
Sebuah unggahan jujur dan kocak baru saja datang dari salah satu ikon komedi Generasi Nusantara, Desta Mahendra. Jauh dari gimmick atau konten program TV, Desta membagikan momen refleksi diri yang sureal: ia tiba-tiba “terkejut” saat berkaca karena merasa wajahnya sangat mirip dengan legenda komedi terbesar Indonesia, mendiang Dono Warkop DKI. Sontak, unggahan “krisis identitas” ringan ini meledak di media sosial, menjadi jembatan nostalgia instan yang menghubungkan dua era komedi Tanah Air.
Dalam galeri foto yang beredar, kita bisa melihat Desta sedang menatap refleksi dirinya di cermin. Bukan dengan tatapan keren ala cover majalah, melainkan dengan ekspresi bingung, polos, dan mungkin sedikit lelah—sebuah potret yang sangat relatable bagi kita semua.
Di situlah “pencerahan” itu datang.
Desta menuliskan kegelisahan kocaknya dalam sebuah takarir (caption) yang langsung viral: “Lagi ngaca.. kok gue tiba-tiba merasa mirip mendiang Dono Warkop ya?”
Ia bahkan melengkapinya dengan foto perbandingan close-up wajahnya dan wajah almarhum Dono, seakan meminta konfirmasi dari publik. “Gue kok jadi gini ya?!” tulisnya lagi, menyiratkan kepanikan yang jenaka.
Bagi kita, Generasi Nusantara, mengapa unggahan sederhana ini terasa begitu “kena” dan langsung memicu ribuan tawa dan komentar?
Jawabannya ada pada nilai “Merangkul”. Ini adalah “persilangan semesta” (crossover) yang tidak pernah kita bayangkan.
Di satu sisi, kita punya Desta Mahendra. Ia adalah representasi komedi modern. Bersama Vindes dan Tonight Show, ia adalah “Raja Receh” bagi Generasi Z dan Milenial. Humornya cepat, absurd, dan sangat relevan dengan dinamika kita saat ini.
Di sisi lain, kita punya Dono Warkop DKI. Ia adalah fondasi, pilar, dan legenda abadi komedi Indonesia. Bersama Kasino dan Indro, Warkop DKI adalah “kitab suci” humor bagi Generasi X dan Milenial awal. Dan yang luar biasa, film-film mereka secara “Progresif” terus “hidup”, ditonton ulang, dan lucunya tetap relevan bagi Generasi Z hingga hari ini.
Ketika Desta—ikon komedi modern—tiba-tiba “bertransformasi” menjadi Dono—ikon komedi klasik—itu adalah sebuah momen nostalgia kolektif. Media sosial pun langsung “Kolaboratif” merespons.
Komentar-komentar netizen tak kalah lucu. Banyak yang setuju bahwa ada “aura” Dono yang terpancar, terutama di bagian struktur wajah dan ekspresi bingungnya. Banyak pula yang tertawa, membayangkan jika Desta tiba-tiba mulai bertingkah seperti almarhum Dono.
Unggahan Desta ini, meski niatnya hanya bercanda, secara tidak langsung menjadi sebuah “penghargaan” (tribute) yang indah untuk Warkop DKI.
Ini adalah bukti “Optimistis” bahwa warisan para legenda tidak pernah benar-benar padam. Mereka tidak hanya hidup dalam karya-karya abadi, tapi juga dalam gestur, celetukan, dan kini—bahkan dalam refleksi wajah para penerusnya.
Desta, yang di eranya sendiri telah menjadi komedian besar, seakan “diingatkan” oleh cermin bahwa ia adalah bagian dari garis keturunan panjang komedi hebat di Indonesia. Bahwa ia dan komedian modern lainnya, berdiri di atas “pundak” para raksasa seperti Dono, Kasino, dan Indro.
Momen “krisis identitas” kocak ini adalah pengingat yang hangat bagi kita semua. Bahwa di antara dua generasi komedi yang mungkin terlihat berbeda, ada benang merah tawa yang sama-sama menyatukan Indonesia.
Kita mungkin kaget melihat Dono di wajah Desta. Tapi kita semua tersenyum. Dan siapa tahu, 30 tahun dari sekarang, akan ada komedian muda baru yang berkaca dan kaget karena merasa mirip Desta Mahendra. Siklus regenerasi tawa ini akan terus “Beranjak”.









