‘Rangga & Cinta’: Saat Nostalgia AADC Diperas Hingga Kering di Movieverse yang Ambisius

Mari kita jujur satu sama lain. Saat mendengar judul Rangga & Cinta, ada sebagian dari diri kita—generasi yang tumbuh besar bersama lirik puitis dan tatapan ikonik Dian Sastro—yang langsung merasakan getaran nostalgia. Harapan pun membuncah. Mungkinkah ini menjadi penawar rindu yang selama ini kita pendam? Namun, setelah dua jam duduk di bioskop, pertanyaan yang muncul justru berbeda: Apakah kita benar-benar membutuhkan film ini?

Rangga & Cinta, film terbaru yang mencoba memperluas jagat sinematik (atau movieverse) dari Ada Apa Dengan Cinta?, adalah sebuah eksperimen yang sangat berani sekaligus sangat berisiko. Film ini tidak lagi berpusat pada geng Cinta yang kita kenal, melainkan melompat ke masa depan, fokus pada kehidupan Rangga (diperankan kembali dengan karisma oleh Nicholas Saputra) dan putrinya, Aurora (diperankan oleh pendatang baru, Beby Tsabina), yang beranjak remaja di New York.

Konfliknya sederhana: Aurora, yang mewarisi darah puitis dan sifat pemberontak ayahnya, mulai mempertanyakan ketiadaan sosok ibu dalam hidupnya. Pertanyaan ini memicu Rangga untuk akhirnya kembali ke Indonesia, membuka kembali kotak pandora masa lalunya dan, tentu saja, bertemu kembali dengan Cinta (Dian Sastrowardoyo).

Ide untuk mengeksplorasi warisan luka dan cinta dari AADC ke generasi berikutnya sebenarnya sangat brilian. Ini adalah premis yang matang, yang menjanjikan sebuah drama keluarga yang mendalam dengan latar belakang salah satu kisah cinta paling ikonik di sinema Indonesia. Sayangnya, eksekusi film ini terasa goyah, seolah bingung memilih antara menjadi sebuah drama introspektif tentang seorang ayah dan anak atau menjadi sebuah film reuni yang memuaskan dahaga para penggemar.

Hasilnya adalah sebuah film yang tanggung. Di satu sisi, penampilan Nicholas Saputra sebagai Rangga versi ayah yang lebih dewasa, canggung, dan penuh penyesalan patut diacungi jempol. Ia berhasil menunjukkan kerapuhan di balik sosok dingin yang selama ini kita kenal. Interaksinya dengan Beby Tsabina, yang juga tampil meyakinkan sebagai remaja yang cerdas dan kritis, menjadi jantung emosional dari film ini. Momen-momen canggung mereka di apartemen Brooklyn terasa otentik dan menyentuh.

Namun, begitu plot bergeser ke Indonesia, film ini seakan kehilangan fokus. Adegan reuni antara Rangga dan Cinta, yang seharusnya menjadi puncak dari penantian 20 tahun, terasa antiklimaks. Dialog-dialog puitis yang dulu terasa magis, kini terdengar sedikit klise dan kurang bertenaga. Chemistry antara Nicholas dan Dian memang tak pernah padam, namun naskah film ini tidak memberikan mereka ruang yang cukup untuk benar-benar meledak.

Masalah terbesar dari Rangga & Cinta adalah bebannya sebagai bagian dari warisan AADC. Film ini terlalu sering bersandar pada nostalgia, dengan menyisipkan banyak sekali referensi dan easter egg dari film pertamanya. Bagi penggemar berat, ini mungkin menyenangkan. Namun, bagi penonton baru atau mereka yang mencari sebuah cerita yang utuh, ini justru terasa seperti beban yang menghambat laju film.

Pada akhirnya, Rangga & Cinta adalah sebuah film dengan niat baik yang dieksekusi dengan kurang maksimal. Ia memiliki hati, terutama dalam hubungan ayah-anak antara Rangga dan Aurora. Ia juga memiliki momen-momen indah yang akan membuat para penggemar AADC tersenyum. Namun, sebagai sebuah kesatuan, film ini terasa seperti sebuah bab tambahan yang tidak benar-benar esensial.

Jika kamu adalah penggemar berat AADC yang rindu setengah mati dengan tatapan Rangga dan senyum Cinta, film ini mungkin bisa memberikan sedikit kepuasan, meski jangan berharap terlalu tinggi. Namun, jika kamu mencari sebuah drama romantis yang segar dengan cerita yang kuat dan menghentak, mungkin kamu akan sedikit kecewa.

Saran dari kami: tontonlah dengan ekspektasi yang terkendali. Nikmati penampilan solid dari Nicholas Saputra dan Beby Tsabina, dan anggaplah ini sebagai sebuah fan service berdurasi panjang. Karena pada akhirnya, sama seperti puisi Rangga kepada Cinta, film ini meninggalkan kita dengan satu pertanyaan besar yang belum sepenuhnya terjawab: “…jadi, beda satu purnama di New York dan Jakarta?”. Mungkin, memang sebaiknya beberapa pertanyaan dibiarkan tetap menjadi misteri.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait