
sebuah kabar serius datang dari aktris sekaligus pengusaha Zaskia Adya Mecca. Melalui unggahan di media sosialnya, istri dari sutradara Hanung Bramantyo ini mengabarkan bahwa pelaku kekerasan yang menyerang karyawannya telah berhasil diamankan oleh pihak kepolisian. Namun, Zaskia menegaskan bahwa ini bukanlah akhir dari masalah. Ia mengambil sikap tegas untuk menolak jalur damai dan akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas di ranah hukum.
Sikap ini diambil bukan karena dendam, melainkan karena dampak dari peristiwa kekerasan tersebut ternyata jauh lebih dalam dan meluas dari yang terlihat. Insiden ini tidak hanya meninggalkan luka fisik pada sang karyawan, tetapi juga goresan trauma mendalam bagi putrinya yang menyaksikan langsung kejadian brutal tersebut.
Karyawan Zaskia yang diketahui bernama Faisal menjadi korban pemukulan beberapa waktu lalu. Tak tinggal diam, Zaskia dan Hanung segera melaporkan kejadian tersebut dan aktif berkoordinasi dengan pihak berwajib. Upaya ini membuahkan hasil; pelaku berhasil ditemukan dan kini tengah menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut.
Meskipun keluarga pelaku telah mengulurkan tangan untuk meminta maaf dan menyatakan akan bersikap kooperatif, Zaskia membuat sebuah batasan yang jelas. Secara pribadi, ia mengaku telah memaafkan. Namun, sebagai warga negara yang percaya pada supremasi hukum dan tanggung jawab sosial, ia merasa proses peradilan harus tetap berjalan.
“Memaafkan itu urusan personal antara saya dengan Tuhan, tapi keadilan harus ditegakkan,” ujarnya, menyiratkan bahwa tindak kekerasan bukanlah perkara sepele yang bisa diselesaikan hanya dengan permintaan maaf. Ini adalah pesan kuat bagi publik, Sobat Beranjak, bahwa ada perbuatan yang memiliki konsekuensi hukum dan sosial yang harus dipertanggungjawabkan secara serius. Sikap Zaskia ini menjadi contoh bagaimana seorang figur publik dapat menggunakan pengaruhnya untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya tidak menoleransi kekerasan dalam bentuk apa pun.
Hal yang membuat kasus ini semakin memilukan adalah dampak psikologis yang dialami oleh putri Zaskia, Kala. Gadis kecil itu secara tidak sengaja menjadi saksi mata saat Faisal, karyawan kepercayaan keluarganya, diserang. Peristiwa itu terjadi tepat ketika Kala sedang diantar ke sekolah, meninggalkan jejak ketakutan dan trauma yang mendalam.
Sebagai seorang ibu, Zaskia melihat luka tak kasat mata pada anaknya ini sebagai sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan. Ia pun mengambil langkah sigap dan bertanggung jawab dengan memutuskan untuk membawa Kala menemui psikolog. Baginya, memulihkan kesehatan mental sang anak adalah prioritas utama.
Kejadian ini menjadi pengingat pahit bahwa korban kekerasan bukan hanya mereka yang menerima pukulan fisik. Anak-anak, sebagai peniru ulung dan pribadi yang sensitif, bisa menderita luka batin jangka panjang saat terekspos pada tindakan agresi. Apa yang dilakukan Zaskia adalah langkah tepat yang patut diapresiasi, yakni memvalidasi perasaan anak dan segera mencari bantuan profesional.
Di tengah situasi yang sulit, Zaskia Adya Mecca menunjukkan potret seorang pemimpin dan pelindung. Ia tidak hanya berdiri di belakang karyawannya untuk menuntut keadilan, tetapi juga sigap melindungi kesehatan mental keluarganya. Bersama Hanung Bramantyo, ia berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam mengawal kasus ini.
Kisah ini lebih dari sekadar berita hiburan. Ia adalah sebuah pelajaran tentang empati, tanggung jawab, dan keberanian untuk mengambil sikap. Zaskia mengajarkan kita bahwa kekerasan, sekecil apa pun, akan selalu meninggalkan jejak kerusakan yang luas. Dan cara terbaik untuk melawannya adalah dengan memastikan bahwa hukum bekerja sebagaimana mestinya, memberikan efek jera bagi pelaku dan rasa keadilan bagi korban. Mari kita berharap Faisal segera pulih dan Kala dapat melalui masa sulit ini dengan baik.









