
Ada kabar yang begitu menghangatkan hati datang dari salah satu sutradara terbaik Indonesia, Hanung Bramantyo. Setelah sukses membuat penonton dewasa deg-degan dengan film-film seperti “Ipar Adalah Maut”, Hanung kini banting setir ke sebuah proyek yang sangat personal dan menyentuh: me-remake film legendaris asal Iran, “Children of Heaven”.
Apa yang membuat proyek ini begitu istimewa? Jawabannya ternyata sangat personal dan bisa jadi dirasakan juga oleh banyak orang tua di antara kita. Dalam sebuah acara syukuran di Jakarta, Hanung mengungkapkan kerinduannya untuk bisa membuat sebuah karya yang bisa ia saksikan bersama anak-anaknya di bioskop. Sebuah keinginan sederhana namun begitu mendalam dari seorang ayah.
“Saya kepingin banget di gala premier ngajak anak-anak saya nonton. Tapi yang terjadi cuma istri saya doang yang bisa nonton karena filmnya 17 tahun ke atas,” curhat suami Zaskia Adya Mecca ini. “Ya masa anak saya mau nonton ‘Ipar Adalah Maut’, kan nggak mungkin,” selorohnya.
Keinginan ini seakan mendapat jawaban dari semesta ketika produser MD Pictures, Manoj Punjabi, datang dengan tawaran yang tak terduga. Tawaran untuk menghidupkan kembali “Children of Heaven” ini bahkan datang bertepatan dengan bulan ulang tahun Hanung, membuatnya terasa seperti sebuah kado yang sangat istimewa.
Keputusan untuk membuat ulang film ikonik ini ternyata juga didasari oleh momen emosional yang dialami oleh sang produser, Manoj Punjabi. Ia mengaku awalnya sempat ragu untuk menggarap proyek ini. Namun, semua keraguan itu sirna setelah ia menonton film aslinya bersama keluarganya.
“Awalnya jujur, saya ragu ya. Wah, setelah 30 menit, itu megang. Ya istri saya nangis, anak saya terharu,” kenang Manoj. Momen haru bersama keluarga itulah yang membuatnya 100% yakin. Baginya, ini adalah sebuah “petunjuk dari Tuhan” untuk kembali memproduksi tontonan keluarga yang berkualitas dan sarat akan nilai-nilai kemanusiaan.
Bagi yang mungkin belum familiar, “Children of Heaven” adalah sebuah mahakarya sinema Iran rilisan tahun 1997. Film ini bercerita tentang perjuangan kakak-beradik dari keluarga miskin, Ali dan Zahra. Kisahnya dimulai ketika Ali secara tidak sengaja menghilangkan sepatu satu-satunya milik Zahra.
Karena takut membebani orang tua mereka yang sudah hidup susah, keduanya memutuskan untuk merahasiakan insiden ini. Solusi yang mereka temukan begitu polos dan menyentuh: mereka bergantian memakai sepatu lusuh milik Ali untuk pergi ke sekolah. Perjuangan mereka untuk berbagi sepatu inilah yang menjadi jantung dari film ini, menggambarkan potret kemiskinan, pengorbanan, dan kekuatan cinta keluarga dengan cara yang begitu jujur dan universal.
Dengan Hanung Bramantyo di kursi sutradara, remake “Children of Heaven” diharapkan tidak hanya menjadi sebuah nostalgia, tetapi juga menjadi “wajah baru film Indonesia”. Sebuah penanda bahwa sinema kita mampu menghasilkan tontonan berkualitas yang bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
Bagi kita, Generasi Nusantara, proyek ini adalah angin segar. Di tengah gempuran film-film dengan rating dewasa, kehadiran sebuah film yang mengangkat nilai-nilai universal seperti kasih sayang dan perjuangan adalah sesuatu yang patut kita nantikan. Mari kita tunggu bersama bagaimana Hanung Bramantyo akan menerjemahkan keajaiban “Children of Heaven” ke dalam konteks Indonesia. Siap-siap tisu, ya!









