendadak.

EEHV menyerang organ dalam dan menyebabkan pendarahan hebat. Yang mengerikan, virus ini bekerja sangat cepat. Seringkali, anak gajah yang terlihat sehat di pagi hari bisa kolaps dan mati hanya dalam hitungan jam. Hingga saat ini, vaksin yang efektif untuk virus ini masih terus dikembangkan dan menjadi tantangan besar bagi dunia kedokteran hewan global.

Selain ancaman virus, kita tidak bisa menutup mata pada kondisi lingkungan tempat mereka tinggal. Data menunjukkan bahwa habitat gajah di Riau, seperti Taman Nasional Tesso Nilo, terus mengalami tekanan hebat akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit ilegal dan permukiman.

Hilangnya hutan berarti hilangnya “apotek alam” bagi gajah. Di habitat aslinya, gajah memiliki insting untuk memakan tumbuhan tertentu guna menjaga imunitas tubuhnya. Ketika hutan menyempit, gajah makin stres, imunitas turun, dan virus seperti EEHV makin mudah menyerang.

Kematian tiga anak gajah dalam tujuh bulan adalah “tamparan keras” bagi kita semua. Ini adalah sinyal bahwa upaya konservasi tidak bisa hanya dikerjakan oleh pemerintah atau BBKSDA saja.

Sebagai Generasi Nusantara, kita bisa ambil bagian:

  1. Suarakan Isu Konservasi: Jangan biarkan berita ini tenggelam. Share kisah Laila dan Tari agar lebih banyak orang sadar bahwa gajah kita sedang not fine.
  2. Dukung Ekowisata: Jika berkunjung ke Riau atau Lampung, dukung pusat konservasi yang etis. Pemasukan dari sana membantu biaya pakan dan obat-obatan gajah.
  3. Jaga Hutan: Ini yang paling fundamental. Setop dukung produk yang merusak hutan habitat gajah.

Selamat jalan, Laila. Semoga kematianmu menjadi pengingat bagi kami manusia untuk lebih serius menjaga rumahmu.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait