
Ada malam-malam tertentu di sebuah festival musik yang akan terus dikenang dan diceritakan kembali dari tahun ke tahun. Penampilan duo “biang kerok” Dongker dan Jason Ranti di Synchronize Fest 2025 pada Sabtu (4/10) malam kemarin adalah salah satunya. Kata ‘kacau’ atau ‘chaos’ mungkin terdengar negatif, namun apa yang terjadi di panggung malam itu adalah sebuah kekacauan yang indah, sebuah ledakan energi kolektif yang justru menjadi esensi sejati dari sebuah pertunjukan musik punk dan folk yang jujur.
Momen ketika puluhan, bahkan mungkin ratusan, penonton nekat merangsek naik ke atas panggung, bernyanyi, dan berjingkrak bersama idola mereka bukanlah sebuah kerusuhan. Sebaliknya, itu adalah sebuah perayaan, sebuah momen langka di mana batas antara artis dan penggemar melebur menjadi satu. Panggung megah itu seolah berubah menjadi sebuah panggung rakyat, sebuah ruang di mana semua orang bebas berekspresi tanpa sekat.
Bagi kita, Generasi Nusantara, yang merindukan pertunjukan musik yang otentik dan penuh adrenalin, malam itu adalah jawabannya. Ini adalah pengingat bahwa musik, pada hakikatnya, adalah tentang kebersamaan dan katarsis emosional.
Semua “kekacauan” ini dimulai saat unit punk rock asal Bandung, Dongker, mengambil alih panggung. Sejak lagu pertama dimainkan, energi mereka yang mentah dan tanpa basa-basi langsung menyambar ribuan penonton yang memadati area pertunjukan. Moshing pit langsung terbentuk, dan adrenalin di udara terasa begitu kental.
Puncaknya terjadi saat sang vokalis, dengan semangat yang membara, seolah memberikan “izin” tak resmi bagi para penonton untuk meluapkan energi mereka lebih jauh lagi. Satu per satu, para penonton yang paling berani mulai memanjat barikade dan berlari ke atas panggung. Alih-alih menghentikan pertunjukan, para personel Dongker justru menyambut mereka dengan tangan terbuka. Panggung pun berubah menjadi lautan manusia yang bernyanyi bersama, sebuah pemandangan yang liar sekaligus mengharukan.
Setelah energi penonton dipompa hingga ke level tertinggi oleh Dongker, giliran sang musisi folk eksentrik, Jason Ranti, yang naik panggung. Pria yang akrab disapa Jeje ini seolah melanjutkan “misa” yang sudah dimulai. Dengan lirik-liriknya yang puitis, jenaka, namun penuh kritik sosial, Jeje mengajak para penonton untuk kembali merayakan kebebasan.
Melihat panggung yang sudah “dikuasai” oleh para penggemarnya, Jeje tidak tampak terganggu sedikit pun. Ia justru terlihat menikmati interaksi yang begitu dekat dan personal. Ia membiarkan para penonton bernyanyi bersamanya di satu mikrofon, memeluk mereka, dan menjadikan “invasi” panggung itu sebagai bagian tak terpisahkan dari pertunjukannya. Momen ini mengukuhkan statusnya sebagai salah satu penampil live paling karismatik dan tak terduga di kancah musik independen Indonesia.
Tentu, aksi nekat penonton naik ke panggung ini memicu perdebatan, terutama di kalangan penyelenggara acara dan para profesional di industri musik. Dari sudut pandang keamanan dan manajemen panggung, apa yang terjadi malam itu adalah sebuah mimpi buruk. Ada risiko kerusakan alat, cedera, dan hal-hal tak diinginkan lainnya.
Namun, dari sudut pandang budaya musik punk dan folk akar rumput, ini adalah ekspresi tertinggi dari sebuah koneksi. Ini adalah bentuk apresiasi paling jujur dari penggemar kepada musisi yang mereka anggap sebagai representasi suara mereka. Sulit untuk membayangkan skenario serupa terjadi di konser musik pop yang lebih ‘steril’.
Sobat Beranjak, terlepas dari perdebatan yang ada, “kekacauan” di panggung Dongker dan Jason Ranti pada Synchronize Fest 2025 akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu momen paling ikonik. Ini adalah sebuah anomali yang indah, sebuah pengingat bahwa di tengah industri musik yang semakin komersial, semangat kebersamaan dan ekspresi yang liar dan jujur tidak akan pernah padam.
Malam itu, kita semua diingatkan kembali bahwa esensi dari sebuah konser bukanlah tentang seberapa megah panggungnya atau seberapa sempurna suaranya. Ini adalah tentang energi yang tercipta saat ribuan orang dengan semangat yang sama berkumpul di satu tempat, menyanyikan lagu yang sama, dan merasakan emosi yang sama. Dan malam itu, Dongker dan Jason Ranti berhasil menjadi dirigen dari sebuah orkestra emosi yang paling merdu sekaligus paling kacau. Salut!









