Duka Olla Ramlan dan Kaca Benggala untuk Netizen: Di Mana Empati Kita Saat Seseorang Berduka?

Di tengah lautan notifikasi media sosial yang tak pernah berhenti, ada sebuah pengingat pahit tentang sisi gelap dari jempol-jempol kita. Aktris dan presenter Olla Ramlan, yang baru saja kehilangan sosok paling berharga dalam hidupnya, sang ibunda, Hj. Pissa Assarah, harus menelan pil pahit tambahan. Di saat hatinya remuk redam oleh duka, ia justru diserbu oleh komentar-komentar miring dari warganet yang seolah tak punya hati.

Pemandangan ini lebih dari sekadar gosip selebriti. Ini adalah sebuah kaca benggala raksasa yang memantulkan wajah kita sebagai masyarakat digital. Ini adalah pertanyaan fundamental tentang di mana letak empati kita. Apakah di era anonimitas internet ini, kita telah kehilangan kemampuan dasar untuk menghormati seseorang yang sedang berduka?

Kepergian seorang ibu adalah pukulan telak bagi siapa pun. Bagi Olla, sang ibu adalah segalanya—benteng pertahanan, tempat berkeluh kesah, dan satu-satunya orang yang tahu setiap perih yang ia hadapi sebagai seorang ibu tunggal dengan tiga anak. Kita melihat bagaimana ia begitu terpukul, bahkan sampai jatuh pingsan di pemakaman. Duka itu begitu nyata dan kasat mata.

Namun, di saat yang bersamaan, sebagian netizen justru sibuk menjadi hakim. Mereka mengomentari segala hal, mulai dari penampilan Olla, profesinya, hingga mengait-ngaitkan duka ini dengan hal-hal yang sama sekali tidak relevan. Komentar-komentar inilah yang membuat Olla akhirnya angkat bicara, bukan dengan sensasi, tetapi dengan sebuah jeritan hati.

“Yang saya sakit adalah, ya saya enggak berisik ya, tapi lucunya banyak komentar-komentar lucu di netizen gitu dan bisa ngarah ke sini, ngarah ke sini, gitu. Padahal ini kan hidup saya. Saya yang sakit,” ucap Olla dengan nada getir.

Secara merangkul dan penuh empati, kalimat sederhana itu seharusnya cukup untuk menampar kita semua. Di balik persona seorang artis yang kuat dan tegar, ada seorang anak yang baru saja kehilangan ibunya. Ada seorang manusia yang sedang merasakan sakit yang teramat dalam. Dan di saat seperti itu, yang ia butuhkan bukanlah penghakiman, melainkan penghiburan atau, jika tidak bisa, setidaknya diam yang terhormat.

Meskipun geram, Olla memilih untuk tidak meladeni para penghujatnya satu per satu. Ia mengambil jalan yang lebih bijaksana, dengan memberikan sebuah pesan universal yang menohok. “Segala hujatan, cacian, makian, akan berbalik juga ke kalian,” pungkasnya.

Ini bukan sekadar kutukan, tetapi sebuah pengingat tentang hukum tabur-tuai. Setiap kata yang kita ketik di kolom komentar memiliki energi. Energi negatif yang kita lontarkan kepada orang lain, apalagi kepada seseorang yang sedang berduka, pada akhirnya akan kembali dan menggerogoti kedamaian hati kita sendiri.

Bagi kita, Generasi Nusantara, ini adalah momen untuk introspeksi. Kebebasan berpendapat di media sosial bukanlah lisensi untuk menjadi tidak beradab. Ada etika tak tertulis yang harus kita junjung tinggi, dan salah satunya adalah berempati pada penderitaan orang lain.

Mari kita Beranjak untuk menjadi warganet yang lebih bijaksana. Sebelum jari ini mengetik sebuah komentar, mari kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah komentar ini akan membangun? Apakah komentar ini akan menyakiti? Dan jika saya berada di posisinya, apakah saya ingin membaca komentar seperti ini?”

Mari kita gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, dukungan, dan energi positif. Karena di dunia yang sudah cukup keras ini, hal terakhir yang kita butuhkan adalah tambahan kebencian dari balik layar. Untuk Olla Ramlan dan semua orang yang sedang berduka di luar sana, semoga kalian diberikan kekuatan dan ketabahan. Dan untuk para penebar kebencian, semoga kalian segera menemukan kedamaian dalam hati.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait