
Di dunia yang serba visual ini, penampilan seringkali menjadi meteran pertama dalam menilai seseorang, tak terkecuali bagi para ibu. Aktris dan pengusaha sukses, Felicya Angelista, baru-baru ini menjadi sorotan setelah secara terbuka membagikan perjalanannya melakukan prosedur sedot lemak non-bedah (LAMS). Hasilnya? Dua liter lemak berhasil dihempaskan dari tubuhnya, membuatnya tampak lebih langsing dan percaya diri.
Reaksi publik pun beragam. Banyak yang memuji keberanian dan kejujurannya, namun tak sedikit pula yang melontarkan komentar sinis, seolah-olah pilihannya untuk “memperbaiki” tubuh adalah sebuah tanda ketidakbersyukuran. Fenomena ini sekali lagi membuka sebuah diskusi penting: perlukah kita menghakimi pilihan seorang ibu untuk kembali merasa nyaman dan bahagia dengan tubuhnya sendiri pasca-melahirkan?
Secara cerdas dan berwawasan, kita perlu melihat keputusan Felicya ini lebih dari sekadar urusan “ingin kurus”. Ini adalah sebuah perjalanan emosional yang dialami oleh banyak ibu di luar sana. Felicya, yang telah melahirkan dua anak, mengaku bahwa meskipun ia sudah rajin berolahraga dan menjaga pola makan, ada bagian-bagian lemak membandel—terutama di area perut, lengan, dan ketiak—yang membuatnya merasa minder dan tidak percaya diri.
“Aku merasa insecure,” begitu pengakuannya. Sebuah perasaan yang sangat manusiawi dan mungkin dirasakan oleh jutaan ibu lainnya yang melihat perubahan drastis pada tubuh mereka setelah mengandung dan melahirkan. Perjuangan mengembalikan bentuk tubuh ideal pasca-persalinan bukanlah hal yang mudah. Ada faktor hormonal, metabolisme yang melambat, dan tentu saja, waktu dan energi yang tersita untuk mengurus sang buah hati.
Keputusan Felicya untuk menempuh jalur LAMS, setelah melakukan riset mendalam, adalah sebuah pilihan sadar. Ini bukan jalan pintas karena malas, melainkan sebuah solusi yang ia pilih untuk mengatasi rasa insecure-nya, untuk kembali “memiliki” tubuhnya. Menariknya, prosedur yang berlangsung selama 7 jam dengan bius lokal ini ia lalui sambil bersantai menonton drama Korea—sebuah gambaran betapa teknologi medis modern telah membuat banyak hal menjadi lebih nyaman.
Di tengah masa pemulihannya, ada sebuah cerita lucu namun menyentuh dari kedua anaknya, Bible dan Zefanya. Melihat sang ibu yang sering memakai baju tanpa lengan (karena area ketiak dan lengan masih dalam masa pemulihan dan terasa perih jika terkena kain), mereka dengan polosnya bertanya, “Ma, kenapa pakai baju ketek terus sih? Nanti masuk angin, Ma.”
Dialog sederhana ini, secara merangkul dan penuh empati, justru menyingkap esensi dari semuanya. Pada akhirnya, bagi seorang anak, yang terpenting bukanlah lingkar pinggang ibunya, melainkan kehadiran dan kebahagiaan sang ibu itu sendiri. Dan jika dengan merasa lebih percaya diri Felicya bisa menjadi ibu yang lebih bahagia dan versi terbaik dari dirinya, mengapa kita harus mempermasalahkannya?
Kebahagiaan seorang ibu adalah fondasi dari kebahagiaan sebuah keluarga. Sudah saatnya kita sebagai masyarakat berhenti membebani para ibu dengan standar kecantikan yang tidak realistis. Perut yang sedikit berlipat, stretch marks di beberapa bagian tubuh—itu semua adalah lencana kehormatan, bukti dari perjuangan luar biasa dalam memberikan kehidupan baru.
Namun, jika seorang ibu memutuskan untuk “memperbaiki” lencana-lencana itu demi kebahagiaan dan rasa percaya dirinya, itu adalah haknya sepenuhnya. Itu bukanlah sebuah tanda ia tidak bangga menjadi seorang ibu. Justru sebaliknya, itu adalah tanda bahwa ia ingin merawat dirinya sendiri agar bisa menjadi ibu yang lebih baik lagi.
Bagi kita, Generasi Nusantara, kisah Felicya Angelista adalah sebuah pelajaran tentang menghargai pilihan orang lain, terutama pilihan seorang perempuan dan seorang ibu. Mari kita Beranjak dari budaya menghakimi. Mari kita bangun sebuah lingkungan di mana para ibu merasa didukung, bukan dihakimi, dalam setiap fase perjalanan hidup mereka. Karena setiap ibu, dengan atau tanpa dua liter lemak di tubuhnya, berhak untuk merasa cantik, percaya diri, dan bahagia.









